
Ternyata keluarga Arin menginap selama beberapa hari, Arya pun mendadak bersikap baik lagi, perhatian dan tidak cuek. Bahkan mengajak Arin beribadah bersama shalat berjamaah, hal yang sudah jarang sekali mereka lakukan bersama karena Arya terlalu sibuk dan jarang dirumah.
"Alhamdulillah…," ucap Arin.
Arya menatap istrinya yang berucap syukur tapi dia tidak mengerti untuk hal apa Arin mengatakannya. "Alhamdulillah untuk apa sayang?" Tanya Arya.
"Karena mas udah kembali seperti dulu," jawab Arin.
"Memangnya kemarin aku kenapa? Oh iya, ko tumben Mas tidak melihat postingan kamu beberapa bulan ini. Udah gak main sosial media lagi Dek?" Tanya Arya.
Meski sedikit merasa aneh dengan pertanyaan suaminya, Arin pun berniat menjawabnya seadanya tanpa menjelaskan lebih detail. Suaminya seperti memiliki dua kepribadian, tapi Arin tidak mau ambil pusing karena Arya yang sekarang yang dia harapkan.
"Iya, kan Mas yang minta. Aku akan lebih fokus sama kamu Mas, mau aku pijitin?" Jawab Arin. Dia ingin mengabulkan apa yang diinginkan suaminya, lebih memperhatikan Arya daripada ponselnya.
"Boleh, tapi plus plus ya? Hehe…," ucap Arya sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
Benar saja, Arya meminta jatah di malam ini. Arin merasa sangat bahagia. Suaminya benar-benar telah kembali, ingin rasanya dia menanyakan tentang Amel. Tapi Arin tak berani, dia tidak mau merusak momen indahnya. Dia tidak mau Arya tiba-tiba mengingat wanita itu dan pergi meninggalkannya lagi.
Arin memang merasa sakit hati karena pengkhianatan suaminya, tapi entah mengapa saat Arya bersikap baik seperti dulu, rasa cintanya kembali hadir meski sebelumnya sempat ada rasa benci. Dia merasa tidak bisa marah lebih lama pada suaminya dan akan terus bertahan. Mencoba memenangkan hal yang dianggapnya pertandingan dengan Amel. Dia harus bisa mengalahkan wanita itu.
Bu Nadia juga senang melihat rumah tangga anaknya kini baik-baik saja. Arin juga sudah sehat kembali, sudah bisa memasak untuk menghidangkan makanan spesial bagi keluarganya yang akan pulang siang ini.
"Ibu…, menginap lah lebih lama Bu…!" Rengek Arin seperti anak kecil.
"Jangan gitu Rin! Kamu gak malu bersikap seperti itu di hadapan banyak orang. Arya juga memperhatikanmu, lihatlah!" Jawab Bu Edoh.
Arya yang merasa terpanggil, dia pun membela sang istri. "Tak apa Bu, Arin sangat manis jika merajuk dan merayu begitu. Sepertinya ibu memang harus menginap beberapa hari lagi disini..!" Ucap Arya.
"Ish, anak sama menantu kompak bener, makasih Nak Arya, tapi ibu dan bapak punya urusan dikampung. Meski begini juga kami juga termasuk orang yang sibuk, hehe…," jawab Bu Edoh.
Diani dan Ujang yang mendengarkan, mereka tertawa pelan agar tak didengar yang lainnya. Mereka merasa lucu saja dengan tingkah orang-orang yang ada di depannya.
__ADS_1
Meski dengan sedikit drama dari Arin yang tetap tidak rela ditinggal keluarganya. Tapi mereka tetap memutuskan untuk pulang kampung, diani dan Ujang juga sama, mereka telah membangun rumah dikampung.
***
Rumah pun kembali sepi. Arya yang sedang libur kini hanya duduk menonton televisi. Arin mendekati lelaki itu kemudian menyandarkan kepalanya di atas pundak suaminya. Momen yang memang dirindukannya.
"Mas, nonton apa?" Tanya Arin berbasa-basi.
"Berita Dek, lebih Deket dong, merapat dek..! hehe...," ucap Arya menggoda Arin.
