
Fadil mengajak adiknya untuk duduk lebih dulu, Arya penurut saja meski dalam keadaan bingung.
"Aku udah duduk Mas, jadi sebenarnya ada apa ini?" Tanya Arya.
Arin dan Nadia pun ikut menghampiri mereka, tentu kedua wanita itu tidak ingin melewatkan momen penting ini. Meski hati mereka sama-sama cemas dengan apa yang akan terjadi.
Arin teringat jika suaminya baru pulang, dengan cepat dia mengambil air minum dan memberikannya pada Arya. "Diminum dulu Mas, maaf ya... aku lupa," ucap Arin dengan sedikit malu, dia biasanya akan langsung menyambut Arya dan menyediakan minuman, tapi kali ini bisa-bisanya dia malah fokus pada masalah tentang Amel dan Fadil.
"Gapapa, makasih Dek," jawab Arya.
Arin mengangguk dan ikut duduk dengan dua lelaki itu. Mencoba memasang telinganya agar mampu mendengarkan semuanya dengan baik tanpa melewatkan apapun. Dia ingin mencerna semuanya tanpa kesalah pahaman.
"Begini Ya, aku mau tanya sama kamu tentang istri keduamu itu. Arin bilang itu dadakan, apa itu benar? Lalu kapan kalian pertama kenal, dimana? Apa kamu tahu mantan suami Amel itu siapa?" Tanya Arya.
"Kak, apa-apaan nanya kaya kereta gitu. Panjang dan banyak banget, apa Kakak gak lihat kalau aku baru pulang kerja dan masih capek?" Protes Arya.
"Biar cepat lah kamu jawabnya, makanya aku tanya sekaligus. Kamu tinggal jawab aja Ya!" Ucap Fadil memaksa.
"Hmm, Aku sedang tidak ingin membahas istri keduaku," jawab Arya kemudian bangkit dari tempat duduknya. Tapi Fadil mencoba menahan tangan adiknya agar dia tidak pergi.
Arya pun kembali duduk, dia diminta menjawab pertanyaan Fadil karena menurut kakaknya informasi itu penting dan Fadil tidak sedang bercanda.
"Oke oke, bagaimana menceritakannya ya, karena aku pun tidak terlalu ingat Kak. Aku tidak tahu sejak kapan mengenal Amel, tiba-tiba aku sudah menikah dengannya. Apa aku sudah begitu tua hingga tidak mengingat momen penting?" Jawab Arya.
"Ya, berhentilah bercanda. Aku serius!" Ucap Fadil.
"Lalu aku harus menjawab apa? Memang aku berkata jujur Kak, untuk masalah mantan suaminya… aku pun tidak tahu. Memangnya penting ya? Kakak sepertinya tertarik dengan Amel," jawab Arya gak mau kalah.
__ADS_1
"Sebenarnya Amel itu mantan pacarku dulu, aku hanya curiga dengan Cila. Karena usianya sangat pas jika mengingat terakhir kami putus, menurutku tidak mungkin jika Amel langsung menikahi pria lain dan langsung hamil," ucap Fadil.
"Apa? Maksud Kakak, Cila itu anak Kakak?" Tanya Arya dengan mata melotot.
Arya benar-benar kaget dengan penuturan sang Kakak, dia pun mendengarkan cerita Fadil dengan lebih jelas. Arya juga merasa bingung dengan pernikahannya yang kedua, dia tidak tahu mau dibawa kemana pernikahan itu. Tidak ada rasa apapun yang dia miliki untuk Amel saat ini, dia juga heran dengan sikap Amel yang seakan menjauh. Jika diceraikan tanpa alasan yang kuat dan keslahan yang fatal, itupun tidak pungkin.
Tapi aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa aku sampai menikah dengannya? bahkan aku tidak bisa berbuat adil antara Amel dan Arin, aku sama sekali tidak berniat mempunyai istri dua, batin Arya.
