
Arin merasa kecewa dengan sikap Arya yang malah pergi begitu saja, padahal dia berharap suaminya akan berusaha lebih keras untuk mengambil hatinya lagi. Dia pun membaringkan tubuhnya menghadap dinding, dia tidak mau jika harus melihat wajah Arya yang menurutnya sangat menyebalkan.
Lelaki itu akhirnya memilih tidur disamping istrinya meski Arin masih dalam keadaan marah. Dia akan melakukan apa yang istrinya inginkan, karena menjauh adalah sebuah kesalahan besar… maka dia akan berusaha mendekati istrinya lagi meski dia akan mendapat banyak penolakan. Pantang menyerah kini menjadi prinsipnya.
***
Saat adzan subuh berkumandang, Arya pergi menuju masjid tanpa membangunkan Arin yang terlelap. Sepertinya malam ini adalah malam pertama dia bisa tertidur nyenyak setelah kepergian Shayna, batin Arya.
Arin terbangun saat mendengar suara alarm ponselnya, dia melihat jika di sebelahnya sudah kosong. "Apa dia tidur dikamar lain?" Gumam Arin pelan.
Wanita itu begitu penasaran, dia berjalan mengelilingi rumah dan mengecek beberapa kamar yang kosong. Tetapi tidak ada suaminya dimanapun.
"Cari siapa Non?" Tanya bi Ijah.
"Eh Bibi, bikin kaget aja deh. Gak kok, aku mau shalat dulu…,"jawab Arin berlalu pergi.
Bi Ijah tersenyum saat melihat tingkah majikannya itu, dia tahu kalau Aryalah yang dicari oleh Arin.
***
Arin kini tahu kemana perginya Arya saat dia melihat laki-laki itu kembali dengan menggunakan baju Koko dan kain sarung. "Udah bangun Dek? Kita ngeteh di depan yuk… udaranya enak masih sejuk..!" Ajak Arya.
"Masih gelap ah Mas, bukan sejuk tapi malah dingin," tolak Arin.
"Sepuluh menit lagi juga sudah mulai terang kok Dek," ucap Arya seolah memaksa.
Karena kegigihan Arya, membuat Arin menyerah dan mengikuti kemauan suaminya itu. Kini mereka duduk di depan teras saat angin dingin menyapa mereka, matahari masih bersembunyi karena belum berani keluar, dan terdengar juga suara ayam jago berkokok.
Air berwarna keruh yang baru saja diantarkan oleh Bu Ijah mengepul mengeluarkan asap. Ingin rasanya Arin menghangatkan tubuhnya, tapi sayang air minum itu masih terlalu panas.
Pagi itu sikap Arin masihlah ketus, tapi tidak bisa dipungkiri jika Arin sudah mulai luluh dengan kebaikan suaminya itu. Kekecewaannya terkikis oleh cinta yang ternyata masih ada dalam hatinya.
"Dek, maaf ya untuk semuan yang telah terjadi selama ini, Mas menyesali semua perbuatan yang Mas lakukan padamu dan –," ucap Arya yang seakan berat menyebutkan satu nama yang telah pergi untuk selamanya.
"Shyna? Sudahlah Mas, aku juga tidak mau kalau terus-terusan seperti ini. Jika aku terus saja menyalahkan kamu dan selalu merasa sedih, itu sama saja aku tidak menerima takdir. Qodo dan qodar manusia bukankah sudah tertulis di lauhul Mahfudz," ucap Arin.
__ADS_1
"Hmm… iya dan meninggalnya Shyna juga sudah takdir dari-Nya, tapi… tetap saja Mas merasa begitu bersalah," jawab Arya.
"Sebaiknya kita memang membuka lembaran baru..!" Ucap Arin sambil tersenyum.
Senyuman yang sudah lama tak dilihat oleh suaminya. Arya pun ikut tersenyum melihat istrinya bisa mengikhlaskan kepergian anak mereka. Mereka harus bisa bangkit dan jangan berlarut-larut dalam kesedihan lagi.
***
Enam bulan berlalu, waktu yang cukup lama untuk Arin dan Arya yang menantikan kehadiran buah hati lagi. Pagi ini Arin sangat bahagia mengetahui jika dia sedang mengandung 3 Minggu, setelah kemarin dia memeriksakan diri ke klinik.
"Non selamat ya…," ucap bi Ijah.