Arin pun semakin menempel, kini tangannya menggenggam erat tangan suaminya. Ingin rasanya wanita itu menghentikan waktu dan merasakan momen itu lebih lama, hatinya takut dan cemas jika sang suami teringat lagi dengan sosok Amel yang entah benar atau tidak sudah dinikahi suaminya.
"Kamu kok diem aja Dek," tanya Arya.
"Gapapa Mas, oh iya kemarin kok Mas tega sih ninggalin aku di rumah sakit. Malahan dua malam tak pulang," ucap Arin dengan pelan.
"Kapan? Memangnya kamu kemarin di rumah sakit, mana yang sakit sayang?" Tanya Arya dengan nada khawatir.
"Begini Mas, ada sesuatu yang–," ucap Arin yang belum tuntas karena terdengar suara ponsel Arya berbunyi dan lelaki itu memilih mengangkat teleponnya terlebih dahulu. Arya memberi isyarat dengan tangannya agar Arin menunggu dan membiarkannya menyelesaikan panggilan itu.
Arya pergi ke samping rumah, disana ada kursi di pinggir taman. Ada teman kerjanya yang membahas kontrak kerja sama, dan tentu itu sangat penting untuknya. Setelah selesai berbincang dia hendak masuk ke dalam rumah lagi, tapi dering ponselnya berbunyi lagi.
Tertera di layar ponsel itu nama "istriku", loh… untuk apa Arin menelponku, bahkan kami sedang ada dirumah? Sepertinya istriku ini sedang ingin bercanda atau mau romantis-romantisan, Batin Arya senang.
"Apa Dek, kamu ditinggal sebentar aja kangen. Sebegitu cintanya ya kamu sama aku?" Tanya Arya.
"Hmm…, sayang kamu lagi dimana? Aku sama Cila nungguin kamu loh," tanya Amel.
"Kamu siapa? Cila siapa? Sepertinya kamu salah orang," jawab Arya dan segera menutup teleponnya. Dahinya mengerut heran, bagaimana bisa ada wanita lain yang nomornya dinamai istriku? Aneh, batin Arya.
Lelaki itu pun segera menghapus nomor tadi dengan segera, dia tidak mau terjadi pertengkaran antara dia dan Arin.
__ADS_1
Arin ternyata sudah tidak ada, Arya pun mencarinya ke bagian rumah lainnya. Lelaki itu akhirnya menemukan istrinya sedang membantu bi Kila memasak.
"Dek, tumben masak?" Tanya Arya.
"Iya Mas, mau belajar masak biar kamu bisa menikmati makanan buatanku yang enak," ucap Arin sambil tersenyum. Wanita itu teringat ucapan Arya di rumah sakit jika Arya ingin diperhatikan, bukan hanya dirinya saja yang butuh perhatian. Arin berniat memperbaiki dirinya.
***
Ketika malam tiba Arya sudah terkapar diranjang. Hari ini melelahkan baginya karena mengantar Arin yang berbelanja berjam-jam.
"Mas bangun…! Mas kan belum shalat isya," ucap Arin.
"Nanti ya Dek, 10 menit lagi. Aku ngantuk," jawab Arya.
Arin pun membiarkan suaminya yang lelah itu tidur sebentar lagi. Tapi saat Arin membangunkannya untuk kedua kalinya Arya sedikit marah sambil pergi ke kamar mandi. Itu pun kembali dan tidur lagi, Arin merasa suaminya berubah lagi.
Saat subuh pun terulang lagi, suaminya enggan melakukan shalat padahal kemarin saja dia menjadi imam, dan aryalah yang mengajak Arin bahkan bangun lebih dulu.
***
Saat sarapan pagi, Arya diam seribu bahasa, tidak ada pertanyaan, tidak ada perhatian. Wanita itu pun memutuskan untuk memulai memecah kesunyian.
"Mas, bagaimana pekerjaanmu di kantor?" Tanya Arin.
"Ya seperti biasa aja. Kamu hanya perlu tahu urusan rumah, tak perlu mencampuri urusan pekerjaanku Dek!" Jawab Arya dengan kesal.
Deg
Mas Arya kenapa sih? kenapa aku merasa di permainkan, Batin Arin kebingungan.
Bersambung …
__ADS_1