
Tapi Arin tidak mau gegabah, dia akan membicarakan hal ini terlebih dahulu pada Amel. Arin berniat untuk membujuk wanita itu agar mau memberi kesempatan kedua dan juga kata maaf untuk Bu Nadia dan juga Fadil.
Saat dimana Arya pergi bekerja, sementara Bu Nadia sedang beristirahat di kamarnya. Diapun mencoba menghubungi Amel lagi untuk kesekian kalianya, Arin merasa aneh pada dirinya sendiri.
Wanita yang dianggapnya pelakor, kini malah lebih dipedulikannya. Arin lebih membela dia daripada keluarga suaminya. Ya… Arin merasa prihatin dengan kehidupan masa lalu Amel yang berat dan penuh ketidak adilan.
"Hallo Arin, kamu kok jadi sering banget nelpon aku. Kamu kangen? Hehe…," ucap Amel menggoda Arin.
"Kamu bisa aja Mel, aku cuma mau bilang kalau kesehatan mamah semakin hari semakin menurun," jawab Arin.
"Bawa ke dokter lah Rin! Kok malah nelpon aku sih," keluh Amel.
"Iya aku tahu, tapi tetap aja mamah butuh maaf dari kamu dan juga kak Fadil. Beliau tidak akan enak makan kalau kepikiran masalah ini terus. Aku mohon Mel, berikanlah kesempatan untuk mamah, kita selesaikan masalah ini secara baik-baik..!" Pinta Arin.
"Gak semudah itu Rin, kamu tidak akan mengerti perasaanku. Jangan sampai kamu memihak mereka! kalau itu sampai terjadi… maka aku tak akan pernah mempercayaimu lagi," ucap Amel.
Tut
Panggilan itu pun terputus karena Amel sepertinya marah pada Arin yang terkesan membela keluarga Arya. Arin tak bisa melakukan apapun, dia hanya diam kemudian membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Menatap langit-langit sambil berpikir bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini.
__ADS_1
***
Hari berganti hari, kini dua Minggu sudah berlalu. Bu Nadia masih sedih karena Fadil belum menghubunginya, tapi Arin selalu berusaha menghibur ibu mertuanya itu.
Pagi ini Arin begitu terkejut melihat hasil tes pack nya. Ada dua garis merah yang kini terlihat sangat jelas, wanita itu memang sudah telah hampir 3 minggu. Dia yang sudah berkali-kali kecewa karena hasilnya selalu negatif membuatnya tidak terlalu berharap dan cuek, makanya dia baru sempat mengetesnya di hari ini.
"Alhamdulillah, mas Arya dan mamah pasti seneng banget," gumam Arin.
Ingin rasanya dia memberi kabar baik ini secepatnya pada suaminya, tapi pagi ini Arya begitu sibuk. Dia kesiangan dan ternyata ada pekerjaan yang terlewat hari kemarin, membuatnya pergi ke kantor dengan terburu-buru.
"Mas bernagkat ya, kamu jagain mamah dengan baik, temenin mamah ya..!" Ucap Arya.
Padahal aku ada kabar bahagia untukmu Mas, nanti saja lah aku datang ke kantor, batin Arin.
Arin pun melangkah masuk ke dalam, dia berniat ke kamar ibu mertuanya untuk mengajak sarapan bersama. Arin membuka pintu itu perlahan, dia takut kalau ibu mertuanya masih tidur dan merasa terganggu.
Namun terdengar suara Bu Nadia yang sedang berbicara, membuat Arin heran. Lalu dia sadar jika tidak ada orang lain disini berarti ibunya sedang menelpon seseorang.
"Udah biarin aja, hentikan pencarian itu! Aku gak mau Fadil bergasil menemukan wanita itu. Aku gak yakin kalau anaknya itu cucuku. Pokoknya kamu pura-pura mencari dan bilang sama Fadil kalau kamu tidak bisa menemukan wanita itu. Biarkan Fadil fokus dengan rumah tangganya yang sekarang, biarkan dia fokus pada bisnisnya yang sedang maju pesat!" Ucap Bu Nadia.
__ADS_1
Deg
Arin mundur perlahan, dia begitu tidak menyangka jika selama ini Bu Nadia berbohong. Mertuanya itu ternyata tidak menyesali perbuatannya dimasa lalu. Jika ibu hanya bersandiwara, kenapa tubuh ibu terus menunjukan penurunan? Tubuh beliau juga semakin kurus. Apa ibu cuma memikirkan kak Fadli saja? Ah.. iya sepertinya ibu sakit karena kak Fadli mengabaikan ibu, bukan karena penyeslananya pada Amel, batin Arin.
Akhirnya Arin bisa keluar dari kamar Nadia tanpa ketahuan. Kini Arin duduk dikursi makan sambil menatap sarapannya yang belum disentuhnya.
"Rin…," panggil Nadia.
"Eh, iya Mah," jawab Arin.
"Pagi-pagi kok bengong sih, kita makan bareng ya Rin, biar Mamah ada semangatnya, hehe…," ajak Nadia.
"Iya Mah, syukurlah Mamah mulai selera makan lagi," ucap Arin.
Mereka pun makan bersama, perasan Arin sedang kacau hari ini. Meski dia mendapatkan apa yang dia inginkan yaitu kehamilannya, kebahagiaan yang tak terkira. Tapi disatu sisi dia merasa keluarga suaminya ini membuatnya bingung. Bu Nadia selalu bersikap baik dan perhatian pada Arin tapi kenapa begitu kejam pada Amel.
Apakah dia juga nanti akan diperlakukan seperti Amel? Pikiran Arin sedang membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Arin memandangi wajah ibu mertuanya itu dengan tatapan bingung, sebenarnya ibu itu baik atau jahat?.
Bersambung…
__ADS_1