Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Tidak Ingat


__ADS_3

"Jika aku suamimu, seharusnya kamu tidak meninggikan suaramu padaku..! Bukankah semua bisa dibicarakan baik-baik. Duduklah..!" Ucap Arya.


Arin dan Nadia pun merasa sedikit lega, mereka tidak mau ada pertengkaran di pagi ini. Arya mengajak Amel dan Cila sarapan bersama, meski dengan wajah kesal dan sedikit ragu, tapi Amel tetap mengikuti perintah Arya, Cila pun terlihat lapar karena begitu semangat melahap makanannya.


Anak balita itu begitu menggemaskan sehingga menarik perhatian Nadia. Disuapilah bocah itu meski Amel melirik dengan tatapan tidak suka.


"A…, makan yang banyak Cila..!" Ucap Nadia sambil memegang sendok di lengannya.


Anak itu begitu penurut, menghabiskan makanannya. "Cucu Nenek memang pintar," puji Nadia.


"Cucu, apa aku tidak salah dengar?" Tanya Amel dengan sinis.


"Kamu kan katanya sudah menikah dengan Arya, ya wajarlah kalau saya menganggap Cila itu cucu saya," jawab Nadia dengan tenang. Dia tidak mau kalau Arin dan Arya curiga padanya.


"Amel, kalau bicara sama Mamah yang sopan ya..!" ucap Arya lembut.


Setelah sarapan, Arya mengajak Amel berbicara serius berdua. "Amel, ikutlah denganku sebentar..!" Ucap Arya.


Arin menatap mereka dengan perasaan sedih dan tidak suka. Dia pikir Arya telah kembali, tapi ternyata suaminya itu tetap saja lebih mementingkan istri keduanya Kamelia.


"Menyebalkan," gumam Arin pelan tapi masih bisa didengar Nadia.


Nadia mengelus punggung Arin lembut, "sabar …! Mamah yakin kalau kamu tetaplah istri Arya satu-satunya," ucap Nadia.


Arin pun terpaksa membalas senyuman mertuanya, meski sebenarnya dia sedang terluka dan tak mampu mengukir senyuman diwajahnya.


***


"Duduklah…!" Ucap Arya pelan.


"Ada apa Mas? Kenapa kamu mengajakku ke kamar ini? Ini masih terlalu pagi," ucap Amel.


"Hmm, duduklah…! Ada yang ingin aku tanyakan." Arya menarik lengan Amel dan menyuruhnya duduk ditepi ranjang.


"Mas mau nanya apa?" Tanya Amel.

__ADS_1


"Memangnya kapan kita menikah? Dimana? Kenapa aku mendadak tidak ingat apapun?" Tanya Arya.


Deg


Amel kaget bukan main, dia merasa ada yang salah dengan Arya dan ternyata firasatnya benar. Tapi wanita itu sebisa mungkin bersikap tenang dan mulai mengeluarkan ponsel miliknya. Mencari video yang ada di galeri ponselnya. 


"Lihatlah Mas! Itu ketika ijab qobul kita," ucap Amel sambil memberikan ponsel miliknya.


"Kapan? Dimana? Ayahmu mana sebagai walinya? Aku merasa belum pernah bertemu dengan beliau," tanya Arya beruntun. Pertanyaan yang terus menerus dan seakan tak ada habisnya itu membuat Amel muak.


"Mas, udah deh. Kan sudah ada buktinya kalau kita itu sudah menikah. Janganlah kamu melepas tanggung jawabmu padaku dan juga Cila! Itupun kalau kamu masih menganggap kamu sungguh seorang lelaki dan bukan seorang peng*cut," ucap Amel. Dia bahkan kini berdiri, berniat meninggalkan Arya yang masih mematung disana. Arya masih belum bisa menerima ini semua, di pikirannya pun tak terlintas kenangan ataupun kejadian dimana dia menikah lagi.


"Tunggu…!" Arya berbalik dan menahan lengan Amel dengan sedikit keras.


"Sakit Mas," teriak Amel tak terima.


"Oke, kalau tadi bukti pernikahan kita. Lalu bisakah kamu jelaskan sejak kapan kita mulai mengenal dan memutuskan menikah? Adakah foto atau kenangan yang kamu ingat sehingga aku pun bisa mengingatnya? Kenapa ini terasa janggal Mel?" Tanya Arya.


"Sudahlah Mas, aku capek. Mending aku pulang aja deh sama Cila. Daripada diinterogasi terus sama kamu, sepertinya Mas yang sakit karena tidak bisa mengingat aku dan Cila. Sebaiknya Mas periksa ke dokter saja, siapa tahu di kepala Mas ada sesuatu yang membuat Mas jadi aneh begini!" Ucap Amel berlalu pergi.


