Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Fakta Mencengangkan


__ADS_3

(Ini aku Amel, tolong angkat sebentar telepon dariku..! Aku ingin membicarakan hal penting dan jangan sampai siapapun tahu kalau aku menghubungimu!)


Deg


"Apa benar ini nomor Amel? Kenapa dia malah menghubungiku?" Gumam Arin pelan.


Arin mulai fokus, dia berpikir untuk merahasiakan tentang Amel terlebih dahulu. Apalagi dia belum tahu apa yang wanita itu inginkan dalam kehidupannya.


(Aku juga perlu bicara denganmu, aku akan menelponmu sekarang.) Arin


Wanita itu menunggu sampai pesan itu dibaca oleh Amel, setelah itu dia pun langsung menelpon madunya yang sekarang entah dimana keberadaannya.


"Apa kabar Rin?" Tanya Amel.


"Hmm, baik. Kenapa kamu melarikan diri? Dimana kamu sekarang?" Tanya Arin.


"Aku hanya ingin memberi pelajaran saja pada lelaki itu," jawab Amel.


"Siapa maksud kamu? Mas Arya?" Tanya Arin bingung.


"Bukan, aku akan menjelaskan sesuatu padamu Rin. Sebenarnya aku tidak menikah dengan suamimu. Aku juga masih punya perasaan dan tidak mau mempunyai gelar pelakor. Maafkan aku Rin, aku hanya memanfaatkan Arya saja untuk masuk ke keluarga Bu Nadia dan mencari tahu tentang Fadil," jawab Amel.


"Sebentar, aku benar-benar tidak mengerti. Tidak menikah bagaimana sih? Lalu selama ini bukannya Mas Arya juga pernah menginap di rumah kamu ya?" Tanya Arin.


"Aku tahu kamu pasti tidak akan mudah percaya padaku. Begini, aku tidak pernah menikah siri dengan Arya, aku hanya membuat dia menuruti apa yang aku mau untuk masuk ke keluarga bu Nadia. Aku sama sekali tidak pernah tidur dengan suamimu, jadi kamu tenang aja Rin," jawab Amel.

__ADS_1


"Disatu sisi aku bersyukur karena tidak jadi memiliki adik madu. Tapi, apa tujuan kamu sebenarnya dan kenapa kamu sekarang melarikan diri?" Tanya Arin penasaran.


Amel pun menceritakan semuanya, semua perlakuan Fadil dan Nadia di masa lalu yang membuatnya sakit hati bahkan menderita. Disaat teman sebayanya bersenang-senang dan semangat mengejar cita-cita. Amel malah harus menanggung aib sendirian, karena Fadil malah pergi dan tidak jadi menikahinya padahal ada janin yang tumbuh di rahimnya.


Disaat dia mengetahui kalau Fadil hidup bahagia, mempunyai istri, usaha yang sukses, kuliahnya pun sampai S3. Dadanya begitu sesak, kenapa hanya dia saja yang harus menderita?


Maka dari itu sekarang dia ingin membuat Fadil merasakan kesengsaraan karena tak bisa bertemu dengan anak kandungnya. Tak bisa mendengar kata ayah dari mulut Cila. Apa itu kejam? Menurut Amel itu adalah resiko yang harus Fadil terima karena dari awal keluarga mereka tidak mau menerima kehadirannya dan juga Cila.


Arin mendengarkan semua cerita Amel tanpa menyela, dia mendengar Amel yang bercerita bahkan sambil menangis. Hati Arin juga merasa terluka, sebagai sesama wanita… dia merasakan hal yang sama. Membayangkan jika dia ada diposisi Amel. Dibuang, dihina dan tak pernah dianggap. Fadil benar-benar orang yang paling dibenci Amel saat ini karena lelaki itu yang menghancurkan hidup Amel dan berbahagia diatas penderitaannya.


"Saba ya Mel, aku tahu kalau kamu selama ini pasti menderita. Aku memang sempat membencimu karena merebut mas Arya. Tapi… sudahlah, aku akan memaafkanmu karena kamu memang tidak menikah dengan suamiku," ucap Arin.


"Makasih Rin, aku hanya ingin kamu dan Arya tidak perlu memikirkan bagaimana nasibku dan Cila. Bagaimanapun kami itu bukan tanggung jawab Arya. Aku tidak pernah menikah dengannya, sekali lagi maafkan aku," ucap Amel.


"Iya makasih Rin, makasih karena kamu sudah mau memaafkan aku, hiks …," ucap Amel disertai Isak tangis.


***


Arin kini membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Ternyata dia salah menilai orang, bukan Amel lah pelakor dalam hidupnya. Dia terlalu fokus pada Amel padahal di sekeliling Arya banyak wanita penggoda yang sebenarnya, Arin merasa kecolongan.


"Padahal aku sudah tidak pernah mengupload tentang kehidupanku, tapi sepertinya para wanita gatal di sosmed terlanjur mengetahui kalau suamiku itu tipe romantis dan idaman para wanita," gumam Arin pelan.


Wanita itu bangkit lalu mandi dan berniat menyiapkan makanan untuk menyambut suaminya, dia tidak mau gegabah. Dia akan membicarakan masalahnya dengan menggunakan kepala dingin.


Meski hatinya masih kesal dan cemburu, dia tidak boleh berubah menjadi istri yang menyebalkan. Dia tidak mau kalau Arya semakin tidak nyaman dengannya.

__ADS_1


***


Saat sore datang, Arya membawa makanan kesukaan Arin. Itu salah satu usahanya untuk mencairkan suasana dan mendapatkan maaf dari istrinya.


"Maaf…," ucap Arin dan Arya bersamaan.


Lalu mereka tertawa bersama, Arin menerima makanan yang dibawa suaminya dengan senyuman hangat. Begitu pula Arya yang langsung makan dengan lahapnya.


"Maaf Mas karena tadi aku emosi. Aku percaya kok sama kamu Mas, aku berharap kamu akan selalu bisa menolak wanita lain yang mendekatimu..!" Ucap Arin.


"Iya Dek. Mas akan berusaha menjadi suami terbaik. Tapi untuk masalah Amel, Mas juga benar-benar tidak paham. Bahkan dia pergi begitu saja, apa dengan tidak memberinya nafkah itu malah lebih baik ya Dek, Mas bisa bercerai dengannya?" Tanya Arya.


"Mas kan gak punya nomor rekeningnya, jadi bukan salah Mas juga. Tak usah memikirkan Amel lagi Mas..! dia pasti punya alasan yang kuat sampai pergi ke luar kota, dia pasti baik-baik saja jika itu memang sudah direncanakannya dengan matang," jawab Arin.


"Tapi Mas merasa menjadi lelaki yang tidak bertanggung jawab, menjadi suami yang zalim," ucap Arya menunduk.


"Amel kan bukan istri Mas, jadi gak akan ada kata zalim maupun dosa," jawab Arin dengan santai. Dia lupa kalau itu harus dirahasiakan dulu.


"Maksud kamu apa Dek?" Tanya Arya bingung.


Deg


Arin kaget, dia baru sadar dengan apa yang diucapkannya. Dia kini bingung sendiri harus beralasan apa, dia bukanlah tipe wanita yang pandai berbohong.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2