
Arin kembali dengan badan yang lemas, dia mual dan ingin muntah. Tapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya, semakin dekat dengan suaminya dia semakin mual.
"Mas, bisa tolong beliin aku rujak Mas..! Beli buah mangga yang asem juga," pinta Arin.
"Hmm, biar Mang Jaka aja yang beliin ya?" Tanya Arya.
Justru aku ingin mas Arya jauh-jauh dariku, batin Arin.
"Aku maunya kamu yang beli. Papanya anak kita, apa kamu mau anakmu nanti memanggil Papah sama mang Jaka?" Jawab Arin dengan sedikit cemberut. Itu hanya akal-akalan Arin saja, agar Arya pergi.
"Ya enggak lah. Ok, Mas bernagkat dulu ya, padahal kangen banget sama kamu Dek," jawab Arya kemudian berlalu pergi. Sebelumnya dia mengecup kening Arin, istrinya itu memaksakan senyumannya sekan senang. Padahal dia sedang berusaha menahan mual.
Setelah kepergian suaminya, Arin kini bisa bernafas lega. Dia pergi ke dapur untuk mencari makanan manis. Nadia memilih pulang ke rumahnya, membuat rumah Arin tampak sepi, hanya ada Bu Ijah di dalam rumah. Sementara sopir pribadi dan satpam rumah selalu berada di pos depan.
"Pelan-pelan Non makannya..!" Ucap Bi Ijah.
"Hehe…, iya Bi. Temenin aku dong bi..!" Pinta Arin.
Arin pun senang karena merasa ada teman ngobrol. Dia menceritakan keluhannya selama ini tentang rasa mualnya jika berdekatan dengan Arya, disisi lain dia tidak mau membuat Arya berpaling pada wanita lain disaat dia berjuang mengandung dan melahirkan.
"Gimana ya Non. Sebaiknya Non mengatakan yang sebenarnya..! Gak baik juga kalau berpura-pura begitu, emang Non tahan berdekatan sama Den Arya tapi mual?" Tanya bi Ijah sambil mengunyah apel.
"Gak tahan Bi. Tapi kemarin aku sempat mendengar suara wanita mengangkat telepon mas Arya. Dia bilang kalau mas Arya juga butuh nafkah batin, tapi selama tujuh bulan ini aku mengabaikan mas Arya karena memang gak kuat Bi, bau…," keluh Arin.
"Tutup hidung aja Non..! Hehe…," jawba Bi Ijah.
__ADS_1
"Ih bibi, malah becanda," jawab Arin kesal.
Arin tidak mendapatkan solusi, dia bahkan harus menahan rasa mual dan bau lagi karena Arya sudah kembali dengan rujak yang dia pesan.
Kenapa aku tidak menyuruhnya membeli rujak di Korea aja sekalian ya? Batin Arin.
***
Saat malam tiba, Arya yang senang karena istrinya itu sudah tidak keberatan dengan kehadirannya. Dia memeluk istrinya dari arah belakang, "dek, Mas kangen banget sama kamu," bisik Arya ditelinga Arin.
Deg!
Ada rasa bahagia yang kini menyelimuti hati Arin, dia akui jika dia juga merindukan belaian sang suami. Tapi tiba-tiba dia menghirup bau ditubuh Arya yang membuatnya mual lagi.
"Hoek…"
"Dek, kamu kok gak mau deket-deket sama Mas?" Protes Arya.
"Mas, maaf sebelumnya. Tapi aku harus jujur sama kamu, kalau aku masih merasa mual saat berdekatan. Aku juga gak ngerti, mungkin bayi kita memang inginnya begitu. Sudah konsultasi sama dokter juga, dan ini memang gak ada obatnya. Hanya bisa menunggu sampai hilang sendiri, biasanya ketika masa kehamilan ini selesai Mas, aku harap kamu mengerti..!" Ucap Arin.
"Ini berat buat Mas, tapi jika memang tak bisa. Yaudah Mas mau tidur dikamar sebelah aja," jawab Arya dengan nada kecewa.
"Mas …," panggil Arin.
Arya yang sudah didekat pintu pun hanya menoleh sesaat lalu menutup pintu itu perlahan. Arin kini membaringkan tubuhnya diranjang, dia setidaknya masih bisa bermesraan lewat Vidio call. Tapi Arya yang kecewa, dia tidak menjawabnya.
__ADS_1
(Mas, aku juga kesepian dikamar sendirian. Bukan hanya kamu saja yang tersiksa, tapi ini demi bayi kita. Aku mencintai kamu Mas, aku harap kamu mengerti dan selalu mencintai aku dengan kadar yang sama. I Miss you ♥️ ) Arin.
(Iya.) Arya
Balasan singkat itu membuat Arin kecewa, tapi Arya juga sepertinya membutuhkan waktu untukikirkan ini semua. Arin pun memilih mendengarkan solawat diponselnya agar bisa tertidur.
***
Setelah sholat subuh, Arin menyempatkan diri untuk membaca Al-Qur'an. Dia juga berdoa untuk rumah tangga dan bayi yang ada dalam kandungannya. Tak lupa dia mendoakan ibu dan bapaknya dikampung.
Arin begitu merasa damai hingga dia lupa sudah satu jam dia memakai mukenanya. Dia bangkit dan berniat memeriksa kamar sebelah.
"Loh, Mas Arya kemana? Apa udah sarapan?" Gumam Arin saat membuka kamar itu.
Dia berjalan sedikit terburu-buru dan tidak menemukan Arya disana. "Bi, Mas Arya mana?" Tanya Arin pada Bi Ijah.
"Baru aja bernagkat Non, sekitar 5 menit yang lalu," jawab Bi Ijah.
Arin mengerutkan dahinya karena bingung. Ini terlalu pagi dan tidak biasanya Arya seperti ini. Pergi tanpa pamit dan Arin juga tidak menyadari kalau suaminya semalam datang ke kamar dan mengambil baju yang dia siapkan.
Arin duduk, dia menatap sarapan yang banyak tapi sama sekali tidak menggugah seleranya. Dia kemudian mennagis.
"Hiks…, hiks…"
"Loh, Non kenapa?" Tanya bi Ijah khawatir.
__ADS_1
Bersambung…