
Karena ikut panik, Arin sampai gagal beberapa kali karena kunci pintu kamar tiba-tiba jatuh dari lubangnya. Hingga kesekian kalinya dia bisa membuka pintu itu.
"Ada apa Mah?" Tanya Arin.
Pelukan tiba-tiba dirasakan Arin, Bu Nadia begitu senang. Dia mengucapkan kata selamat atas kehamilan menantunya itu. Kehamilan yang begitu dinanti-nantikan. Arya yang berdiri di belakang sang ibu pun sampai meneteskan air matanya karena rasa bahagia.
"Selamat ya sayang…," ucap Arya, yang kini bergantian memeluk istrinya itu.
"Seharusnya dari tadi Mas mengucapkan kata selamat..!" bisik Arin.
Arya melepaskan pelukan sang istri dan tertawa, dia menertawakan ketidak tahuan dan ketidak pekaannya tadi. "Hehe … Mas kan gak tahu apa itu artinya garis satu dan garis dua Dek," ucap Arya sambil tersenyum.
Arin hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali, setelah kabar itu diketahui oleh orang rumah. Kini kabar itu telah tersebar ke keluarganya di kampung, tak lupa dia juga memberitahu kakaknya Ujang. Mereka tentu mengucapkan kata selamat dan ikut berbahagia.
***
Keesokan harinya Arin memeriksakan diri ke dokter kandungan diantar oleh suaminya. Setelah itu, mereka pulang dengan membawa banyak makanan. Tentu itu makanan yang Arin minta dengan tiba-tiba yang terkadang membuat Arya harus memutar mobilnya kembali.
Siang itu mereka sedang bersantai duduk disofa yang ada didalam kamar. "Anak Papah lagi ngapain?" Ucap Arya sambil mengelus perut Arin.
__ADS_1
"Hmm, kata dokter ukurannya saja masih kecil sekitar 2cm Mas, eh udah diajak ngobrol aja," protes Arin.
"Hehe, gapapa Dek. Itung-itung latihan," jawab Arya yang malah semakin menempel dan mengeluarkan banyak pertanyaan lainnya pada calon anaknya.
Arin senang, dia mengelus rambut suaminya. Membelai rambut Arya yang masih basah karena baru saja selesai mandi. Tiba-tiba Arin menghindar, dia menggeser tempat duduknya.
"Loh, kenapa kamu menjauh Dek?" Tanya Arya heran.
"Kamu bau Mas," keluh Arin.
"Loh, Mas baru saja mandi Dek. Kamu jangan kejam gitu lah Dek, masih pengen ngelus perut nih," protes Arya.
Namun Arin menolak keras, dia tidak mau kalau suaminya itu mendekat. Entah mengapa dia mencium bau tidak sedap di badan suaminya. Arya yang lelah karena gagal membujuk Arin, dia pun keluar dari kamar hendak mengambil air minum di dapur.
"Arin Mah, dia gak mau aku deketin, dia bilang aku bau" keluh Arya.
"Hahaha…, yang sabar ya calon ayah..!" Ucap Bu Nadia sambil tertawa dan menepuk pundak anak lelakinya.
"Mamah malah senang melihat anaknya menderita begini," keluh Arya.
__ADS_1
"Bukannya begitu, tapi ibu hamil itu memang memiliki kebiasaan yang istimewa. Jika sebelumnya Arin selalu ingin dekat dengan kamu, mungkin bawaan bayi makanya sekarang dia gak mau deket-deket sama kamu," jawab Bu Nadia.
"Mana ada orang aneh begitu, aku udah mandi dikatain bau. Masa calon anakku membenci ayahnya sejak dalam kandungan?" Protes Arya yang tidak percaya pada ibunya.
Bu Nadia memilih pergi meninggalkan anaknya, dia berjalan menuju kamar untuk menemui Arin. Dia ingin tahu Arin ngidam apa dan membenci apa saja. Menurut pengalamannya dulu saat hamil Fadil dan Arya, dia memiliki keinginan berbeda. Dia begitu ingat kalau ibu hamil memang sensitif, Nadia akan memanjakan menantunya yang sedang mengandung calon cucunya itu.
Terbesit di pikiran Nadia tentang Cila, anak perempuan cantik yang mirip dengan Fadil. Wanita itu berusaha menepis apa yang dipikirkannya kali ini, Dia bukan cucuku, aku tidak menginginkan cucuku lahir dari perempuan seperti dia, batin Nadia.
Langkahnya semakin cepat, dia ingin segera bertemu Arin dan bertanya makanan apa yang diinginkan menantunya itu, biasanya kalau hamil muda akan lebih sering meminta makanan masam seperti rujak. Nadia yang membayangkan buah masam nan segar di siang hari begini, mulutnya seakan sudah bisa merasakan kesegaran makanan itu.
Enak makan rujak jam segini, ngajakin Arin… pasti dia mau, batin Nadia.
Kini dia sudah ada didepan pintu kamar menantunya, baru saja dia ingin memanggil nama Arin, dia terlanjur mendengar suara menantunya itu yang sedang berbicara lewat telepon.
"Iya aku tahu, aku tidak memberitahu siapapun tentang kamu yang menghubungiku, percayalah padaku..!" ucap Arin.
Arin menelpon siapa, apa Arin selingkuh dari Arya? Batin Nadia. Karena ingin tahu lebih lanjut, Nadia pun menguping dibalik pintu yang kini terbuka seperempatnya.
"Cila sehat kan? Apa kamu bisa bekerja sambil mengurusnya sekaligus? Apa sebaiknya kamu kabari saja Kak Fadil , dia kan berkewajiban memberi nafkah pada Cila anak kandungnya, setidaknya beban kamu tidak terlalu berat dan kehidupan Cila akan terjamin " ucap Arin.
__ADS_1
Cila, Fadil? Arin membahas mereka? Berarti yang Arin telepon itu… batin Nadia.
Bersambung …