
Amel membalikan badannya, dia berusaha bersikap sesantai mungkin. Dia mengerutkan dahinya, "aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan Arin, sepertinya kamu sudah mengantuk makanya bicara ngelantur gitu," ucap Amel.
Amel menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlalu pergi, sementara Arin masih diam menatap kepergian wanita itu. Jika memang dia begitu menginginkan suamiku, lalu kenapa akhir-akhir ini dia seakan tak peduli pada Mas Arya, bahkan seakan tidak ada rasa cemburu padaku? Batin Arin.
***
Keesokan harinya, mereka sarapan bersama. Hari ini Arin tidak memasak karena tubuhnya terasa masih mengantuk setelah diajak bertempur oleh sang suami. Begitupun Amel, dia kurang tidur karena menjaga Cila yang tidak nyenyak tidur, sehingga pagi ini Bi Ijah bisa memasak dengan tenang tanpa keributan di antara kedua nyonya nya.
"Syukurlah mereka tidak bertengkar didapur lagi, daerah kekuasaanku jadinya aman deh, gak kaya kemarin kaya kapal pecah," gumam bi Ijah pelan sambil senyum-seyum.
Arya pun berangkat bekerja lebih dulu. Amel jika berniat pergi bekerja dan menitipkan Cila pada ibunya, wanita itu tidak mau bergantung hidup sepenuhnya pada Arya. Namun dia dikejutkan lagi dengan kedatangan Faisal yang kini datang bersama Bu Nadia.
Kali ini, apa yang mereka inginkan? Batin Amel.
Bu Nadia tampak resah, sementara Farhan sepertinya semangat sekali. Lelaki itu berhambur memeluk Cila, tapi dengan segera Amel melepaskan pelukan mereka.
"Maaf Mas, saya harus segera pergi," ucap Amel.
Enak saja setelah besar diakui, dulu dia kemana aja saat Cila butuh sosok ayah dan biaya makan, batin Amel.
"Tunggu dulu Mel, aku perlu memastikan sesuatu," ucap Fadil menahan Amel.
"Aku tidak peduli, kita hanya masa lalu. Aku tidak punya urusan lagi dengan kamu Mas, aku benar-benar harus pergi," jawab Amel.
"Maafkan aku Mel," ucap Fadil dengan pelan. Sepertinya lelaki itu memang menyesali sesuatu.
__ADS_1
"Untuk apa? Aku sudah melupakan semuanya Mas, aku harus pergi," ucap Amel. Padahal dia masih menyimpan kebencian dan sakit hati.
Amel beranjak pergi dengan memegang tangan Cila. Mereka pergi dengan beriringan, meski terburu-buru, Amel harus menyeimbangkan langkah kakinya dengan kecepatan jalan sang anak. Dia tidak mau seolah menyeret anak perempuannya, Amel menyayangi Cila meski anak itu lahir diwaktu yang tidak tepat menurutnya.
"Apa Cila itu anakku?" Tanya Fadil dengan sedikit keras agar bisa didengar oleh mantan pacarnya itu. Benar saja, Amel menoleh.
"Bukan, dia anakku. Dia cuma milikku, karena dari dulu Cila cuma punya aku sebagai ibu sekaligus ayahnya," jawab Amel dengan kilatan kebencian di matanya.
"Berarti dia benar anakku?" Tanya Fadil dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Bukankah kamu memilih pergi mengejar karirmu setelah kau menghancurkan kehidupanku Mas? Apa hak mu sekarang mengakui Cila? Sudahlah aku muak," jawab Amel kemudian benar-benar berlalu, meninggalkan lelaki itu yang masih mematung melihat punggung anak kecil yang semakin menjauh. Menjauh dan sulit diraihnya.
"Maafkan Mamah Dil," ucap Nadia dengan mata yang mulai basah. Nadia menyesali semuanya. Andai dulu aku percaya pada anak itu, andai aku mengakuinya dan merawatnya. Mungkin anak itu akan tahu jika aku juga neneknya, batin Nadia.
"Iya Mah, lagipula ini sudah terjadi," jawab Fadil.
Tampak jelas terlihat penyesalan Nadia. Arin yang mendengar semuanya, dia mencoba menenangkan ibu mertuanya. Arin juga merasa jika yang dilakukan Bu Nadia pada Amel itu sungguh keterlaluan. Hingga membuat Amel hidup memikul malu sendirian, kehilangan cita-citanya, belum hinaan dari warga sekitar. Sementara Fadil hidup dengan baik bahkan sampai sukses dan menikah.