Mereka pun berdiskusi dan mencoba mencari jalan terbaik, Arya dan Fadil akan mencari tahu terlebih dahulu asal usul Cila, Arya akan menahan Amel untuk tetap menjadi istrinya agar bisa mengorek semua informasi.
***
Kini Arya dan Arin berada di dalam kamar. Wanita itu ingin mengakui sebuah kesalahan, tapi dia takut. Dia juga ingin jujur tentang semuanya.
"Mas…," panggil Arin.
"Hmmm…, apa sayang?" Tanya Arya.
"Dek, jangan begitu..! Bicara aja, Mas malah penasaran. Ada apa sih?" Tanya Arya.
"Tapi janji ya, kalau aku cerita… Mas, gak akan marah?" Tanya Arin.
Arya mengerutkan dahinya, dia semakin penasaran dengan apa yang dilakukan istrinya. Arya berpikir tentu ini tentang sebuah kesalahan yang dilakukan sang istri. Dia pun menyetujuinya, dia yakin kalau dia tidak mungkin marah dengan kesalahan kecil Arin.
"Hmm, iya…" Arya pun menuntun Arin untuk duduk ditepi ranjang.
"Sebenernya, aku yang lebih dulu mengenal Amel daripada kamu Mas," ucap Arin.
__ADS_1
"Maksud kamu gimana Dek? Kan kamu dulu terkejut saat tahu Mas nikah lagi, kamu juga baru kenal sama Amel, apa dia teman waktu sekolah?" Tanya Arya.
"Sebenarnya aku kenal Amel di sosmed Mas, waktu itu…," jawab Arin menjelaskan semuanya. Saat dimana Arin menerima tantangan Amel untuk merebut Arya darinya, saat Arin menemukan foto Amel dan Fadil, saat Arin mengetahui kalau Amel bermain ilmu hitam selama ini.
Arya diam, dia begitu shock. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dialaminya sekarang.
"Pantas saja, selama ini Mas merasa bukan diri Mas loh Dek, kadang berat banget untuk melakukan ibadah. Mas sebenarnya kecewa dengan sikap dan perbuatan kamu Dek. Ini semua berawal dari hobi kamu yang posting-posting dan pamer, tapi kembali lagi jika ini memang ujian rumah tangga kita. Kita hadapi sama-sama saja, Mamah juga sudah mengakui kesalahannya dulu saat menantang hubungan kak Fadil dan Amel. Sepertinya Amel hanya ingin hak nya, Mas tidak yakin jika dia ingin balas dendam," jawab Arya.
"Maaf Mas…," ucap Arin pelan. Dia benar-benar merasa bersalah. Jika bukan karena dirinya, maka masalah ini tidak akan pernah ada.
***
Bu Nadia pun sama halnya dengan Arin, dia merasa bersalah karena dulu sempat meragukan Cila saat ada di rahim ibunya. Nadia memilih merahasiakan hal ini dari siapapun, dia berharap anaknya menemukan fakta itu dengan sendirinya dan berharap Amel tidak membeberkan kalau dia sempat menolak kehadiran cucunya.
Hari ini pun dia sangat gelisah karena Fadil memintanya pergi menemui Amel di rumahnya. Tentu dengan Arin dan Arya juga, mereka ingin menyelesaikan masalah ini dengan bermusyawarah, secara baik-baik dan kekeluargaan. Berharap Amel pun mau diajak kerjasama.
Mereka kini berdiri di depan rumah sederhana milik ibunya Amel. Menurut Arya jika itu memang rumah yang ditempati Amel selama ini.
Tok
Tok
Tok
Fadil mengetuk pintu berkali-kali, dialah yang paling bersemangat karena ingin menemui Cila yang dianggap anaknya.
Ceklek
__ADS_1
"Maaf, cari siapa ya?" Tanya seorang perempuan berusia sekitar 45 tahun.
Bersambung…