Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Arin Akan Bertahan


__ADS_3

Bu Nadia gagal berbicara dengan menantu kesayangannya itu. Pintu kamarnya dikunci dari dalam, beberapa kali Bu Nadia mengetuk pintu pun tapi tidak ada suara dari dalam.


"Maafin Mamah Rin, Mamah juga terpaksa," gumamnya pelan. Wanita itu pun meninggalkan kamar Arin. Berjalan melewati anak dan menantu barunya, Nadia menatap anak lelakinya dengan tatapan kecewa.


Ingin rasanya Nadia pulang, tapi dia mengkhawatirkan kondisi Arin, dia memilih pergi ke kamarnya. Kamar yang memang disediakan khusus oleh Arya jika ibunya ingin menginap.


Dua jam berlalu dua wanita itu masih betah didalam kamar dengan pikiran masing-masing. Kesedihan dan kekecewaan yang mereka rasakan, Nadia bingung langkah apa yang selanjutnya dia ambil.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan pintu, Nadia begitu senang karena mengira itu Arin yang tidak bisa membiarkan Nadia melewatkan makan malam. Tapi dia harus kecewa karena bukan orang yang dia tunggu yang mengetuk pintu. Nadia berusaha menutup pintu itu kembali, tapi Arya menahannya.


"Mamah masih marah?" Tanya Arya.


"Jelas Mamah marah dan kecewa Ya, kamu pikir Mamah benar-benar mendukung kamu? Tidak. Mamah kasihan pada Arin, kamu benar-benar tidak memperdulikan perasaannya," jawab Nadia.


"Maafkan Arya Mah, entah mengapa aku begitu menyayangi Cila dan ingin dekat dengan anak itu," ucap Arya.


"Lantas kamu juga harus menyayangi ibu Cila juga?" Tanya Nadia geram.


Arya diam, lelaki itu juga bingung dengan perasaannya. Terkadang dia begitu mencintai Arin dan mengabaikan Amel, tapi terkadang dia begitu mencintai Kamelia dan mengabaikan Arin. Dia merasa hatinya saja telah mempermainkannya, atau dia memang serakah.


"Lalu kenapa Mamah tadi terlihat setuju?" Tanya Arya.


"Sudah terlanjur terjadi Ya, tapi kalau kamu tega, kamu bisa menceraikan Amel, hanya perlu kata talak karena kalian menikah secara siri," jawab Nadia.

__ADS_1


"Tidak Mah, kasihan Cila." Arya menundukan kepalanya.


"Cila itu bukan anak kamu Arya, kamu bisa memiliki anak kandung dari Arin, seharusnya kamu tahu itu!" Ucap Nadia.


Deg


Arya seakan sadar jika itu sebuah kesalahan, tapi hatinya seakan terikat dan tidak ingin melepaskan Amel terlebih Cila yang terlanjur mengisi relung hatinya, memberi warna disetiap harinya.


"Tapi Mah, bukankah suami berpoligami itu boleh?" Tanya Arya membela diri.


"Terserah! Percuma Mamah bicara panjang lebar sama kamu." Nadia benar-benar menutup pintu kamarnya sekarang.


***


Karena rasa lapar, Nadia keluar dari kamarnya sekitar pukul 10 malam. Dia juga berniat mengajak Arin berbicara. Betapa kagetnya dia melihat Amel masih ada dirumah ini.


"Tak ku sangka ibu mertuaku mendukungku, haruskah  aku berterimakasih?" Tanya Amel.


"Sudah aku duga dari dulu kalau kamu bukan wanita baik." Nadia kemudian mengambil air minum dan roti selai disana.


"Tahukan anda Nyonya, kalau wanita jahat terlahir dari wanita baik yang tersakiti. Seharusnya anda yang bertanggung jawab atas perubahanku sekarang," ucap Amel.


"Hahaha…, sungguh lucu. Kamu membela diri dengan menyalahkan orang lain. Perbuatan salah tetap salah dan tidak bisa dibenarkan!" Ucap Nadia, dia  berlalu pergi meninggalkan Amel yang menahan amarah.


