Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Seperti Pencuri


__ADS_3

"Memangnya aku tadi bicara apa Mas?" Tanya Arin pura-pura tidak tahu.


"Loh, kan tadi kamu bilang kalau Amel bukan istri Mas. Maksudnya bagaimana?" Tanya Arya.


"Oh itu, Menurut penjelasan Mas sebelumnya kan, Mas tidak punya perasaan apapun pada Amel. Tidak merasa pernah menikahinya, banyak keraguan dalam hati Mas. apalagi aku menemukan fakta kalau Amel melakukan semacam pelet agar Mas tunduk. Aku ragu saja Mas, apa sebaiknya Mas tanyakan lagi pada saksi-saksi pernikahan Mas dulu, apa memang benar ada pernikahan diantara kalian..!" Jawab Arin.


Arya yang mencoba mencerna ucapan istrinya itu, kini dia menganggukkan kepalanya. Dia berniat untuk mencari tahu lebih lanjut, karena dia tidak ingat kapan menikahi wanita itu.


Apakah pernikahan ini sah? Bukankah aku dalam pengaruh ilmu hitam, batin Arya.


"Bener juga kamu Dek, nanti Mas akan mencari tahu. Mas juga penasaran apa tujuan wanita itu, apakah ada hubungannya dengan kak Fadil atau dia hanya lari saat tahu kalau aku adiknya kak Fadil? Itu masih mengganggu pikiran Mas," ucap Arya.


"Iya sih Mas, Amel memang penuh misteri," jawab Arin. Meski sebenarnya dia telah tahu semuanya.


***


Beberapa hari kemudian, Arin mendapat pesan lagi dari Amel. Wanita itu meminta nomor Fadil, karena Arin tidak memilikinya, dia pun harus berusaha mencari nomor itu dari ponsel sang suami. Dia harus mendapatkannya tanpa diketahui oleh Arya.


"Aku tidak memiliki nomor kak Fadil, kalau mas Arya sih pasti punya," jawab Arin kala itu.


"Yaudah kamu salin aja dari ponsel Arya..! aku benar-benar membutuhkannya, aku mohon…," ucap Amel.


"Akan aku usahakan Mel, tapi aku tidak janji ya," jawab Arin.


"Iya, aku tunggu secepatnya ya Rin, makasih…," ucap Amel.


***

__ADS_1


Kini Arin sedang duduk ditepi ranjang, dia memperhatikan Arya yang sedang tidur. Dia sangat gugup, dia belum pernah melakukan ini sebelumnya, memang untuk masalah ponsel… Arin maupun Arya tidak pernah saling mengotak-ngatik, mereka saling percaya satu sama lain. Ponsel mereka juga sama-sama tidak dikunci.


Ambil gak ya? Aku gemetaran, apakah ini dosa? Tapi… aku hanya membutuhkan nomor kak Fadil aja, bisa saja aku memintanya secara langsung, dan pasti Mas Arya memberikannya. Tapi untuk saat ini, aku belum bisa mengatakan tentang aku yang saling bertukar kabar dengan Amel. Maafkan aku Mas, aku tidak berniat lancang, batin Arin.


Wanita itu memperhatikan ponsel suaminya, perlahan tapi pasti ponsel itu akhirnya berada ditangan Arin. Karena gugup, bahkan tangan Arin kini basah, dia sekaan sedang menjadi seorang pencuri saat ini.


Dia berusaha mencari apa yang dia butuhkan dengan cepat. Sebelum mendapatkan nomor Fadil, dia terlebih dulu melihat chat mesra dari seorang wanita sebelumnya, meski Arya tidak membalasnya. Pesan itu lebih menarik perhatiannya daripada tujuan asalnya.


Arin memeriksa pesan itu, ternyata pesan datang ketika sore tadi. Karena mengira Arya sedang online, wanita penggoda itu mengirim pesan lagi pada suami Arin, kini bukan pesan teks, tapi gambar wanita itu yang sedang memakai baju seksi.


"Astagfirullahaladzim…," ucap Arin.


"Dasar wanita murahan," gumamnya lagi.


Arin pun membalas pesan itu. (Jangan menggangguku, aku sudah punya istri. Apa kamu tidak malu melakukan hal itu? Aku sama sekali tidak tertarik) balas Arin di ponsel Arya.


(Aku akan menunggu kamu sampai kamu tertarik, aku tidak akan menyerah. Coba bandingkan aku dan istrimu itu! bukankah aku lebih cantik darinya?)


Setelah puas, Arin menunggu balasan dari penggoda itu. Ternyata 5 menit berlalu ponsel Arya tidak menampilkan pesan apapun.


"Akhirnya dia menyerah juga, aduh… aku sampai lupa untuk menyalin nomor kak Fadil," gumam Arin.


Dengan segera Arin menghapus percakapan tadi, memblokir nomor wanita tadi. Dia kembali meluncur ke kontak yang ada di ponsel Arya. Setelah mendapatkannya, dia pun menyimpan ponsel itu ditempat semula.


"Dek…, kamu kok belum tidur?" Suara Arya kini terdengar menakutkan bagi Arin. Dia kaget bukan main karena merasa ketahuan.


Deg

__ADS_1


"Eh, Mas kok bangun, mau minum Mas? Biar aku ambilkan," jawab Arin. Jantungnya kini berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Gak usah Dek, kamu yang aneh, malah duduk disitu dan belum tidur," ucap Arya.


"Aku hanya terbangun Mas, hehe… aku tiba-tiba lapar Mas, aku mau ke dapur dulu ya?" Jawab Arin. Dia berlalu pergi setelah Arya menganggukan kepalanya.


Arin bergegas pergi ke dapur, dia mencari air dan segera meneguknya sampai habis. Rasa gugup dan takutnya membuat dia sangat kehausan.


"Gara-gara Amel nih, untung saja gak ketahuan," keluh Arin. Dia mencari cemilan dan membawanya ke kamar, dia takut jika harus makan sendirian di dapur. Apalagi ini sudah malam, tapi jika dia tidak membawa apapun… itu akan membuat Arya curiga.


"Dek, kamu mau ngemil jam segini? Bukannya kamu takut gendut?" Tanya arya saat melihat Amel kembali dengan dua toples cemilan.


"Hehe, iya juga ya Mas. Aku simpan lagi deh," jawab Arin dengan perasaan senang.


Tapi Arya menahannya, dia yang sudah terlanjur angin dan susah tidur. Akhirnya dia mengajak Arin untuk makan nasi goreng dimalam hari. Ingin rasanya Arin menolak, tapi dia tidak bisa karena dari awal dia beralasan lapar.


Aku pasrah, aku harus menemani Mas Arya makan nasi goreng ini, batin Arin. wanita itu pun merasa aneh karena dia rela melakukan hal itu demi Amel.


***


Pagi-pagi sekali terlihat Bu Nadia datang dengan mata sembab. Terlihat lesu, bahkan menolak untuk ikut sarapan.


"Ibu kenapa?" Tanya Arya.


"Fadil, kakakmu marah-marah sama ibu lewat telepon tadi pagi, hiks …," jawab Bu Nadia sambil menangis.


"Kak Fadil, marah kenapa Bu? Kok bisa?" Tanya Arin.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Bu Nadia malah menangis semakin kencang.


Bersambung…


__ADS_2