Tapi, itu sebagian dari takdir juga. Semoga ada jalan terbaik bagi Amel, Cila, mas Fadil dan tentu juga mas Arya, batin Arin.
"Sabar Mah, sebaiknya kita mencoba memperbaiki semuanya daripada menyesalinya Mah..!" Ucap Arin.
"Mamah berharap Amel memaafkan Mamah Rin, dia benar kalau orang jahat terkadang lahir dari orang baik yang tersakiti. Mamah juga mengkhawatirkan Arya, jika dia tahu maka dia pasti merasakan kebingungan yang sama. Bahkan rasa canggung pada kakaknya," jawab Nadia.
"Aku takut kalau Arya membenci aku Mah, sosok lelaki yang tidak bertanggung jawab. Lelaki yang merusak masa depan wanita lalu meninggalkannya, Arya pasti kecewa dan menjaga jarak dariku," ucap Fadil.
__ADS_1
Arin termenung, dia juga memikirkan hal yang sama. Arya pasti tidak enak jika menikahi wanita dari masa lalu kakaknya, apalagi dengan anak kakaknya juga yang kini memanggilnya ayah. Masalah ini sekan rumit untuk diselesaikan, serba salah.
Aku juga terluka dengan pernikahan kedua Mas Arya, dan ini terjadi pasti karena ketidak bertanggung jawaban nya Mas Fadil. Dampaknya pada banyak orang, apalagi Amel yang pasti paling menderita, aku menjadi benci sekaligus kasihan padanya, batin Arin.
"Kita rahasiakan dulu masalah ini. Kita cari tahu dulu kebenaran tentang siapa ayah Cila, dan Arin juga jangan sampai kamu mengatakan hal ini pada Arya ya!" Ucap Nadia.
Arin mengangguk paham, dia juga belum siap dengan reaksi Arya jika tahu semuanya. Dia takut kalau Arya malah bermusuhan dengan sang kakak, dan dia takut kalau Arya merasa kasihan pada Amel dan lebih memperhatikan Amel dan Cila.
***
Fadil yang seharusnya kembali ke kota dimana dia berbisnis, nyatanya dia enggan pergi. Hatinya terasa tertinggal disini, perasaanya pada Amel pun tumbuh lagi, apalagi saat melihat Cila yang begitu mirip dengannya.
Bagaimana Fadil tidak bersyukur? Disaat istrinya belum bisa memberikan keturunan. Ternyata dia sudah punya anak yang tumbuh besar dan sehat. Begitu lucu dan menggemaskan. Membuatnya terus saja menahan rindu, dia ingin menghampiri Amel. Tapi dia tahu status wanita itu adalah istri kedua adiknya.
Aku merasa tidak bebas untuk memantau Amel, aku merasa tidak enak pada Arya. Sebaiknya aku mengorek informasi dari Arya dulu, siapa tahu dia mengetahui kebenaran tentang ayah Cila, batin Fadil.
Fadil menunggu Arya sampai sore hari, Nadia mengurung diri dikamar menyesali keputusannya waktu itu. Dia merasa telah menjadi wanita yang sangat kejam pada Amel. Aku memang pantas dibenci dan dihukum. Ya … aku bahkan tidak bisa membuat Cila memanggil nenek dengan tulus. Anak itu hanya menganggap ibu Amel adalah neneknya satu-satunya, batin Nadia.
***
Yang ditunggu-tunggu pun datang, Arya baru saja pulang. Fadil begitu bersemangat, sementara Nadia mulai cemas, dia berlari menuju ruang tengah dan berharap Fadil tidak mengemukakan kebenaran itu.
"Ada apa ini, kenapa Mamah dan Mas Fadil sepertinya begitu tak sabar menungguku pulang? Hehe…," ucap Arya kemudian duduk. Dia bahagia karena banyak anggota keluarga yang menyambutnya.
Arya kini merasa tegang karena tiga orang di hadapannya kini fokus pada dirinya. "Kalian semua aneh. Dek… kamu juga kok ikut-ikutan? Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Arya pada Arin dengan perasaan bingung.
__ADS_1
Bersambung….