
Arin diam, dia hanya melihat Bi Ijah yang pergi membuka pintu. Arya berjalan seperti biasanya dengan wajah yang biasa saja. Lelaki itu kaget saat melihat kehadiran Amel dirumahnya. Arya merasa risih jika ada wanita masa lalu kakaknya itu.
Arya mengulurkan tangannya, Arin mau tak mau pun dia harus mencium punggung suaminya. Mual masih terasa jika dia berdekatan dengan Arya tapi jika jarak mereka tidak terlalu dekat, itu tidak masalah untuknya.
"Mas duduklah..!" Ucap Arin.
"Dimana? Bukannya kamu tidak mau kalau aku dekat-dekat?" Tanya Arya dengan dinginnya.
"Disitu aja Mas, kalau gak terlalu dekat… aku masih tahan kok. Ada hal yang ingin aku bicarakan," jawab Arin.
"Tahan? Sebegitu bau nya kah aku?" Tanya Arya kesal. Lelaki itu memang sedang lelah akibat pekerjaan kantor yang banyak, sehingga saat dia pulang dan malah mendapatkan perlakuan seperti ini dari Arin, dia emosi.
"Bukan begitu Mas, aku gak bermaksud menghina kamu. Hanya saja ini kan bawaan hamil, kamu setidaknya mengalah demi anak kita..!" Jawab Arin.
"Seharusnya memang mengalah dan mengerti, bukannya malah belok," celetuk Amel.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Mel? Jangan memperkeruh keadaan!" Bentak Arya.
Disaat itu Arin menunjukan foto dimana suami yang begitu dipercaya sedang bermesraan dengan wanita lain. Lelaki itu membulatkan matanya, tapi matanya kini langsung tertuju pada Amel. Marah? Tentu Arya marah saat ada orang lain yang ikut campur dalam rumah tangganya.
"Ini cuma sesaat. Aku hanya butuh perhatian dan sentuhan kecil yang memang tidak aku dapatkan dari Arin semenjak hamil. Setelah dia melahirkan, aku akan kembali ke Arya yang dulu. Jadi kamu berhenti memata-mataiku!" Bentak Arya pada Amel. Lelaki itu juga ingin marah pada istrinya, tapi dia melampiaskan semuanya pada Amel. Menyalahkan wanita yang kebetulan ada dirumahnya, meski dia tahu dia salah.
"Hahaha, kamu lucu Arya. Kamu pikir Arin mau menerima kamu kembali disaat sudah dikhianati? Seharusnya kamu berpikir sebelum bertindak! Hamil itu 9 bulan, apakah selama itu kamu tidak bisa berkorban demi anak dan istrimu?" Jawab Amel.
Arin terisak, dia mulai meluapkan rasa sedihnya. Hingga dia merasa perutnya sakit luar biasa, membuat Arya dan Amel panik dan membawa Arin ke rumah sakit dengan segera. Selama diperjalanan, Amel terus menyalahkan Arya. Lelaki itu hanya diam karena tidak bisa membela diri, kini dia mengakui kalau kelakuannya bisa membahayakan anaknya juga.
Beberapa jam berlalu, di rumah sakit sudah banyak orang. Nadia juga ada disana karena mengkhawatirkan menantu dan calon cucunya. Bahkan Fadil dan Siska pun turut hadir, membuat Amel merasa tidak nyaman.
Kehamilan Arin sudah menginjak 8 bulan, tapi bayinya memang belum saatnya lahir. Tapi karena kemarin terjadi kontraksi, membuat bayi itu lahir dalam kondisi berat badan yang kurang. Bayi perempuan itu kini harus berada dalam inkubator.
Kondisi Arin sangat lemah, dia belum sadarkan diri setelah proses melahirkan sebelumnya. Amel tidak bisa pulang meninggalkan Arin dalam keadaan seperti itu, keluarga Arin dari kampung juga sedang dalam perjalanan.
__ADS_1
"Kok bisa sih Arin melahirkan kurang bulan Ya?" tanya Nadia pada anak lelakinya.
"Jangan menanyakan hal itu dulu Bu, kita fokus pada kesehatan Arin sekarang. Ibu bisa menanyakan hal itu pada dokter disaat semua sudah tenang..!" Jawab Arya.
Arya mengacak-ngacak rambutnya, dia begitu menyesali perbuatannya. Dengan jelas dia melihat proses persalinan istrinya yang membuatnya seakan ikut merasakan kesakitan itu. Melihat banyaknya darah yang mengalir, membuatnya semakin merasa bersalah.
Amel benar, istriku sedang berjuang mengandung dan melahirkan anak untukku. Seharusnya aku mendukungnya dan memahaminya bukannya malah bersikap egois dan membahayakan nyawa mereka, batin Arya.
Arya melangkahkan kakinya perlahan menuju ruangan khusus bayi. Dia hanya bisa melihat bayinya dari balik kaca besar. Ingin rasanya dia menggenggam jari mungil bayinya dan berkata "bertahanlah demi Mamah dan Papah , Nak..!" Tapi dia tak mampu melakukannya, dia hanya mengatakan itu pelan dan tentu memantul lagi karena ada kaca penghalang diantara mereka.
"Papah sayang sama kamu Nak, bertahanlah agar ibumu juga bertahan..! Papah gak sanggup kalau harus kehilangan kalian berdua, hiks…"
Kali ini Arya benar-benar menumpahkan air matanya. Entah kapan dia terakhir kali menangis, dia benar-benar tidak ingat. Tapi yang jelas, hari ini tangisan itu juga sebagai bentuk penyesalannya.
Bersambung…
__ADS_1