
Arya memegang kepalanya yang entah mengapa tiba-tiba terasa sakit. Mereka membawa Arya ke rumah sakit dengan segera, bahkan Arya sudah tak sadarkan diri saat ini.
Arin dan Nadia sama-sama tak kuasa menahan tangis. Setelah diperiksa, dan menunggu satu jam lamanya, akhirnya Arya membuka matanya.
"Mas, kepalanya masih sakit?" Tanya Arin khawatir.
"Udah nggak ko Dek. Mas gapapa," jawab Arya dengan senyum yang dipaksakan.
"Tapi wajah Mas juga pucat, pasti menahan rasa sakit yang luar biasa, jangan tinggalin Arin ya Mas..!" Arin berhambur memeluk suaminya.
Arya mengusap pelan kepala istrinya, kemudian menghapus air mata Arin dengan lembut. "Mas gapapa Dek, memangnya Mas kenapa? Paling cuma sakit kepala biasa aja," ucap Arya mencoba menenangkan istrinya, meski dia sendiri lebih khawatir dengan penyakitnya.
Arin menghentikan tangisannya, dia kini duduk dengan tegak dan mulai menguasai kesedihannya. "Aku juga penasaran penyakit Mas apa, selama kenal sama Mas, gak pernah aku lihat Mas sakit begini," jawab Arin.
Arya memutuskan untuk pulang karena memang dia sudah merasa baik-baik saja. Dua wanita yang mengantarnya pun merasa lega.
***
Tiga hari berlalu, setelah hasil pemeriksaan keluar, dengan berbagai pemeriksaan yang cukup panjang saat itu. Arya juga melakukan CT scan di bagian kepala, memang hasilnya baru keluar hari ini.
Arya bahkan hari ini sudah bekerja seperti biasanya, tapi dia juga ingin tahu sakit apa yang dideritanya hingga membuat kepalanya begitu terasa sakit. Dia pergi sendirian menuju rumah sakit untuk mengambil hasil tesnya.
Dahinya mulai berkerut, surat itu menyatakan jika dia tidak memiliki penyakit apapun. Dokter menjelaskan jika dia sehat dan baik-baik saja, kepalanya juga tidak mengalami masalah apapun.
"Lalu kemarin aku sakit apa? Tapi rasanya begitu sakit sampai aku tidak sadarkan diri, benar-benar aneh," gumam Arya pelan.
Ditambah keputusan Amel yang ingin kembali tinggal dirumahnya secara tiba-tiba saat Arya kembali dari rumah sakit. Dia beralasan jika tidak nyaman tinggal bersama istri Arya yang pertama, wanita itu juga sudah tidak sering menghubunginya. Hanya sesekali, itupun jika ada sesuatu yang penting mengenai kebutuhan Cila.
Nadia sempat kesal dan mengatakan kalau Amel bukan wanita baik, karena saat suami sakit, wanita itu malah pergi. Perasaan Arya pun pada Amel kini bukanlah rasa sayang atau cinta. Tapi rasa kasihan apalagi membayangkan Cila yang selalu menyambutnya, menganggapnya ayah kandungnya. Anak itu memang membutuhkan kasih sayang seorang ayah.
Sesampainya di rumah, Arin langsung melemparkan banyak pertanyaan pada suaminya. Arin juga penasaran Arya sakit apa dan khawatir padanya.
"Gak apa-apa Dek, Mas gapapa kok. Hasilnya bagus, Mas baik-baik saja," jawab Arya.
"Loh ko aneh?" Tanya Arin. Wanita itu mengambil kertas yang ada ditangan suaminya.
__ADS_1
"Harusnya bilang Alhamdulillah Dek, apa kamu mau Mas punya penyakit parah?" Jawab Arya.
"Bu-bukan begitu Mas, hanya saja… melihat kondisi Mas kemarin sedikit membuat aku ragu. Apa tidak sebaiknya di tes ulang Mas?" Usul Arin.
"Emm… gak usah Dek. Mas serahkan semuanya pada yang diatas, kalau suatu saat Mas sakit kepala seperti itu lagi, baru Mas akan cek ulang. Selama baik-baik saja, Mas akan menganggap memang Mas sehat," jawab Arya.
***
Keesokan harinya Arya bersama Arin berniat menjenguk Cila, karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Arin dan Arya memang begitu peduli pada anak itu, meski Arin cemburu karena Arya akan menemui Amel, tapi dia mencoba meyakinkan dirinya dan menerima jika suaminya telah menikah lagi. Meski dirinya pun merasa ada kejanggalan, tapi dia memilih menyerahkannya pada Tuhan.
Sebelum mereka berangkat, ternyata tanpa diduga Amel malah datang ke rumah mereka.
"Mas, titip Cila ya. Aku ada perlu mendadak banget. Bisa kan?" Tanya Amel.