Tak sampai disitu, Arin pun muncul untuk mengambil roti selai karena sejak perdebatan itu dia mengurung diri di kamar dan kini perutnya melilit. Dia tahu suaminya tidak ada dimakarnya dan bisa menebak jika Amel menginap malam ini di rumahnya. Sungguh ini memuakkan bagi Arin karena harus serumah dengan madu barunya bahkan suaminya lebih memilih tidur bersama madunya itu.


Arin memang melihat Amel, tapi dia seolah tak melihat kehadirannya. Dengan santai dia makan di meja makan dan minum dengan tenang.


Amel berusaha memancing Arin dengan mencemoohnya. Mengatakan jika suaminya pada akhirnya jatuh ke pelukannya, terlihat Arin tetap cuek membuat Amel marah.

__ADS_1


"Apa kamu tuli hah?!" Teriak Amel.


Arin melewati wanita itu dengan santai tanpa mempedulikan amarah wanita itu. "Bulu kuduk ku terasa mendadak berdiri, sepertinya memang ada makhluk tak kasat mata disini," ucap Arin yang sengaja agar didengar Amel.


"Kurang ajar kamu Arin," ucap Amel. Dia ingin mengejar Arin dan menjambak rambut Arin tapi terlihat Cila bangun dan mencari keberadaannya, membuatnya lebih memilih menidurkan Cila kembali ke kamar yang dipersiapkan Arya sebelumnya.


Setelah berhasil masuk ke dalam kamar, Arin menangis sepuasnya. Dia hanya berusaha tegar menghadapi madunya, jauh di lubuk hatinya dia sangat merasakan sakit yang luar biasa.


"Kamu harus kuat Arin, kamu tidak boleh kalah darinya!" Gumam Arin menyemangati dirinya sendiri.


Sepertiga malam, Arin memanjatkan doa duduk diatas sajadah. Dia meminta petunjuk atas semua masalah yang dihadapi, mencurahkan semua isi hatinya pada Tuhan. Karena itu lebih baik daripada dia harus menceritakan semua pada orang lain yang mungkin saja itu adalah dosa karena mengumbar aib keluarganya.


"Aku sadar kalau selama ini aku salah ya Rabb, aku terlalu sombong padahal tidak ada yang bisa aku sombongkan dari tubuh yang bahkan hanya pinjaman ini. Dunia memang terlalu memabukkan, padahal ini semua hanya dunia fana dan tak kekal, maafkanlah hamba ya Rabb, dan berilah hamba kesempatan untuk memperbaiki diri," ucap Arin dengan lirih. Menangis sepanjang malam hingga dia tertidur.


***


Pagi-pagi sekali Arin sudah berada di dapur. Dia ingin memasak, dia tidak ingin mengandalkan Bi Kila terus menerus. Sesekali dia ingin menghidangkan sarapan pagi untuk Arya, Arin memang membenci pengkhianatan, dia benci jika disentuh Arya dan terbayang suaminya juga menyentuh Amel.


Arin akui rasa benci itu, tapi dia lebih membenci pada dirinya sendiri yang membuka jalan ini. Dia yang terlebih dahulu mengenal Amel dan memasukkannya ke dalam rumah tangganya.


Semua karena aku, ini bukan karena mas Arya. Aku yang salah, dan aku harus bertahan! Aku harus bisa memperbaikinya, berharap Amel akan pergi dengan sendirinya, batin Arin.


"Biarkan aku saja yang memasak. Ini kan pagi pertamaku disini," ucap Amel mengambil alih pekerjaan Arin.


"Biar aku saja, ini rumahku dan aku bebas melakukan semua yang ingin aku lakukan," jawab Arin tak mau kalah.


Bu Nadia dan Bu Kila melihat dua wanita yang sedang memperebutkan wilayah dapur itu dengan tatapan tak percaya. "Menurut Nyonya, siapa yang akan menang?" Tanya bi Kila.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2