***


Amel tak mau berlama-lama di rumah itu karena takut ketahuan oleh Arya. Dia berniat pergi menemui seseorang untuk mengatasi Arya yang mulai tidak bisa dikendalikan lagi olehnya.


Wanita itu berjalan dengan cepat, melihat Cila yang semakin akrab dengan Nadia, membuatnya semakin dilanda amarah.


"Lepaskan, dia anakku bukan cucu anda!" Ucap Amel.


Cila yang awalnya tenang dan senang karena diajak bermain oleh dua wanita yang bersikap lembut padanya. Kini dia ditarik oleh sang ibu, dipaksa menjauh dari mereka, dua orang asing yang menurut Cila adalah teman barunya.


"Mamah, takit" keluh Cila kesakitan.


"Kita pulang Cila, sejak awal dia memang bukan nenekmu," ucap Amel. Wanita itu menggendong Cila keluar dari rumah itu meski anak balita itu menangis dan meronta-ronta meminta turun dari pangkuan sang ibu.


Nadia hanya menatap dengan pasrah, meski didalam hatinya tak menerima perlakuan Amel pada Cila. Tapi dia tidak punya hak apapun mengenai balita itu, sepertinya ini hukuman untuknya karena kesalahan dimasa lalu.

__ADS_1


"Kasihan Cila ya Mah?" Tanya Arin.


"Iya, tapi Amel kan ibunya. Meski begitu, pasti dia akan melindungi Cila dan sayang pada Cila. Kamu tidak usah khawatir sayang..!" Ucap Nadia.


Setelah drama pagi hari tadi, Arin mengajak Arya yang murung di kamar untuk pergi jalan-jalan. Menghabiskan waktu berdua seperti masa pacaran dulu.


Mereka pergi menonton di bioskop, pergi ke taman, membeli ice cream, makan nasi goreng pinggir jalan. Arin dengan setengah porsi, sementara Arya satu porsi setengah karena milik Arin dihabiskan juga oleh Arya. 


"Kamu selalu begitu Dek, kamu kira perut Mas ini tempat penampungan makananmu yang gak habis," protes Arya.


"Gapapa Mas, demi aku," jawab Arin.


"Iya, iya. Tapi jangan salahkan Mas kalau nanti menjadi suami yang perutnya buncit seperti bapak-bapak itu tuh," ucap Arya sambil menunjuk ke arah lain.


"Ish, janganlah. Itu sih bukan buncit lagi Mas. Biarlah aku yang hamil, Mas gak usah repot-repot sampai menggantikan aku. Mending kalau didalamnya bayi, perut Mas isinya cuma makanan," jawab Arin.


"Hahahaha…," Arya tertawa puas. Menurutnya jawaban sang istri itu lucu baginya. Dia juga senang karena bisa menikmati momen seperti ini lagi. Momen yang bisa memperkuat rasa cintanya pada Arin sang istri, memperkokohnya agar tidak goyah.


Arya merasa perasaannya pada Arin tetaplah sama, dia bingung kenapa dia bisa menikahi Amel. Sebenarnya apa alasan aku dulu menikahinya? Jelas-jelas aku begitu mencintai Arin, percuma juga kalau aku bertanya pada Amel, wanita itu sulit dipercaya dan jawabannya pasti berbelit-belit batin Arya.


Mereka pulang ketika matahari sudah tenggelam. Siang sudah berganti malam, Arya mengajak Arin pulang ke rumah ibunya lagi. Dia enggan melihat wajah Amel yang masih menyimpan misteri itu. Selama pergi dengan Arin, istrinya itu selalu menyempatkan diri untuk mengajak Arya mampir di mushola atau masjid terdekat. Memastikan suaminya itu tidak meninggalkan kewajibannya sebagai umat Islam.


Bu Nadia menyambut mereka dengan senyuman, tak lupa dia menggoda pasangan suami istri itu, membuat keduanya malu.


"Nginep disini lagi Ya? Apa kamu mau berduaan saja sama Arin tanpa diganggu Amel? Hmm… buatlah cucu buat Mamah, biar ada yang manggil nenek..!" Ucap Nadia sambil berlalu pergi.


***


Mereka yang lelah, langsung membaringkan tubuh diatas ranjang. Memastikan punggung mereka rata diatas ranjang, "nikmatnya," ucap Arin saat tubuh miliknya akhirnya bisa juga dibaringkan setelah kakinya lelah dipakai berjalan kesan kemari.


"Iya Dek. Alhamdulillah terasa nikmat walau cuma berbaring melepas lelah," jawab Arya.


Tiba-tiba kepala Arya sakit, dia mengeluh sambil memegang kepalanya. Sedetik kemudian Arya memukul-mukul kepalanya sendiri. Arin yang panik, dia langsung berlari keluar kamar, berteriak memanggil ibu mertuanya.


"Mah …, Mas Arya Mah," teriak Arin.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2