Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Menginap


__ADS_3

"Amel, Mamah baru kenal saat kemarin dia ada dirumah Arya," jawab Nadia.


Arin tak tahu apakah benar atau tidak apa yang dikatakan mertuanya itu. Bisa saja Amel berhubungan dengan mas Faisal tanpa sepengetahuan Mamah, batin Arin, dia mencoba berpikir positif.


"Oh, kirain Mamah sudah kenal lama. Arin juga gak tahu mas Arya kenal lama atau tidak, tapi entah mengapa Arin merasa tak enak hati dan melihat jika mas Arya bukanlah mas Arya yang dulu," ucap Arin.


"Mungkin Arya berubah karena ada Amel, kamu yang sabar ya Rin. Mamah yakin Arya mencintai kamu lebih dari pada dia mencintai Amel. Mamah juga tidak suka dengan Amel, hanya saja Mamah suka tidak tega saat melihat Cila," jawab Nadia dengan jujur.


"Mamah benar, aku juga menyukai anak itu. Dia cantik, manis, lucu. Masyaallah…, ingin rasanya Arin punya anak seperti Cila Mah," ucap Arin sambil membayangkan anak itu.


***


Saat sore hari Arya benar-benar datang ke rumah Nadia. Meski Arya sedang dalam pengaruh Amel, tapi pria itu masih peduli pada ibunya tidak seperti perasaannya pada Arin yang hilang begitu saja.


Arya merasa kecewa yang teramat dalam pada Arin dan dia juga tidak tahu alasannya apa. Saat melihat Arin, lelaki itu tak dapat melihat cintanya disana, disatu sisi dia ingin menceraikan Arin tapi ada sisi lain yang entah seakan melarangnya. Arya sedang merasa hatinya memang mempermainkannya, hingga dia memilih membiarkan Arin menjadi istrinya meski sering diabaikan.


"Mah, gimana keadaan Mamah?" Tanya Arya dengan lembut.


"Udah sehat, Alhamdulillah Ya. Arin juga merawat Mamah dengan baik, dia istri dan menantu yang sangat baik," jawab Nadia.


Arin tersenyum mendengarnya, tapi wajah Arya biasa saja. Seharusnya lelaki itu setidaknya mengucapkan rasa terimakasih karena Arin telah merawat ibunya, tapi Arya cuek seakan tidak melihat keberadaan Arin.


"Mah, udah waktunya sholat ashar, bagaimana kalau kita berjamaah aja sekalian sama Mas Arya?" Tanya Arin. Wanita itu sengaja menggunakan momen ini agar Arya tidak menolak ajakan ibunya juga.


"Iya Rin, kamu benar. Ayo Arya kita shalat dan kamu jadi imamnya..!" Ajak Bu Nadia.


Arya pun mengangguk, membuat Arin senang. Sungguh Arin merindukan suaminya yang dulu, yang selalu memprioritaskan dirinya.


Setelah selesai shalat, Arin memanjatkan doa untuk kebaikan rumah tangganya, kemudian dia membaca beberapa ayat suci Al-Quran. Saat lantunan ayat itu terdengar, Arya hanya melamun menikmati suara merdu sang istri, membuat Arya tenang dan dia bahkan tertidur di ruangan mushola itu.

__ADS_1


Arin membelai rambut suaminya, begitu besar harapan Arin untuk membuat suaminya sadar dan kembali seperti sedia kala. "Mas, aku begitu merindukan sosok kamu yang selalu ada untukku," gumam Arin pelan.


Arin perlu tahu apa motif Amel melakukan ini semua, dia harus mencoba menggertak wanita pelakor itu. Dia tidak tahan melihat Arya bahkan seakan tidak mengenali dirinya sendiri.


Saat magrib tiba, terlihat Arya yang seakan cemas, Nadia dan Arin memandang ke arah lelaki itu dengan tanda tanya besar.


"Kamu kenapa Ya, kok gelisah begitu? Ayo cepetan kita shalat dulu..!" Ucap Bu Nadia.


"Gapapa Mah," jawab Arya. Lelaki itu merasa ragu saja untuk shalat. Ada sisi dari dirinya yang mencoba melarang melakukan ibadah.


Akhirnya Arya menjadi imam shalat untuk ibu dan juga istrinya. Setelah shalat Arya merasa tenang, tidak gelisah sebelumnya. Arin juga tampak khusyu melantunkan doa didalam hatinya untuk rumah tangganya ini.


Arya pun mencium punggung tangan ibunya, dan Arin mencium punggung tangan Arya. Sederhana tapi ini begitu membuat mereka semua berada di momen yang indah.


Malam ini rasanya Arya ingin menginap di rumah ibunya menemani Arin. Entah mengapa dirinya pun bingung dengan perasaannya pada Amel saat ini. Dia enggan menemui istri keduanya itu, dia juga tidak tahu kenapa bisa dia menikahi wanita itu. sekarang justru Arya merindukan Arin dan ingin menempel terus pada sang istri.