"Makasih Bi," jawab Arin sambil tersenyum.
"Non, apakah Den Arya bau lagi?" Bisik bi Ijah pada Arin.
"Hahahaha…," Arin tertawa.
"Apanya yang lucu Dek?" Tanya Arya. Lelaki itu baru saja muncul, entah mengapa hari ini dia merasa bajunya tidak cocok dan sudah berkali-kali menggantinya.
Lelaki itu pun duduk, entah mengapa dia mencium bau. Dia mendadak mual, "huek, huek…"
Arya bergegas ke kamar mandi, tapi tidak ada makanan yang berhasil keluar. Hanya ada cairan bening, mungkin karena memang dia belum makan apapun sejak semalam.
Kenapa aku mendadak mual? Kenapa hari ini rasanya aneh sekali, batin Arya.
Arin yang khawatir, dia mencoba mengetuk pintu berkali-kali. "Mas, kamu gapapa? Mas…"
Tapi tidak ada jawaban, membuat Arin kini harus menunggu didepan pintu dengan perasaan cemas.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Arya begitu tampak lemas. Arin langsung memapah suaminya ke kamar, tapi Arya malah menghindar, dia mencium bau tak enak pada tubuh istrinya itu.
"Dek, kamu belum mandi?" Tanya Arya.
__ADS_1
"Udah kok Mas," jawab Arin.
"Tapi kok–," ucap Arya yang tak mampu dia lanjutkan.
"Apa aku bau? Hmm… kamu kok mual kaya orang hamil Mas, trus udah gitu menghirup bau aneh juga. Aku udah mandi loh Mas, apa jangan-jangan–," tanya Arin.
"Maksud kamu apa Dek? Gak mungkin kalau Mas ngidam kaya kamu dulu kan? Gak… gak mungkin karena Mas laki-laki," ucap Arya.
Lelaki itu menolak dengan kebenaran yang terjadi pada dirinya, Bi Ijah dan Bu Nadia pun sudah menjelaskan jika terkadang memang ada yang malah suaminya yang ngidam. Arya kini terbaring diranjang, dia tidak selera untuk makan. Hanya minumanlah yang mampu Arya telan, itu pun harus berasa jeruk atau teh manis.
Arin terlihat hanya berdiri jauh, dia tahu kalau kehadirannya malah memperburuk keadaan suaminya. Arya mengeluh kalau tubuh Arin itu bau dan mual-mual bila dekat dengannya.
Arya kini menyadari jika menjadi seorang ibu hamil yang ngidam itu sulit. Dia sering pusing dan gampang mual, itu sangat menyiksanya. Arya kini juga percaya kalau dulu Arin tidaklah berpura-pura.
Seharusnya dulu aku mengerti keadaan Arin, dia dulu tersiksa dan aku malah pergi, tak mau memahaminya. Padahal aku seharusnya menemaninya, dan selalu ada untuknya, batin Arya.
Untunglah, keadaan itu hanya sebulan dirasakan oleh Arya. Lelaki itu akhirnya bisa hidup seperti biasanya, dia kembali menjadi Arya yang dulu. Suaminya yang begitu perhatian, begitu peduli, begitu romantis dan selalu memprioritaskan istrinya.
Hari ini mereka berbelanja baju bayi bersama, menikmati hari-hari bersama sambil menunggu kelahiran sang buah hati. Badai pasti berlalu, Arin bersyukur karena rumah tangganya kembali seperti semula.
Cekrek
Cekrek
Arin mengambil foto suaminya yang sedang memilih peralatan bayi. Wanita itu tersenyum senang, "hmm… upload di sosmed gak ya?" Gumam Arin pelan.
"Hmm…" tiba-tiba Arya sudah ada disamping Arin, memperhatikan layar ponsel istrinya itu.
"Eh kamu Mas, gak kok. Ini cuma disimpan di galeri aja , buat kenang-kenangan, hehe…," jawab Arin sambil tersenyum malu, dia tahu apa yang dipikirkan oleh suaminya itu.
...Tamat...
Terimakasih untuk kalian yang sudah membaca sampai di Bab ini. 🙏🙏
Jangan lupa follow akunku ya icha_violet ( Teh icha ) kalian bisa baca karyaku yang lainnya, udah ada beberapa novel lainnya yang sudah tamat. 🤗🥰
__ADS_1