Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Gatel


__ADS_3

"Kami mencari Amel, hmm… Kamelia," ucap Fadil dengan cepat. Lelaki itu semangat sekali, padahal status suami Amel sekarang adalah Arya. Tapi itu tidak membuat Arya tersinggung ataupun keberatan karena dia tidak mencintai Amel sama sekali.


"Oh Neng Amel, dia sudah tidak tinggal disini. Saya yang kini menempati tempat ini untuk sementara waktu bersama ibunya. Sepertinya keluar kota dan dalam waktu yang cukup lama, menurut yang saya dengar kemarin sih begitu," jawab Bu Dini.


"Ke luar kota, untuk apa? Saya kan suaminya. Kenapa dia tidak bilang apa-apa pada saya?" Tanya Arya. Sebenarnya lelaki itu tidak peduli dengan Amel, hanya terlalu aneh saja jika dulu wanita itu selalu menahannya seakan mencintainya begitu dalam. Tapi sekarang, dia malah pergi begitu saja. Arya merasa dipermainkan oleh wanita itu apalagi saat ingat Amel melakukan ilmu hitam.


"Saya kurang tahu," jawab Bu Dini.


"Ibunya ada di dalam kan, boleh saya bertemu dengan beliau?" Tanya Fadil.


"Tunggu sebentar ya, silahkan duduk dulu..!" Ucap Bu Dini sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di teras rumah.


Setelah beberapa saat Bu Dini kembali, dia mengatakan kalau Bu Marni sedang tidak ingin menerima tamu. Meski Fadil seakan tak terima, tapi dia juga harus menghormati keputusan Bu Marni.


Mereka pun pulang dengan pemikiran masing-masing. Keanehan Amel membuat mereka bingung, mereka juga belum bisa menguak rahasia wanita itu. Apa tujuannya selama ini memasuki kehidupan keluarga mereka.


Fadil merasa lesu, dia pun sudah dihubungi istrinya berkali-kali karena belum juga kembali. Pikirannya sedang benar-benar kacau. Dia masih teringat wajah Cila yang menggemaskan, wajahnya yang mirip dengannya.


***


Dua hari berlalu, Fadil pun pulang ke kotanya. Dia tidak meninggalkan bisnis yang selama ini dijalankannya begitu saja. Meninggalkan semua rasa penasaran tentang Amel dan Cila.

__ADS_1


"Ya, Kakak pulang ya. Kalau ada kabar tentang Amel atau Cila, kamu langsung kabari Kakak ya!" Ucap Fadil.


"Iya Kak," jawab Arya.


Arya pun berusaha melacak keberadaan istri keduanya itu. Dia masih mempunyai tanggung jawab untuk menafkahi Amel dan Cila, tapi dia juga bingung karena tidak mempunyai nomor rekening Amel.


Arin pun sama bingungnya dengan Arya. Dia tidak mengerti ada wanita seperti Amel, yang datang dan pergi begitu saja setelah mengacaukan rumah tangganya.


Kalau dia akan pergi seperti ini, kenapa dia harus datang mengganggu rumah tanggaku? Hmmm… yang aku khawatirkan saat ini adalah Cila, apalagi kalau anak itu benar-benar keponakan mas Arya, Batin Arin.


Disatu sisi Arin bersyukur karena tidak ada wanita pengganggu di dalam rumah tangganya. Seperti biasa dia akan melakukan tugas ibu rumah tangga dan lebih perhatian pada Arya. Itu dia lakukan saat mengingat ada wanita lain yang bisa saja merebut suaminya.


Siang ini dia akan menemui Arya di kantor. Meski kantor milik suaminya itu tidak besar, tapi Arya cukup sukses dan berpenghasilan lumayan besar. Arin membawa bekal makan siang yang dia buat dengan sepenuh hati.


***


"Dasar wanita gatal," ucap Arin dengan keras. Membuat wanita itu gelagapan, pasalnya mereka tidak tahu kalau Arin masuk, karena memang sejak awal pintu itu tidak tertutup dengan benar, hingga Arin bisa membuka pintu itu tanpa mengeluarkan suara.


"Eh ibu, maaf Bu. Saya permisi," ucap Jeni yang kini sudah berdiri, dia membungkukkan badannya dan beranjak pergi.


Arin menatap tajam pada perempuan itu hingga wanita itu benar-benar tak terlihat. Kemudian matanya kini menatap tajam ke arah Arya. Dia meletakan kotak makanan yang dia bawa dengan keras diatas meja.

__ADS_1


"Jadi selama di kantor kelakuanmu seperti ini Mas?" Tanya Arin.


"Bukan begitu Dek, Memang akhir-akhir ini Jeni bersikap aneh. Sedikit berlebihan, dan aku sudah mengatakan kalau aku keberatan Dek," jawab Arya.


"Alasan, kamu pecat dia sekarang juga Mas!" Ucap Arin.


"Gak bisa Dek, aku belum menemukan penggantinya. Susah mencari pekerja yang bisa menghandle pekerjaan Jeni," jawab Arya.


"Aku gak mau tahu Mas, pokoknya aku gak suka ada cewe gatel kerja bareng kamu Mas," ucap Arin.


"Ini juga kesalahan kamu Dek, sejak kamu suka posting-posting kemesraan kita di sosmed, banyak wanita yang bahkan gak aku kenal tapi malah mendekati aku, kamu pikir aku seneng? Aku merasa risih dan terganggu, belum lagi harus menahan hawa n@fsu agar selalu setia sama kamu," jawab Arya yang kembali menyalahkan Arin. Karena memang kenyataannya seperti itu, selama ini dia selalu berusaha menghindar dari banyaknya wanita yang menghampirinya.


"Kenapa kamu malah nyalahin aku Mas? Setia apanya Mas, bahkan kamu saja sudah mempunyai dua istri," jawab Arin tak mau kalah, padahal dia juga tahu kalau selama ini Arya tidak sadar dan Amel yang memaksa suaminya dengan cara yang diluar nalar.


"Kamu kan sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa masih menganggap kalau aku suka main perempuan? Bukannya kamu yang menjadikan aku seperti ini, mempromosikan aku seperti barang, iya kan?" Ucap Arya. Sebenarnya dia biasanya akan selalu sabar menghadapi istrinya, tapi saat ini dia sedang banyak pikiran dan berada di jam kerja. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya.


Arya pun pergi dan membanting pintu, meninggalkan Arin yang masih mematung disana. Sungguh Arin tak menduga jika Arya bisa seemosi itu, dia meninggalkan bekal makanan yang dibawa, dia memilih pulang dengan masih menahan air matanya agar tidak sampai jatuh di depan para karyawan.


Saat diperjalanan pulang, Arin menangis tak berhenti bahkan membuat sopir pribadinya bingung. Ponsel Arin berkali-kali berdering tapi diabaikannya, dia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Hatinya sedang kacau saat ini.


Sesampainya dirumah dia sudah lebih tenang, saat melihat deretan panggilan yang tak terjawab, dia mengerutkan dahinya karena itu nomor yang tak dikenal. Tapi saat melihat isi pesan singkat itu, Arin kaget bukan main.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2