
"Ada apa Bu?" Tanya Arin.
"Non Cila hilang, tadi bibi cuma ngambil bola yang masuk ke semak-semak sebentar kok. Eh udah gak ada, apa non Cila masuk ke rumah?" Jawab Bi Ijah.
"Gak ada Bi, Cila gak kerumah," jawab Arin. Sementara Amel sudah berlari keluar, sebagai ibu dia sangat cemas.
Amel berteriak memanggil anaknya, dia berlari ke depan rumah. Dengan cepat dia menyusuri jalan berharap melihat sosok Cila. Dia tidak mungkin pergi jauh dengan waktu yang singkat, kamu diamana sayang? Batin Amel.
Arin dan Bu Ijah pun mengikuti Amel dan mata mereka sibuk melihat ke semua arah berharap menemukan anak yang mereka cari.
Amel melihat Cila yang sedang digendong laki-laki yang membelakanginya. Mereka terlihat sedang membeli balon. Wanita itu berlari dan langsung merebut Cila dari gendongan lelaki yang dianggapnya penculik itu, tanpa melihat wajah lelaki itu, dia menendang kaki lelaki itu hingga terjatuh.
"Aw, Amel kamu apa-apaan sih?" Protes Arya yang terduduk di aspal jalan.
"Loh, teryata kamu Arya? Salah siapa bawa anak aku tapi gak minta izin," jawab Amel yang masih marah. Dia meninggalkan Arya yang masih kesakitan disana.
__ADS_1
Arin yang mengetahui itu, dia mendekati Arya dan menolong suaminya meski rasa mual masih saja dia rasakan. Setelah Arya berdiri, Arin pamit pulang duluan untuk melihat keadaan Amel dan Cila. Membuat Arya semakin kesal dengan tingkah istrinya yang tidak mempedulikannya.
***
Sesampainya di rumah, Arya masih tak terima dengan perlakuan Amel.
"Aku udah baik sama Cila, diajak main dan udah dijajanin balon. Tapi kamu malah mencelakakan aku," protes Arya.
"Tetepa aja kamu yang salah. Aku panik banget tahu, takut kalau Cila hilang," jawab Amel tak mau kalah.
Arin duduk lumayan jauh dari suaminya, dia melakukan itu agar dia tidak muntah. Arya yang menyadarinya, dia menatap Amel dan Arin dengan tatapan yang sama. Dia kesal kepada dua wanita yang ada didepannya itu. Arya pun pergi untuk mandi agar badannya segar.
"Maaf Mel, mas Arya gak sengaja. Maksudnya kan baik ngajakin Cila main," jawab Arin membela suaminya.
"Terus aja belain suami kamu yang bau itu, pake masker aja kalau mau deket-deket sama Arya! Besok aku hubungi kamu lagi buat bahas yang tadi belum beres, belum puas juga ngetawain Arya yang bau itu," jawab Amel kemudian berlalu pergi dengan rasa kesal.
__ADS_1
Arin menghembuskan nafasnya perlahan. Dia malah semakin ditambah pusing dengan pertengkaran Arya dan Amel. Dia pun memakai masker sebelum menemui suaminya di kamar, ide Amel bermanfaat juga untuknya.
Ceklek
Arin membuka pintu kamar dengan sangat pelan. Dia seperti pencuri yang mengendap-ngendap, dia tahu kalau Arya masih kesal dengan kejadian tadi. Arin hanya berharap setelah mandi, emosi Arya pun meredam.
Arin duduk ditepi ranjang menunggu suminya keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Arya yang masih basah dengan handuk yang terlilit dipinggang sampai lutut. Arin begitu mengagumi suaminya. Tapi semakin mendekat Arin malah mencium bau tidak sedap. Meski Arya sudah mandi, dan dia sudah dilindungi masker. Tetap saja Arin mencium bau Arya meski tak begitu menyengat.
"Kamu ngapain pake masker dek? Apa Mas yang habis mandi saja mau dibilang bau? Apa ini cuma akal-akalan kami Dek? Rasanya gak masuk akal deh," ucap Arya.
"Aku gak main-main Mas. Kamu pikir aku juga tidak tersiksa jauh dari kamu? Seharusnya kamu lebih mengerti perasaanku. Lebih menjaga aku karena aku sendang mengandung anakmu, bukannya malah main perempuan!" Jawab Arin yang lepas kendali, dia sampai keceplosan.
Arin berjalan dengan secepat mungkin, keadaannya yang sedang mengandung membuatnya tidak bisa berlari. Arin menumpahkan air matanya lagi, dia menuju kamar yang lain dan mengunci diri disana.
Dasar, Arya bau…, batin Arin.
__ADS_1
Wanita itu menangis sambil mengumpat suaminya. Dia sudah tidak sabar dengan tingkah Arya yang belum bisa menerima keadaannya yang sedang hamil. Dengan proses yang seharusnya mereka lalui bersama, saling mendukung dan saling menguatkan.
Bersambung …