Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Siapa Dia?


__ADS_3

Arin kini berada di dalam taksi online menuju rumah. Sepanjang perjalanan dia melamun dan selalu teringat perkataan kyai Rahman. Arin diingatkan agar lebih mendekatkan diri pada Allah, lebih banyak beribadah agar terhindar dari marabahaya termasuk sang suami yang juga harus memperkuat iman.


Sepertinya kertas kecil tadi memang sebuah bentuk kemusyrikan Amel, Arin yakin itu ilmu pelet untuk Arya suaminya. Karena memang terkadang tatapan Arya terlihat kosong seperti orang linglung dan Arin melihat perubahan sikap Arya yang tiba-tiba.


Memang sudah beberapa hari terakhir mas Arya seperti enggan melakukan shalat, padahal itu wajib dan tiang agama. Apakah aku harus membujuknya dan menasehatinya? Tapi, entah mengapa mas Arya sekarang lebih keras hatinya, apakah aku bisa? Batin Arin.


Tiba-tiba Bu Nadia menelpon, wanita itu segera mengangkat telepon dari ibu mertuanya.


"Assalamu'alaikum Mah…," ucap Arin.


"Wa'alaikumsalam, kamu dimana Rin? Mamah merasa pusing, kamu bisa kan ke rumah Mamah sekarang?" Tanya Bu Nadia.


"Mamah sakit? Yaudah Arin ke rumah Mamah sekarang," ucap Arin yang panik.


Taksi online itu pun pergi menuju rumah Nadia, Arin sempat berbicara dengan supir taksi itu untuk mengubah tempat tujuan di aplikasi. Memang sedikit ribet, tapi Arin yang sedang panik, dia tak mungkin mencari taksi lain dan turun begitu saja bahkan dia belum sampai di rumahnya.


***


Arin kini berada di kamar Bu Nadia. Bu Nadia yang terlihat pucat sedang berbaring diranjang. Arin dengan sabar merawat wanita yang dianggapnya ibu sendiri, memijatnya, menemaninya, menyuapinya.


"Arin, Mamah sayang banget sama kamu. Maafkan Mamah yang tidak bisa melarang hubungan Arya dan Amel. Mamah juga baru tahu," ucap Bu Nadia. Rasa bersalah bersemayam dihati Nadia, tapi dia juga tak bisa menjauhkan Amel dari hidupnya sekarang. Karena ada Cila yang kini terasa berarti bagi Nadia. Rasa sayangnya pada Cila seperti pada cucu sendiri, dia tidak mau berpisah dengan balita cantik itu. Dia pun harus mencari kebenaran siapa Cila sebenarnya.


"Gapapa Mah, ini bukan salah Mamah. Ini salah aku yang memang tidak bisa menjadi istri sempurna untuk mas Arya," jawab Arin.


"Bukan salah kamu Rin, anak memang titipan dari Allah. Kita hanya perlu berusaha dan berdoa. Mamah doakan semoga kamu cepet hamil, dan Arya akan kembali seperti dulu," ucap Nadia.

__ADS_1


Aku tahu Mah, ini bukan masalah anak aja. Tapi sikap aku juga yang membuat aku kehilangan mas Arya, batin Arin.


Nadia akhirnya tidur, Arin berniat menginap untuk menemani ibu mertuanya. Dia yakin kalau Arya mengizinkannya, dia juga tahu kalau pelakor dirumahnya akan semakin senang ditinggalkan Arin. Tapi wanita itu tidak punya pilihan, dia mengkhawatirkan Nadia.


Saat Arin berniat keluar kamar, dia sempat melihat figura foto yang menarik perhatiannya. Disana ada foto bu Nadia waktu muda dan dua anak lelaki di depannya, disampingnya pun ada almarhum ayah mertuanya.


Apa Mas Arya punya saudara? Kok selama ini aku tidak pernah tahu, batin Arin.


Saat mata Arin beralih ke foto sebelahnya, dia terkejut melihat foto lelaki yang sama persis dengan foto lelaki yang ada di dompet Arin.


"Siapa sebenarnya lelaki ini? Apa hubungannya dengan Amel dan juga keluarga Mamah, sebaiknya aku menanyakan hal ini pada Mamah besok saat beliau sudah membaik," gumam Amel.


Arin mencoba menelpon suaminya karena pesannya tadi siang tak kunjung dibalas.


"Kenapa pesanku gak dibalas Mas? Aku bolehkan menginap di rumah mamah? Kamu gak menjenguk mamah?" Tanya Arin.


"Boleh, mas izinkan kamu menginap disana, mas gak masalah kok, disini kan ada Amel, besok sepulang kerja mas akan jenguk mamah. Tolong sampaikan pesan aku ya dek, semoga mamah cepat sembuh," jawab Arya.


Arin merasa terluka disaat suaminya bersikap seolah-olah tidak membutuhkannya lagi. Tapi Arin tahu kalau sekarang Arya sedang dalam pengaruh ilmu jahat. Arin harus menepis rasa itu.


"Iya Mas nanti aku sampaikan," ucap Arin.


Tut


Telepon itu tiba-tiba dimatikan oleh Arya. Lagi-lagi Arin harus mengelus dadanya, mencoba sabar akan ujian rumah tangganya ini. Di titik ini Arin merasa jika dia perlu perjuangan untuk mempertahankan rumah tangganya, untuk mengembalikan kebahagiaannya.

__ADS_1


***


Pagi-pagi sekali Arin sudah menyiapkan bubur untuk Nadia. Mertuanya itu masih lemas, Nadia memiliki riwayat darah rendah, tapi hanya dengan beristirahat dan minum obat dia akan sembuh. Itu membuat Arin tidak terlalu khawatir.


Arin pun menemani Nadia berjemur dipagi hari, saat itu mereka membicarakan almarhum ayah Arya sewaktu masih hidup.


"Mah, apa mas Arya punya saudara?" Tanya Arin.


Deg


Nadia sedikit kaget dengan pertanyaan Arin, memang Nadia maupun Arya tidak pernah memberitahukan tentang Faisal sang anak sulung yang sekarang ada diluar kota.


"Emm… ada, Arya punya kakak. Tapi berada diluar kota dan jarang pulang saking sibuknya. Bahkan selama kamu mengenal Arya, belum pernah bertemu dengan Faisal kan? Ah… Mamah juga merindukannya," jawab Nadia sambil menatap langit. Seakan menahan air mata yang akan terjatuh.


"Apa Mas Faisal sudah berkeluarga?" Tanya Arin. Dia penasaran dengan hubungan Faisal dan Amel.


"Sudah, tapi memang belum diberi rezeki seorang anak. Faisal dan istrinya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Istrinya juga seorang wanita karir," jawab Nadia.


"Kalau dengan Amel, apakah Mamah mengenal Amel sebelumnya?' tanya Arin.


Deg


Raut wajah Nadia sedikit berubah, dia seperti memalingkan wajahnya dari Arin. Membuat Arin curiga dengan perubahan sikap ibu mertuanya ini. Sambil menunggu jawaban dari Nadia, Arin menerka-nerka dalam hatinya. Dia begitu penasaran dengan hubungan mereka.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2