
Hari ini begitu melelahkan untuk Arya, dia bahkan pulang lebih satu jam dari yang seharusnya. Hari sudah menunjukan pukul 17.00 WIB, dan sore ini cuaca cukup bagus. Meski sudah sore tapi masih terang, membuat Arya kehausan, dia pun menepikan mobilnya untuk sekedar membeli minuman.
Sekitar 15 menit lagi dia sampai dirumah, saat ada belokan entah mengapa dia malah membelokkannya ke kiri, padahal rumahnya seharusnya belok ke kanan.
Mobilnya tiba-tiba berhenti didepan rumah bercat biru dan putih. Halaman yang cukup luas dan terlihat ada balita 3 tahun yang cantik sedang berlarian mengejar bola.
"Cila …," ucap Arya tanpa sadar. Dia tahu kalau nama anak itu Cila, dia turun dari mobil dengan senyum bahagia. Arya pun tidak tahu kenapa dia bisa sebahagia ini bertemu anak perempuan yang bahkan bukan darah dagingnya.
"Pap, papah…," panggil Cila. Anak itu berlari kencang dan memeluk Arya yang sudah berjongkok.
Ada pelukan hangat yang Arya rasakan, dia begitu menyayangi anak itu. Seperti ada ikatan tapi entah ikatan seperti apa dia pun tak tahu.
"Mamah…," ucap Cila. Anak itu menarik lengan Arya agar cepat masuk menemui ibunya.
Langkah kaki Arya seakan memaksanya untuk masuk, tapi hati Arya sedikit menolak dan terasa berat. Sepertinya hati dan tubuh Arya bergerak berlawanan.
Arya kini melihat wanita cantik dan seksi di hadapannya, wanita itu langsung menyambutnya. Membawakan tasnya dan membuka baju jas yang dipakainya. Dengan patuh Arya duduk dan langsung minum es teh manis yang dibuat wanita itu.
Segar... ya, tenggorokan Arya kini terasa segar. Rasa lelahnya juga seakan hilang.
"Mas, kamu menginap disini kan malam ini?" Tanya Amel.
Arya menatap bola mata wanita itu, dan dia pun mengangguk. "Iya sayang…," jawab Arya.
Lelaki itu begitu menikmati sore itu, bermain dengan Cila dan malamnya dimanjakan oleh Amel. Pijatan yang membuat rasa lelahnya hilang kini berubah menjadi penyatuan mereka berdua.
Arya seakan lupa pada Arin, entah kemana nama wanita itu tiba-tiba menjadi tak penting di hatinya, yang dia ingat Arin adalah wanita yang egois. Selalu ingin dibahagiakan dan dimengerti sementara dia tidak pernah mengerti akan keadaan Arya. Hanya bersama Amel Arya merasa diperlakukan sebagai suami yang berharga dan diperlakukan istimewa.
__ADS_1
Sekitar pukul 21.00 WIB, ponsel Arya berdering tapi Arya sudah tidur dengan pulas. Amel menatap ponsel itu dan mematikan panggilan yang masuk, bahkan dia kini menonaktifkan ponsel Arya.
Biarlah dia merasakan akibat dari kesombongannya, siapa suruh dia menantangku. Aku yang sudah lama ingin masuk ke keluarga Herman itu ternyata mempunyai jalan lain. Ya… Arin, kamulah yang memberiku jalan itu, batin Kamelia.
***
Pagi hari Arya melewatkan shalat subuh. Kamelia sengaja membiarkan suaminya itu tidak melakukan kewajibannya. Saat bangun Arya disambut oleh Amel yang sudah cantik, "pemandangan yang indah," gumam Arya.
"Cepetan mandi Mas, airnya sudah siap..! Aku juga sudah menyetrika baju kerjamu dan sarapan pun sudah siap," ucap Amel.
Sebelum mandi, Arya malah mendaratkan bibirnya di bibir Amel yang merah itu.
"Mas…, kamu belum mandi," keluh Amel. dia menjauh dari tubuh Arya.
