Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Kehilangan


__ADS_3

"Maaf Dek, Mas janji akan menjaga kalian dengan benar kali ini. Berikanlah Mas kesempatan kedua..!" Arya menatap Arin dengan penuh harap.


"Tak semudah itu Mas, kalau kamu memang serius. Maka lakukanlah dengan benar! Buktikan dulu, baru aku bisa percaya lagi," jawab Arin.


"Baiklah, terimakasih ya Dek. Mas janji tidak akan menyia-nyiakan kalian, kesempatan ini begitu berarti buat Mas," ucap Arya. Lelaki itu pun berdiri, menghampiri Arin lalu memeluknya dengan lembut.


Dua hari berlalu, keadaan Arin sudah mulai membaik. Tapi dunianya seakan runtuh saat dokter memberi tahu kalau keadaan anaknya sekarang sedang menurun.


Dokter langsung mengambil tindakan, detak jantung bayi perempuan itu semakin lemah.


"Mas, bagaimana keadaan Shayna?" Tanya Arin dengan raut wajah panik.


"Mas belum tahu Rin, sebaiknya kamu disini menunggu kabar dari dokter. Biar ibu yang melihat ke ruangan bayi..!' ucap Arya.


Arya tidak mau kalau Arin malah semakin terguncang, hingga akhirnya Arya memilih menemani istrinya. Sementara Nadia sedang berada di depan ruangan cucunya, melihat para dokter sedang melakukan pertolongan.

__ADS_1


"Bertahanlah..! Cucu nenek pasti kuat," ucap Nadia sambil berusaha menahan tangisnya.


Namun sayang seribu sayang, Shayna bayi mungil itu lebih disayang oleh maha pencipta. Bayi itu menghembuskan nafas terakhirnya, dokter sudah tak bisa melakukan tindakan apapun lagi.


Nadia benar-benar sedih, dia tidak mampu memberikan kabar ini pada menantunya yang baru saja membaik. Wanita itu berjalan menuju kamar menantunya, melihat Arin yang memeluk kuat sang suami dengan tangisan yang belum reda. Rasa khawatir dan feeling seorang ibu membuatnya menangis tak tertahan.


Arya menatap kedatangan ibunya, Nadia menggelengkan kepalanya. Dia berusaha memberi tahu anaknya kalau Shayna sudah tidak ada, tak tertolong dan berharap mereka bisa mengikhlaskannya.


Arya yang mengerti isyarat itu, dia memeluk Arin semakin erat, rasa bersalahnya kini semakin membebani hatinya. Jika bukan karena sikap ku yang egois, pasti Shayna masih baik-baik saja didalam perut ibunya, batin Arya.


Arin yang baru menyadari kedatangan ibu mertuanya, tentu dia langsung bertanya tentang keadaan anaknya. Tapi Nadia diam, itu menunjukan kabar duka yang dapat dimengerti oleh Arin.


***


Pada akhirnya Arin mengetahui kebenarannya, dia lemas dan pingsan. Arya pun tak mampu menahan tubuh istrinya yang ambruk karena dia sama-sama sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Tak berselang lama, datanglah Diani dan Ujang. Mereka membantu Arya untuk mengurus semuanya. Pemakaman keponakan mereka yang baru berusia 3 hari. Diani begitu ingin menguatkan Arin, dia memilih tinggal di rumah adik iparnya itu.


Arin seperti orang yang linglung. Tatapannya kosong, dia tidak banyak bicara. Hanya mengangguk dan menggeleng saat ditanya. Arya pun bingung cara memperlakukan Arin agar dia semangat lagi. Tak bisa dipungkiri kalau dia pun merasa sedih, tapi dia lebih merasa bersalah karena dialah penyebab semua ini terjadi.


"Dek, maafkan Mas…," lirih Arya.


Tak ada respon apapun dari istrinya itu, Arin sudah siap hati tidak makan setelah kepergian bayinya. Dia hanya minum teh manis hangat beberapa gelas, roti beberapa gigitan dipagi dan malam hari. Arya begitu miris melihat keadaan istrinya yang terpuruk.


Arin bangkit dari kursi, dia berjalan perlahan menuju kamarnya dengan diikuti oleh Arya. Wanita itu membuka pintu kamar, berjalan menuju ranjang. Dia berbaring lalu memeluk guling bayi yang telah dibelinya sebelum kelahiran Shayna. Kemudian Arin menangis sambil memeluk barang milik Shayna. 


Arya kini hanya bisa duduk ditepi ranjang, membelai kepala istrinya yang tertutup hijab. Penutup kepala itu bahkan tidak terpasang dengan benar, sedikit miring karena Arin tidak terlalu memperhatikan penampilannya.


"Maafkan Mas, Dek…," ucap Arya. Lelaki itu mengulang kata-kata itu karena rasa bersalahnya.


Amel dan Diani mengetuk pintu kamar, mereka membawa makan siang untuk Arin. Kedatangan mereka disambut baik oleh Arin, wanita itu tersenyum kepada dua wanita yang ada di hadapannya. Berbeda sekali saat Arya disampingnya, istrinya itu diam tanpa kata.

__ADS_1


Sepertinya rasa kecewa itu telah berubah menjadi benci. Aku memang tidak pantas mendapatkan maaf dari Arin, batin Arya.


Bersambung …


__ADS_2