Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Tamu


__ADS_3

"A-arya, kamu sama siapa disini? Bikin kaget aja sih tiba-tiba nongol begitu," ucap Amel.


"Hmm, apa kamu bersama Arin juga?" Tanya Arya.


"Arin? Aku sendirian kok. Memangnya kenapa?" Tanya Amel.


"Gapapa, yaudah aku mau balik ke kantor. Tadi cuma ada pertemuan bisnis aja disini. Oh iya, kamu itu jangan kebanyakan main, urus Cila dengan baik!" Ucap Arya kemudian berlalu pergi.


Amel kesal karena kalimat terakhir yang diucapkan Arya. Dia tidak terima jika dinilai sebagai ibu yang buruk, karena hanya dialah yang tahu apa arti berjuang demi anaknya, dia yang bertahan demi anaknya, dia yang mampu menahan hinaan orang lain demi mempertahankan Cila di rahimnya.


"Tak sepantasnya dia mengatakan itu, justru dia yang lebih buruk. Bagaimana bisa seorang suami malah selingkuh disaat istrinya hamil anak yang begitu dinantikan. Lelaki egois yang tak punya pikiran," gumam Amel kesal sambil menatap sinis pada punggung Arya yang semakin lama semakin tak terlihat.


Arin yang merasa cemburu, ditambah keadaan hatinya yang begitu kacau karena Amel tidak membalas lagi pesannya. Dia pun mencoba menelpon wanita itu walau kini pipinya mulai basah.


"Iya Rin ada apa?" Tanya Amel.


"Hiks…, apa mas Arya masih ada disana bersama wanita itu?" Tanya Arin sambil terisak.


"Udah pergi," jawab Amel singkat.


"Yaudah kamu ikuti lagi Mel, siapa tahu tadi cuma salah paham. Siapa tahu wanitanya aja yang kaya ulat bulu (gatel)," ucap Arin di seberang sana. Wanita itu berusaha menepis pikiran negatifnya agar pikiran dan kandungannya tidak apa-apa mengingat di sering sekali pingsan akhir-akhir ini.


"Males ah Rin, suamimu itu memang menyebalkan. Aku melihatnya disini, aku yakin kalau Arya memang merespon wanita tadi. Kamu yang kuat ya Rin! Aku yakin kok nanti juga dia menyesal," jawab Amel. Antara kasihan dan malas meneruskan tugasnya ini, Amel dilanda rasa bingung.

__ADS_1


"Aku mohon Mel, cari lebih banyak informasi lagi..!" Pinta Arin dengan suara pelan terdengar memohon.


"Oke, oke. Hanya sampai Arya pulang kerja. Apa aku harus membuntutinya juga saat dirumahmu?" Amel sedikit keberatan juga sekarang, dia tadi hampir ketahuan. Sebenarnya tak masalah jika Arya tahu kalau Amel membuntutinya, dia hanya tidak bisa bergerak bebas jika dari awal sudah ketahuan.


"Hehe, ya enggak lah. Di rumah kan ada aku, mana berani mas Arya membawa wanita kesini," jawab Arin dengan sedikit tawanya.


"Nah gitu dong ketawa. Kamu galau terus sih, bikin mood aku juga ikut berantakan dan tidak fokus untuk menjadi detektif profesional," ucap Amel.


"Hahaha…," Arin malah tertawa sangat keras, bahkan membuat telinga Amel sakit saking membisingkannya itu.


"Kamu kenapa ketawa gitu sih? Telingaku sakit tahu. Perasaan aku gak ngelawak deh," tanya Amel kebingungan.


Arin tak menjawab, dia menyuruh Amel untuk kesekian kalinya agar wanita itu mau mengikuti Arya lagi. Jika Arin sedang tidak berbadan dua, dia pasti akan melakukannya sendiri, bukankah menyenangkan jika bermain penyelidikan seperti itu. Arin akan lebih senang, dia akan melabrak langsung pelakor yang dia pergoki.


Amel pun akhirnya terpaksa mengikuti Arya lagi ke kantornya. Selain untuk tas, sebenarnya Amel peduli pada Arin.


Sementara itu di kediaman Nadia. Terlihat wanita itu sedang mengikuti Cila berlarian di taman depan. Cila memang anak balita yang aktif, membuat Nadia harus memiliki tenaga ekstra saat menjaganya. Cila memang menempel pada Nadia, dia tidak mau jika orang lain yang menemaninya.


"Cila, ibu kamu mana sih? Lama banget. Kamu main sama Bi Lala dulu saja ya..!" Ucap Nadia. Wanita itu memerlukan tidur siang walau hanya satu jam.


"Gak mau, Cila maunya main sama nenek aja," jawab Cila sambil cemberut.


Nadia yang tidak tega, dia pun memaksakan diri meski matanya sudah terasa berat. Akhirnya Nadia memilih membawa Cila main di dalam kamar agar dia bisa sambil tidur siang. Tak lupa dia sudah menitipkan Cila pada Lala yang sekarang sedang menemani Cila bermain, butuh pemikiran ekstra saat membujuk balita itu sampai dia mau membiarkan neneknya tidur.

__ADS_1


 


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu, Bi Tati menghampiri kamar itu untuk memberitahu tamu yang datang.


"Baru juga 10 menit, ada apa sih Cila?" Tanya Nadia dalam keadaan mata masih tertutup karena mengantuk berat.


"Ibu, ini Tati. Ada mas Fadil datang bersama istrinya," jawab Tati.


Nadia bangun dengan segera saking kagetnya, "maksud kamu istri Fadil, Siska?" Tanya Nadia.


Tuti mengangguk pelan, Nadia pun beranjak untuk pergi ke kamar mandi. Setidaknya dia harus mencuci muka dan merapikan rambut yang acak+acakan itu, sungguh menyebalkan memang, tapi Siska adalah istri Fadil yang dipilihkan olehnya.


Untung saja Amel belum pulang, setidaknya mereka berdua tidak bertemu (Amel dan Siska). Nadia yang sudah rapi, dia berjalan menuju ruang tengah. Nadia menyuruh Lala agar tidak nakal dan keluar dari kamarnya selama Siska masih ada. Biasanya jika istri Fadil itu ikut, mereka pasti hanya mampir sebentar. 


"Kalian apa kabar?" Tanya Nadia sambil berhambur memeluk anak lelaki dan menantunya itu.


"Alhamdulillah baik Bu," jawab mereka dengan kompak.


Tak lama, Fadil membisikan Nadia sesuatu. Wanita itu pun mengerti dan mengatakan jika Amel tidak ada dirumah dan semaunya akan aman. Tentu mereka berkomunikasi dengan berbisik dan isyarat.


Nadia menyambut mereka, bahkan kini sedang makan bersama di ruangan khusus untuk makan sekeluarga. Tiba-tiba ada tangan mungil yang menarik baju Fadil.


"Ayah sudah pulang?"

__ADS_1


Seketika Siska menatap Cila dan Fadil bergantian. Lelaki itu mendadak berkeringat meski di ruangan ber AC.


Bersambung …


__ADS_2