
"Aku pacar Mas Arya, oh ini pasti yang namanya Arin. Istri yang tidak bisa memuaskan suaminya, tidak bisa melayaninya hingga dia mencari tempat nyaman yang lain, hemm…," jawab Yuni.
"Aku gak percaya, Mas Arya itu suami setia. Kamu jangan macem-macem ya! Paling kamu itu hanya karyawan, jangan samapi kamu kehilangan pekerjaanmu gara-gara ini!" Ancam Arin.
"Hahaha…, aku itu memang pacarnya Mas Arya. Aku lebih dulu mengenal dia daripada kamu," ucap Yuni.
Tut…
Sambungan telepon itu terputus, nomor ponsel Arya pun menjadi tidak aktiv. Arin kini terduduk lemas, membuat Nadia terus bertanya tentang apa yang terjadi, tapi Arin tidak menjawab. Seolah dia tidak mendengar apa yang dikatakan Nadia.
"Rin, kamu kenapa? Sadar Rin..!" Ucap Nadia panik.
Untuk kesekian kalinya Bu Nadia melihat menantunya pingsan. Bu Nadia berpikir jika tubuh Arin memang lemah, padahal sejak dulu menantunya itu sering olahraga. Karena khawatir berlebih, terutama takut jika calon cucunya terancam bahaya, Nadia langsung membawa Arin ke Rumah Sakit.
***
Arya tiba di Rumah Sakit dengan keringat yang bercucuran. Lelaki itu begitu cemas, dia berlari dari area parkir sampai ke ruangan istrinya. Dia begitu mengkhawatirkan dua nyawa yang disayangi.
__ADS_1
"Kamu gapapa kan sayang?" Tanya Arya sambil menggenggam tangan istrinya.
Arin tak menjawab, dia menatap lekat wajah suaminya yang begitu khawatir. Aku yakin kamu akan datang dan peduli pada kami Mas, aku yakin kamu itu lelaki setia, batin Arin.
"Aku baik-baik saja Mas," jawab Arin. Wanita itu sudah merasa tak enak dengan bau badan suaminya. Tapi dia berusaha menahan rasa itu, dia tidak mau kalau apa yang dikatakan wanita tadi ditelpon menjadi kenyataan.
Arin akui semenjak dia hamil, dia menjauhi Arya suaminya karena memang bau. Entah hidungnya bermasalah atau bayinya yang enggan bertemu dengan ayahnya. Awalnya Arin menganggap itu aneh, tapi setelah berbicara dengan ibu kandungnya lewat telepon yang mengatakan kalau itu bawaan bayi. Arin sedikit lega, dia berharap Arya akan memahaminya karena ini demi sang buah hati.
"Syukurlah…," ucap Arya. Lelaki itu duduk dikursi yang sengaja dia dekatkan ke ranjang pasien. Menggenggam tangan Arin dan menghapus air mata Arin yang sempat menetes.
"Kamu kenapa menangis?" Tanya Arya.
Arya pun membalas senyuman Arin dan mengecup punggung istrinya. Tak berselang lama, dokter pun datang dan menjelaskan jika Arin tidak boleh banyak beban pikiran. Ibu hamil harus selalu merasakan ketenangan dan suasana hati yang bahagia.
Arya mengangguk paham, "baik Dok, saya akan berusaha menjadi suami terbaik. Saya tidak mau kalau anak saya kenapa-napa," jawab Arya.
"Iya Pak, tolong dijaga ya istrinya. Kandungan istri Bapak baik-baik saja, hanya kondisi ibunya yang lemah. Banyak makan buah-buahan dan jangan lupa diminum susu hamilnya secara rutin, vitaminnya juga ya..!" Ucap dokter Dahlia.
__ADS_1
"Baik Dok, terimakasih…," jawab Arya.
Hari itu juga Arin dibawa pulang, Arin juga tidak betah kalau berlama-lama dirumah sakit. Selain suasananya yang seakan ramai karena akan ada perawat yang beberapa kali datang ke ruangannya.
Arin juga tidak suka bau rumah sakit, bau dengan dominan obat menurutnya.
***
"Istirahat ya sayang, dan jangan banyak pikiran..! Lagian kamu mikirin apa sih? Kan aku yang cari nafkah buat kamu dan dedek bayi," ucap Arya heran.
"Gak ada yang aku pikirkan ko Mas, aku mungkin kelelahan saja," jawab Arin beralasan.
"Memangnya kamu habis ngapain Dek? Biarkan bi Ijah yang melakukan semuanya, kamu diam aja di rumah jagain dedek bayi..!" Ucap Arya.
"Huek… huek…" Arin merasa mual.
"Kamu kenapa lagi Dek? Apa perlu kita ke Rumah Sakit lagi?" Tanya Arya panik. Lelaki itu memijat pelan leher sang istri dengan minyak angin, berharap istrinya merasa lebih baik.
__ADS_1
Arin menatap Arya, kemudian dia mulai mual-mual lagi. Arin berlari menuju kamar mandi, dia tidak mendengarkan teriakan Arya yang menyuruhnya untuk berhati-hati dan berjalan perlahan.
Bersambung….