Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Kertas Mencurigakan


__ADS_3

"Entahlah, aku juga tidak bisa memilih diantara mereka," jawab Bu Nadia.


Terdengar suara Cila yang menangis, sementara Amel masih saja sibuk di dapur. Akhirnya Arin dan Amel sepakat masing-masing untuk memasak dua menu di pagi hari ini. Sepertinya mereka akan mengadu rasa masakan mereka.


Nadia menghampiri Cila yang menangis, anak itu langsung berhambur memeluk Nadia, "nenek…," panggil Cila. Seketika Nadia merasa bahagia, pelukan itu juga begitu hangat. Dipandanginya balita cantik itu, Nadia tersenyum melihat beberapa bagian wajah Cila yang mirip dengan seseorang.


"Apa benar kamu anaknya?" Gumam Nadia pelan.


Cila begitu cerewet dengan nada bicara yang belum terlalu jelas, membuat Nadia tertawa. Lucu, anak itu memang memberi warna dipagi ini. Momen yang memang sangat diinginkan Nadia, bermain dan bercanda dengan cucunya.


Apakah ini dia yang terkabul? Tapi aku tidak tega karena Arin yang tersakiti disini, batin Nadia.


***


Pagi itu Arya merasa kaget karena karena masih pagi tapi dia sudah dihadapkan dengan banyaknya makanan, dan itu makanan berat.


"Mas coba yang ini aja, opor ayam buatan aku enak banget loh..!" Ucap Amel.


"Mas, kamu kan suka rendang, ini aku buatkan khusus buat kamu," ucap Arin tak mau kalah.


"Aduh, aku memang suka makanan ini semua, tapi ini masih pagi. Lebih baik aku makan roti saja," jawab Arya. Dia memang tidak suka sarapan dengan makanan berat, sepertinya Arin lupa kebiasaan suaminya.


Cila yang ikut sarapan membuat Arya tiba-tiba memperhatikan anak itu. Arya begitu memanjakan balita itu, menyuapinya, dan mendudukkannya di atas pahanya hingga mereka duduk berdua. Persis seperti dalam foto yang dikirimkan Amel pada Arin. Arin menatap mereka dengan senyuman getir, dia yakin jika foto kemarin bukanlah editan.


Pagi itu Bu Nadia pamit pulang untuk sesuatu dirumah peninggalan almarhum suaminya, dia juga berniat menemui seseorang. Rumah itu memang sepi setelah kepergian Herman sang suami, membuat Nadia lebih betah tinggal dirumah Arin dan Arya.


Arya pun sudah berangkat bekerja, sementara Cila dan Amel sedang bermain dihalaman. Arin sedikit iri mendengarkan canda tawa ibu dan anak itu, saat berbalik badan, Arin menemukan dompet milik Amel. Dompet itu terbuka hingga memperlihatkan foto Amel dengan lelaki, tapi itu bukan Arya.

__ADS_1


"Dimana aku pernah melihatnya ya?" Gumam Arin.


Arin berniat menutup dompet itu tapi ada kertas dengan bahasa latin dicampur Arab yang sulit dimengerti. Dia mengambil kertas itu karena merasa curiga, dan ditaruh lagi dompet Amel dilantai.


***


Bergegas Arin pergi, dia meninggalkan rumah meski disana hanya ada Amel, Cila dan asisten rumah tangganya Kila. Arin berpikir jika surat penting dan berharganya pun telah disimpan di brankas.


Amel melihat Arin pergi tapi dia enggan untuk sekedar bertanya. Arin pun sama, dia melewati mereka seperti tidak melihat ada orang disana.


Mereka memang seperti jelangkung datang tak dijemput, aku harap mereka pulang tak diantar juga. Mereka pergi sendiri dari rumah ini tanpa dukungan siapapun, batin Arin.


Sebelumnya Arin juga telah mengirim pesan untuk meminta izin pada suaminya, meski Arya mengatakan "terserah" yang membuat hati Arin terluka, tapi dia setidaknya mendapatkan izin keluar rumah.