"Boleh Mel. Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Arya.
"Ada urusan sama temen, tapi ini penting," jawabnya.
"Oh iya boleh," jawab Arya.
Pemandangan yang hangat, tapi begitu menyakitkan bagi Arin yang merasa suaminya itu mencurahkan rasa kasih sayangnya pada anak yang bukan darah dagingnya dan bukan darah daging Arya. Dia juga ingin hamil dan punya anak.
Mereka tidak punya ikatan darah, tapi saling menyayangi seperti itu, batin Arin.
Arin mencoba untuk tidak membenci anak kecil yang tak berdosa itu. Dia hanya perlu membenci ibunya saja karena telah berani menjadi duri dalam ruang tangganya. Mereka membawa anak itu bermain di halaman belakang. Disana ada taman dan bunga-bunga pun bermekaran, Cila berlari kesana kemari mengejar bola.
Tak lama, ada Bi Pipah menghampiri mereka dan mengatakan jika ada tamu. Mendengar jika itu adalah Fadil sang kakak yang sudah lama tidak bertemu, membuat Arya segera bangkit dan memastikannya ke depan rumah.
"Kak Fadli," panggil Arya.
Lelaki itu menoleh, dan dia langsung berhambur memeluk Arya sang adik. "Gimana kabar kamu?" Tanya Fadli.
"Baik Kak, ayo masuk..!" Ajak Arya.
Mereka pun duduk sambil menunggu minuman yang dibawa Bi Pipah datang.
__ADS_1
"Kakak kesini sendirian? Udah ketemu sama Mamah?" Tanya Arya.
"Iya sendiri, istri Kakak sibuk dengan bisnisnya. Ya udah udah dong makanya kesini juga, tapi Mamah gak mau ikut, beliau bilang ada urusan sama temennya," jawab Fadil.
Arya mengangguk pelan, mereka tertawa saat membicarakan hal lucu yang mereka alami bersama waktu dulu.
Cila yang berlarian ke dalam rumah mencari sosok Arya, dia malah lari ke arah Fadil dan memanggilnya ayah. Mata lelaki itu tanpa ragu mengangkat Cila duduk di pangkuannya, dan Cila berhambur memeluknya seperti caranya memeluk Arya.
"Cila, ayah disini," ucap Arya sambil tersenyum.
Anak balita itu menoleh, tapi dia tidak mau berpindah ke pangkuan Arya. Cila lebih merasa nyaman dengan lelaki baru yang ada dihadapannya.
"Ayah…," ucapnya sambil memencet hidung Fadil.
Fadil hanya pasrah saat wajahnya dimainkan oleh anak itu, dia tidak marah sama sekali. Fadil merasa senang saja, malah dia tersenyum. "Oh iya, ini anak kalian? Bukannya kalian menikah baru setahun ya, apa aku yang lupa?" Tanya Fadil bingung.
Arin tampak diam, dia tak enak kalau menjawab yang sebenarnya terjadi. Dia merasa menjadi istri yang serba kekurangan sehingga sang suami memilih menikah lagi. Apalagi Arya yang tipikal setia malah punya istri dua, lelaki itu malu untuk mengakuinya.
"Loh kenapa pada diam begini?" Tanya Fadil lagi.
"Eh iya Kak, itu anak dari istri kedua aku. Aku menikahi wanita yang memang sudah memiliki anak sebelumnya," jawab Arya.
"Beneran? Wah…, ternyata adik Kakak ini diluar dugaan. Kalau Kakak satu aja cukup, apa ini karena kalian belum punya anak? sayang sekali padahal baru setahun, kamu bisa menunggu lebih dari itu Arya..!" Ucap Fadil. Lelaki itu seakan membela Arin yang tentu sangat terluka hatinya.
Arya mengangguk-nganggukan kepalanya. Dia mengakui jika apa yang dikatakan Kakaknya itu benar, dia merasa malu pada dirinya sendiri dan dia juga masih bingung sampai sekarang alasan apa yang membuatnya memilih menikah lagi.
Fadil juga terpikat dengan anak yang bernama Cila itu, dia bermain sampai lupa waktu. Kebetulan hari itu juga adalah hari libur kerja, Arya ada dirumah seharian menemani mereka.
Hingga hari sudah sore, Amel datang untuk menjemput anaknya. Dia ingin membawa Cila pulang dan dia tidak ingin menginap dan seatap dengan Arin.
Terdengar langkah kaki mendekati mereka, "Cila…," panggil Amel.
"Mamah...," teriak Cila.
Anak itu langsung bangkit dan memeluk ibunya, Fadil yang penasaran dengan istri kedua adiknya itu. Dia langsung menoleh ke arah sumber suara. Fadil dan Amel saling menatap satu sama lain, mereka saling terkejut dengan pertemuan ini.
__ADS_1
Bersambung …