
Arin merasa gelisah, tapi dia ingat kalau saat ini sedang mengandung. Arin berusaha berpikir positif dan melupakan pesan dari Amel. Dia bergegas ke dapur dan mencari air di dalam kulkas.
Arin meneguk air putih dingin itu seteguk demi seteguk hingga akhirnya air itu habis. Selain untuk menenangkan dirinya yang gelisah, air dingin itu juga memang dia minum karena sudah menjadi kebiasaan sejak hamil.
"Lagi apa Rin, sore-sore kok masih saja minum air dingin?" Tanya Nadia, kemudian duduk disamping menantunya. Bukannya semakin tenang, kedatangan Bu Nadia membuat Arin semakin tak karuan jika mengingat masalah Amel.
"Eh Mamah, iya Mah… bawaannya haus terus, gerah juga," jawab Arin dengan sesantai mungkin.
"Oh…, memang kalau orang hamil begitu Rin. Gapapa yang penting jangan terlalu banyak, jangan ditambah sirup, cukup air putih aja..!" Ucap Bu Nadia.
"Iya Mah," jawab Arin sambil mengangguk.
Arya datang bergabung dengan mereka, wajahnya tampak berbeda. Membuat kedua wanita yang ada di depannya itu bertanya-tanya dalam hati. Tapi belum sempat Nadia bertanya, Arya dengan segeramengungkapkan apa yang membuatnya seperti itu.
"Mah, kak Fadil tadi menelpon aku," ucap Arya.
"Anak itu bisa-bisanya menelpon kamu, tapi tidak pernah menelpon Mamah. Di telpon aja malah dimatiin," jawab Nadia.
"Denger dulu Mah, kak Fadil nelpon karena ada sesuatu yang penting. Dia bilang kalau Amel sudah ditemukan, tapi Cila tidak ada bersama Amel, Cila diculik Mah," ucap Arya.
"Apa? Kok bisa sih?" Tanya Nadia.
__ADS_1
Sementara Arin yang kaget dengan berita ini, dia mencoba menghubungkannya dengan pesan yang dikirim Amel sebelumnya. Apa Amel marah karena menyangka aku yang memberitahu kak Fadil? Tapi kok Cila bisa hilang? Batin Arin.
"Gak tahu Mah, kak Fadil marah sama Amel karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik, padahal menurutku jika memang itu anak kak Fadil, bukankah dia juga ikut bersalah karena selama ini menolak kehadiran Cila? Aku jadi kasihan sama Amel karena jadi orang yang disalahkan, mana ada seorang ibu yang ingin anaknya diculik," jawab Arya.
"Mamah yang salah, karena dulu Mamah meragukan kehamilan Amel. Mamah rasa belum tentu Cila anak Fadil sebelum dilakukan tes DNA," ucap Bu Nadia.
"Bener juga sih Mah, siapa tahu Cila anak orang lain. Dia aja bisa kok nipu aku," ucap Arya yang ikut kesal.
"Tapi Mas, menurutku Cila mirip kok sama kak Fadil. Amel juga gak bermaksud jahat, tidak ada harta benda yang hilang. Dia mungkin punya niat lain, kita gak dirugikan secara materi," jawab Arin membela Amel.
"Tetap saja kan kita dirugikan secara mental. Kamu nyangka aku selingkuh, kita bertengkar. Belum pandangan tetangga yang menganggap Mas suka main perempuan dengan beristri dua," jawab Arya.
Arin pun tak bisa membela Amel lagi, dia akui meski tidak ada harta yang hilang, tidak ada pemerasan. Tapi dia dirugikan secara mental.
"Iya Mah, nanti aku sampaikan," jawab Arya.
"Harus sampai di telinga Fadil! Karena Mamah sudah tidak bisa berbicara dengan anak itu. Entah kapan dia akan memaafkan Mamah," ucap Nadia.
"Kak Fadil hanya perlu waktu saja Mah, nanti juga baik lagi sama Mamah," jawab Arya.
***
__ADS_1
Arya melarang Arin untuk memikirkan Amel, dia tidak mau sang istri banyak pikiran saat hamil. Disaat ada informasi tentang Amel, Cila ataupun Fadil, maka Arin tak pernah diberitahu oleh Arya atas permintaan Bu Nadia. Bahkan Arin kini memakai nomor ponsel yang baru agar Amel tidak selalu menghubunginya.
Arya awalnya bingung, tapi Bu Nadia mengatakan jika kartu Arin yang sebelumnya sudah tidak bisa digunakan. Lelaki itu hanya mengangguk kecil. Mungkin Arin memang sedang ingin mengganti nomor ponselnya, batin Arya. Karena Arya tidak tahu kalau selama ini Amel sering menghubungi istrinya itu.
"Pakai kartu ini saja Rin, biar kamu gak digangguin Amel lagi. Kamu gak boleh sampai banyak pikiran, apalagi memikirkan Amel yang gak jelas itu. Ibu gak suka dia mempengaruhi kamu..!" Ucap Bu Nadia sambil memberikan SIM card baru waktu itu.
Arin mengangguk pelan lalu menerima kartu itu, Arin menypan SIM card lamanya ditempat aman. Dia masih saja mengkhawatirkan Amel.
***
Kehamilan Arin semakin hari semakin membesar, Arya yang dianggap bau meski sudah mandi, membuat laki-laki itu bahkan tidur diranjang yang berbeda. Arya selalu berusaha perhatian meski Arin tidak mau berdekatan lama dengannya.
Hingga suatu hari, Arya membutuhkan tempat curhat untuk membagi keluh kesahnya. Bekerja setiap hari, tidak membuatnya merasa harinya lancar. Selalu ada masalah yang membuat pikirannya kacau, tapi Arin tak bisa diajak bercerita.
"Masih saja banyak yang mengirimkan pesan lewat inbox, padahal Arin sudah tidak memposting kebaikanku di sosmed," gumam Arya pelan.
Lelaki itu iseng membuka inbox, sudah lama dia tidak membuka sosial medianya. Banyak pesan masuk, terutama akun wanita. Mulai dari akun berfoto profil wanita seksi sampai yang berhijab, tapi semuanya sama menggoda dirinya. Pesan itu ada yang dikirim beberapa bulan yang lalu dan ada yang beberapa hari sebelumnya.
"Apakah aku seterkenal itu dikalangan kaum hawa?" Gumam Arya merasa bangga.
Lelaki itu melihat satu persatu akun yang menurutnya menarik, saking asyiknya dia sampai lupa waktu. Hingga dia menemukan akun wanita yang tidak asing.
__ADS_1
Bersambung…