Arya sedikit kesal, dia pun bergegas ke kamar mandi, dia tidak boleh terlambat hari ini. Sarapan kali ini pun tanpa ada Cila, anak itu ternyata masih menikmati mimpi indahnya. Tapi sebelum berangkat, Arya menyempatkan diri untuk mencium kening balita itu.
"Aku berangkat dulu ya, Oh iya, apa kamu melihat ponselku?" Tanya Arya.
Arya pun berangkat, di dalam mobil dia mengaktifkan kembali ponselnya. Begitu banyak panggilan dari istrinya, Arya sedikit bingung menjelaskan ini semua.
Selang beberapa menit, Arin menelpon dan Arya mengabaikannya, dia sedang tidak ingin bertengkar. Tiba-tiba ibunya pun menelponnya, Arya semakin dibuat bingung. Lelaki itu pun mengabaikan juga, dia berniat pulang saja dan menerima Omelan itu dirumah.
"Kenapa hidupku sekarang semakin rumit ya?" Gumam Arya.
***
Sore ini Arya memutuskan pulang ke rumah Arin, dia ingin menjelaskan sesuatu yang penting. Dia tahu kalau istrinya itu akan menanyakan banyak sekali pertanyaan. Arya harus siap mendengarkan wanita yang akan terus bicara di hadapannya, bahkan bisa saja sambil memakinya.
__ADS_1
Arya begitu terkejut melihat semua orang ternyata sudah berkumpul di rumahnya. Bu Nadia sang ibu, bahkan menatap Arya dengan tatapan tajam seperti harimau yang ingin menerkam mangsanya. Berbeda dengan Arin yang terlihat lebih santai, dia sudah mengetahui ini sebelumnya.
"Mas…, duduklah…!" Ucap Arin lembut.
Kenapa dia tidak marah? Apa dia tidak cemburu padaku? Apa dia sudah tidak mencintaiku dan merelakanku? Batin Arya, sedikit kecewa.
Arya pun duduk, dia memilih kursi yang agak jauh, hawa di rumahnya mendadak panas dan dia berkeringat.
"Coba jelaskan pada Mamah, apa benar yang dikatakan wanita itu?" Tanya Nadia pada Arya. Bu Nadia kini menatap Amel dengan tatapan tidak suka.
Dia benci karena wanita itu telah merusak rumah tangga Arya.
Apa Amel telah mengatakan semuanya, bagaimana ini? batin Arya.
"Aku menyayangi Cila Mah, aku pun menikah siri dengan Amel. Itu pun demi Cila, karena beberapa kali dia demam dan terus memanggil namaku Mah, aku tak tega dan entah mengapa aku begitu menyayangi Cila. Aku ingin menjadi ayahnya Mah,--" jawab Arya.
"Lalu kamu menyukainya diam-diam, apa tidak ada cara lain? Kamu mencoba membahagiakan anak orang lain sementara kamu mendzolimi istri kamu ini? Apa menurutmu itu pantas?" Tanya Bu Nadia.
"Tapi Mah, bukankah menikahi wanita lebih dari satu itu tidak apa-apa? Terlebih aku ingin menolong Cila," jawab Arya.
"Tapi seharusnya kamu memberitahuku Mas, lagipula Cila pasti punya ayah kandung, kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab atas anak itu," Arin mulai protes.
"Jadi menurut Tante, eh ibu mertua yang saya hormati. Apa saya harus meminta pertanggung jawaban ayah Cila yang entah pergi kemana. Tante pasti tahu–," ucap Amel yang belum tuntas karena Nadia memotong pembicaraannya.
"Sudah-sudah! Mamah pusing…, karena ini terlanjur terjadi. Itu terserah Arya saja," jawab Bu Nadia yang membuat Arin kecewa.
Arin bangkit, dia berlari dan menangis menuju kamarnya.
__ADS_1
"Arin…," panggil Bu Nadia. Wanita itu pun pergi menyusul Arin ke kamar. Sementara Arya seperti sedang bingung dengan sikap ibunya itu yang tidak biasanya tidak sejalan dengan Arin, hati Arya juga merasa aneh saat ini dia merasakan sakit tapi disisi lain dia bahagia ibunya merestui pernikahan keduanya. Sementara Amel tersenyum penuh kemenangan.
Bersambung ….