Tempat yang dituju Arin adalah rumah temanya yang bernama Salsabila. Ayahnya merupakan kyai yang cukup terkenal, ada alasan tertentu yang membuatnya datang menemui temannya itu dipondok.


"Iya, ini aku Arin, kamu apa kabar? Sudah lama aku tak kesini," jawab Arin.


"Baik Rin, iya lama banget. Tapi kok aku melihat ada sesuatu yang kamu inginkan hingga jauh-jauh datang kemari," ucap Salsabila yang membuat Arin merasa kaget.


Deg!


Bagaimana dia bisa tahu kalau aku ingin menanyakan maksud kertas ini? Batin Arin.


Arin tampak melamun, tapi Salsa mencoba bertanya lagi pada Arin. "Jangan bengong Rin gak baik..! Kamu kesini mau curhat kan? Kebiasaan deh kalau susah baru nyariin aku," celetuk Salsa.


Aku kira dia tahu masalah dan tujuanku, batin Arin.

__ADS_1


Sahabat Arin ini memang anak kyai tapi dia wanita berpenampilan tertutup berhijab biasa saja, tidak sampai memakai Khimar. Dia memang wanita yang jujur, apa adanya. Ceplas-ceplos jika bersama sahabatnya. Arin justru takjub karena dibalik kepribadian Salsa, dia wanita penghafal Al Quran yang tak banyak orang tau karena dari penampilan salsa yang terbilang biasa saja.


"Ayo cerita aja Rin!" Celetuk Salsa.


"Gak Sa, aku gak mau mengumbar aib keluarga. Eh tapi sebenarnya disini aku sih yang salah, aku cerita apa enggak ya?" jawab Arin lemas. Hari ini dia tidak bersemangat sama sekali.


"Gapapa kok kalau kamu gak mau cerita, tapi setidaknya kamu pasti punya alasan kesini, aku akan berusaha membantu semampuku," ucap Salsa.


Arin memeluk sahabatnya itu dengan erat, bahkan kini dia menangis di pelukan sahabatnya. Tanpa bertanya apapun lagi, Salsa gaya berusaha menenangkan sahabatnya, mengusap punggung Arin dengan lembut.


Arin meminta dipertemukan dengan ayah Salsa yang dipanggil Abah oleh sahabatnya itu. Mereka pun kini berjalan perlahan, melewati kamar-kamar para santriwati. Kemudian melewati tangga, melewati masjid yang lumayan besar. Hingga mereka sampai di sebuah rumah yang memang berdiri di samping pondok.


"Ayo masuk aja Rin, kamu masih ragu? Bukannya kamu ingin menyelamatkan keluarga kecilmu?" Tanya Salsa.


Arin mengangguk dan mengikuti langkah Salsa. Arin sadar kalau selama ini dia bukanlah istri yang sempurna untuk Arya, bahkan banyak memiliki kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu Arin akan memberikan kesempatan pada Arya untuk memperbaiki semuanya, apalagi jika apa yang dipikirkan Arin benar tentang Amel.


"Assalamu'alaikum…," ucap Arin dan Salsa berbarengan.


"Wa'alaikumsalam…," jawab Abah dan umi serentak.


"Bah, ini ada Arin datang bersilaturahmi," ucap Salsa.


Mereka pun mengobrol cukup lama, hingga Arin Berani mengeluarkan kertas kecil tadi dan menanyakannya pada lelaki yang dipanggil Abah oleh sahabatnya itu.


Kyai Rahman menatap kertas itu cukup lama, hingga mengeluarkan pendapat yang membuat Arin dan juga Salsa penasaran ingin cepat-cepat mendengarkan apa yang diucapkan kyai Rahman.


Mereka berdua diam tapi dengan sorot mata penuh rasa penasaran. Salsa menyenggol lengan Arin, tapi wanita itu tak menghiraukannya karena ada yang lebih penting yang ingin diketahui.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2