Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Serba Salah


__ADS_3

Arya memilih keluar dari kamarnya, membiarkan istrinya bersama kedua wanita itu. Bagaimana caranya agar aku bisa menebus kesalahanku padanya? Aku memang tidak pantas dimaafkan, tapi setidaknya dia mau berbicara padaku, memberiku kesempatan untuk melakukan segala cara untuk membuat hatinya merasa lebih baik. Ya … meski itu tidak mudah, batin Arya.


***


"Syukurlah kalian datang, entah kenapa rasanya  enggan melihat wajahnya, aku teringat rasa sakit Shayna ketika lahir dengan organ tubuh yang belum berfungsi dengan sempurna. Seharusnya satu bulan lagi dia berada di dalam perut ini, hiks …," ucap Arin menatap perutnya yang sudah datar, kemudian dia menangis.


Diani memeluk adik iparnya itu. Dia memang tidak pernah berada diposisi ini, tapi dia ikut sedih atas apa yang dirasakan adiknya.


"Sabar Rin… ini sudah takdir, kamu harus ikhlas karena Shayna sudah bahagia. Kelak dia akan menjadi penolongmu, menjadi tabungan akhirat..!"


Kata nasihat yang begitu mudah diucapkan, tapi sulit untuk Arin lakukan. Kata-kata itu hanya mampu didengarnya, tapi hatinya masih belum bisa menerima.


"Makan dulu..! Dari tadi kamu belum makan, aku udah masakin ikan , ada telur rebus juga. Khusus buat kamu..!" Ucap Amel.


Arin menghela nafas panjang, bagaimana bisa dia masih berselera makan disaat seperti ini? Bagaimana bisa dia memikirkan perutnya, sementara separuh jiwanya telah pergi untuk selamanya.


***


Kini Arya berada disebuah rumah yang menyimpan banyak kenangan, suasana rumah itu nampak sama. Terdengar suara anak kecil yang berteriak menghampirinya, Arya menatap lekat balita itu. 4 tahun kedepan Shaynanya mungkin akan berlari menyambutnya seperti ini. Tak terasa pipi Arya mulai basah, tangan mungil itu menyentuh pipi Arya seolah menjadi tisu yang mengeringkan.

__ADS_1


"Ayah kok sedih?" Tanya Cila.


"Cila, panggil Om. Ayah Cila kan, ayah Fadil..!" Ucap Arya. Hatinya semakin teriris saat ada yang memanggilnya ayah.


"Iya Om, jangan nangis lagi ya..!" Ucap Cila lalu memeluk tubuh lelaki itu. Arya pun berdiri lalu menggendong Cila untuk mencari sang ibu.


"Ibu di dapur Den," ucap Bu Hasna mengerti jika Arya mencari ibunya.


Arya berniat menginap beberapa hari di rumah Nadia, sampai hati Arin benar-benar bisa menerimanya lagi. Setidaknya istrinya itu mau bicara padanya, dan membiarkannya melakukan pembuktian.


Namun ibunya melarang, dia menyuruh anak lelakinya tetap berada di rumah. Menyemangati Arin, meski Arin menolak, tapi jika dia malah menghindar begini… maka ini akan semakin rumit. Arin akan salah paham, dan menilai jika anaknya itu seorang lelaki yang lari dari tanggung jawab. Menyerah begitu saja, tidak mau berjuang lebih keras.


"Meski disana sudah ada keluarganya dari kampung, tapi kamu sebagai suaminya harus selalu disamping dia Arya, pulanglah!" Jawab Nadia lalu mendorong tubuh lelaki itu agar keluar dari pintu yang kini telah terbuka lebar.


Arya yang tidak mempunyai tempat kembali selain rumah, dia pun menuruti nasehat ibunya. Langkah kakinya terasa berat, hidupnya seakan tak tahu arah. Nasib rumah tangganya pun tidak tahu kedepannya akan seperti apa.


Dia mencoba mengetuk pintu berkali-kali, melihat suasana sudah sepi, bahkan bulan sudah terlihat sangat terang di gelapnya langit. Bi Ijah membuka pintu dalam keadaan mata yang masih berat, meski begitu tentu Arya mudah dikenali.


Arya kini melangkah dengan perlahan karena rasa ragunya. Suasana rumah benar-benar sudah sepi, dia berjalan menuju kamarnya, membuka pintu itu dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Ceklek


Keadaan kamar begitu gelap, dia menyalakan lampu. Betapa kagetnya dia saat melihat wanita yang duduk ditepi ranjang. Menatap dirinya dengan tatapan sinis, "ternyata kamu ingat pulang juga ya Mas? Aku pikir kamu itu melarikan diri dari masalah yang kamu buat."


Deg!


Perasaan Arya menjadi tak karuan, entah dia harus bersyukur karena memilih pulang atau dia harus merasa bersalah karena telah pergi. Bibirnya kelu, tak ada kata yang berani keluar dari mulutnya. Tak ada pembelaan, tak ada alasan, lalu apa yang harus dia katakan?


"Maafkan Mas, Dek…"


"Puluhan kali, bahkan ratusan kali aku mendengar kata maaf dari mulutmu Mas, tapi apa? Terus saja kamu melakukan kesalahan lain, lagi dan lagi," jawab Arin.


"Aku bingung Dek, aku disini juga tak dianggap. Kamu masih marah, ya udah Mas pergi saja. Sebaiknya kamu mengatakan apa yang harus Mas lakukan, Mas kan gak bisa baca isi hati kamu..!" ucap Arya.


"Jadi, aku yang salah? Begitu?" Tanya Arin sinis.


Apa aku salah bicara? Kenapa ini malah semakin rumit. Apa sebaiknya aku diam saja, karena setiap kata yang aku ucapkan ternyata selalu salah di telinga Arin, batin Arya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2