"Mas, kamu gak pulang ke rumah?" Tanya Arin.


"Oh, tapi bagaimana dengan Amel, apa dia gak marah?" Tanya Arin.


"Gak Dek, masa menginap dirumah ibu dia gak ngizinin, pasti dia memakluminya kok Dek, apalagi ibu kan lagi sakit," jawab Arya.


Malam ini Arin sedikit cemas, dia bukannya tidak ingin disentuh oleh suaminya. Tapi saat membayangkan suaminya yang juga melakukan hubungan suami istri dengan Amel, seketika Arin merasa benci dan enggan disentuh. Tapi jika dia menolak, tentu dia akan berdosa, ditambah dia juga tahu kalau sebenarnya Arya juga tidak sepenuhnya sadar menikahi Amel waktu itu.


"Mas kangen banget sama kamu Dek, malam ini kamu terlihat sangat cantik. Kenapa kemarin kamu terlihat berantakan dan wajahmu terlihat, emm… ah sudahlah, sepertinya Mas melihat kamu yang kemarin dan sekarang itu berbeda. Apa kamu merasa lelah Dek sampai tidak bisa mengurus diri sendiri?" Tanya Arya panjang lebar. Lelaki itu memang merasa ada yang janggal dengan penglihatannya atau memang istrinya yang mulai aneh.


"Kemarin ataupun sekarang aku sama aja Mas, pakaianku, penampilanku, bahkan sabun mandi dan shampo yang aku gunakan masih dengan wangi yang sama, kamunya aja yang lebih tertarik dengan Amel yang seksi dan membandingkan ku dengannya," jawab Arin merasa kesal.


Arin yang marah, dia keluar dari kamar itu meninggalkan suaminya yang sedang ingin menyalurkan nafkah batinnya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku jelek di matanya? Setiap hari aku mandi kok, aku gak jorok. Mas Arya saja yang jelalatan lebih suka melihat Amel yang seksi itu, semua lelaki sama saja" gumam Arin pelan. Dia merasa cemburu dan sakit hati dengan apa yang diucapkan Arya.


Dia menuju dapur, mengambil air minum dan menghabiskannya seketika. "Emosi ini membuatku haus terus," gumam Arin, kemudian dia mengisi gelasnya yang kosong dengan air dingin yang sengaja diambil dari lemari es untuk mendinginkan hatinya yang sedang panas.


***


Saat subuh datang dan terdengar adzan berkumandang, Arin membangunkan suaminya untuk shalat. Sebenarnya dia masih marah dan enggan bertegur sapa dengan Arya, tapi dia ingat pesan kyai Rahman kalau dia tidak boleh lengah. Arin ingin suaminya itu melaksanakan ibadah tepat waktu agar pengaruh buruk dari Amel hilang sepenuhnya.


Saat sarapan Bu Nadia mulai memecah keheningan pagi itu. "Ya, kamu kok masih nyantai. Kamu gak kerja?" Tanya Bu Nadia.


"Hari ini kan hari libur Mah, masa Mamah lupa," jawab Arya.


"Oh iya, Mamah kok bisa lupa. Mending kamu ajak Arin jalan-jalan sana, ke mall ke, ke kebun teh, ketempat wisata..! Pokoknya keluar rumah, kasihan Arin kalau setiap hari di rumah, Mamah juga kadang bosan dengan suasana yang begitu-gitu aja," ucap Bu Nadia.


Arin tersenyum, dia senang karena ibu mertua mengerti akan perasaannya. Menjadi ibu rumah tangga memang menghabiskan waktu di rumah saja, dan dia memang perlu suasana baru yang menyejukkan mata.


"Mamah mau ikut juga?" Tanya Arya.


"Ish, gak lah. Mamah masih ingin beristirahat biar benar-benar sehat. Kalian saja pergi berdua, anggap saja sedang Honeymoon, bila perlu menginaplah dihotel tanpa gangguan Amel,hehe…," jawab Bu Nadia sambil menggoda mereka.


"Mamah ini, aku dan Arin sudah menikah selama setahun. Kami bukan pengantin baru," jawab Arya dengan sedikit malu.


Tapi, tamu tak diundang pun datang, merusak momen pagi itu. Bu Nadia merasa kesal, Arin juga mencoba mengontrol emosinya pagi ini.


"Mas, kamu apa-apain sih, ponsel kamu gak bisa dihubungi dari kemarin. Meninggalkan aku dan cila dirumah itu sementara kamu malah enak-enakan disini," keluh wanita itu.


Arya berdiri dari tempat duduknya, dia menatap Amel dengan tatapan tidak suka. Seketika Amel mundur satu langkah, wanita itu terkejut dengan ekspresi Arya yang tak biasanya. Arya biasanya akan takluk di hadapan Amel.


Ada apa dengan Mas Arya, apa kekuatan itu sudah luntur? Batin Amel.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2