Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Keras Kepala


__ADS_3

Arin mencoba menenangkan ibu mertuanya, memberi pelukan, berharap rasa sedih Bu Nadia setidaknya berkurang dan bisa membuat wanita itu lebih tenang.


Arya menatap istrinya, dia mengerti jika istrinya mampu menenangkan ibunya. Dengan isyarat yang Arya lakukan mampu membuat Arin mengerti, wanita itu pun mengangguk membiarkan suaminya bekerja.


Pekerjaan Arya hari ini sangat penting, dia tidak bisa mengandalkan orang lain. Meski hatinya berat meninggalkan sang ibu dalam keadaan seperti itu, tapi dia percaya sepenuhnya pada Arin.


Setelah beberapa saat, Bu Nadia melepaskan pelukan mereka. "Arin, Mamah yang bersalah. Mamah tau itu tidak benar. Tapi sepertinya Fadil tidak mau memaafkan Mamah, hiks …," ucap Bu Nadia.


"Mungkin Kak Fadil masih memerlukan waktu Mah, nanti saat Kak Fadil sadar, dia pasti mengerti. Memangnya ini masalah apa Mah?" Tanya Arin.


"Fadil marah karena dulu Mamah merahasiakan kedatangan Amel yang mengaku hamil. Waktu itu Mamah malah mengusirnya," jawab Nadia.


Arin tidak terlalu terkejut, dia bisa menduga jika ini menyangkut masalah Amel. Arin berpikir jika Amel menghubungi Fadil saat mendapatkan nomor itu darinya, dan lelaki itu pun mengetahui kebenarannya.


"Aku tidak bisa membenarkan apa yang dilakukan Mamah dulu, tapi Mamah juga harus kuat. Lebih baik kita fokus pada masa ini saja Mah, bukan masa lalu..! Mamah bisa memperbaikinya," jawab Arin.


"Bagaimana caranya Rin? Fadil saja sudah sangat membenci Mamah, dia tidak bisa bertemu dengan anaknya sendiri. Siska istrinya sampai sekarang belum hamil, jadi Fadil sangat senang sekaligus terpukul dengan kabar ini," ucap Nadia.


"Kita mulai mencari keberadaan Amel saja dulu Mah," usul Arin.

__ADS_1


"Iya kamu benar. Mamah mau minta maaf dan memohon kepadanya agar bisa maafkan Fadil. Ini semua salah Mamah, Fadil tidak tahu tentang anak itu sebelumnya," jawab Nadia.


"Iya, Mamah jangan putus asa..! Dibalik ini semua pasti ada hikmahnya, Amel juga pasti membutuhkan waktu untuk mengatasi masalahnya, dia pasti sangat kaget saat dipertemukan lagi dengan masa lalunya, apalagi kak Fadil membuat Amel menderita sendirian," ucap Arin dengan hati-hati.


"Mamah berharap masih ada kata maaf untuk Mamah," ucapnya pelan.


***


Bu Nadia yang sedih, berniat menginap dirumah anaknya. Siang ini dia pun tidur karena merasa badan dan pikirannya sangat lelah.


"Rin…, Mamah tidur dulu ya, maaf karena gak bantuin kamu masak," ucap Bu Nadia.


Arin memberikan tugas memasak hari ini pada Bi Ijah, dia ingin menghubungi Amel disaat tidak ada siapapun yang akan mengupingnya. Dia bergegas ke kamar dan tak lupa mengunci pintu.


"Iya Rin, ada apa? Tumben kamu nelpon duluan," jawab Amel.


"Aku cuma mau tanya, apa kamu yang ngasih tau kak Fadil tentang semuanya?" Tanya Arin.


"Oh itu, iya Rin. Aku berharap dia semakin menyesal, tapi Fadil bilang kalau dulu dia sama sekali tidak tahu tentang kehamilanku. Aku tidak tahu harus percaya atau tidak," jawab Amel.

__ADS_1


"Aku pastikan itu benar Mel, karena sekarang Mamah Nadia sedih saat kak Fadil marah akan hal itu. Kak Fadil tak sejahat yang kamu pikirkan Mel, kamu dimana? Sebaiknya kita bicarakan saja secara musyawarah, bagaimana?" Tanya Arin.


"Gak. Aku belum puas melihat Fadil menderita Rin. Dulu aku sangat menderita karena dia meninggalkan aku. Jadi kini saatnya aku dan Cila meninggalkannya, biarkan dia mencari keberadaan ku jika dia masih peduli pada anaknya ini," jawab Amel.


Benar-benar keras kepala, batin Arin.


***


Seminggu berlalu, Nadia berusaha keras mencari keberadaan Amel dan cucunya. Dia juga tidak memungkiri jika dia merindukan cucu perempuannya. Selama seminggu itu pula Fadil sulit dihubungi, sepertinya lelaki itu masih marah. Beberapa kali Arya menelpon pun tidak diangkat oleh kakaknya.


"Ditolak Mah, kak Fadil sepertinya menghindari ku juga," ucap Arya.


"Besok aja di telpon lagi Ya..! Siapa tahu diangkat," jawab Nadia pelan. Dia kecewa, kecewa pada dirinya sendiri yang bisa sampai membuat anaknya menjauh.


"Iya Mah," jawab Arya.


"Amel juga belum diketahui keberadaannya, Mamah putus asa Ya," keluh Nadia.


Arin yang kasihan melihat ibu mertuanya semakin hari berat badannya turun karena tidak nafsu makan dan banyak pikiran. Apa aku kasih tahu aja ya nomor ponsel Amel, kan bisa dilacak keberadaannya?, batin Arin sedikit ragu.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2