Gara-gara Pamer Suami Di Medsos

Gara-gara Pamer Suami Di Medsos
Kesempatan


__ADS_3

Arya masih saja berdiri didepan kaca besar itu, menempelkan telapak tangannya disana, seolah dia menyentuh box kaca sang bayi. "Maafkan Papah karena membuatmu lahir sebelum waktunya, bahkan organ tubuhmu belum berfungsi dengan sempurna. Maafkan Papah… hiks… hiks…"


Saat itu terasa ada yang menepuk pundak Arya, dengan segera lelaki itu menghapus air matanya. Tentu dia tidak mau terlihat lemah dihadapan orang lain, hingga terdengar suara wanita "Menangis lah jika itu membuatmu merasa lega, aku tahu kamu merasa bersalah. Sebaiknya sekarang kamu harus bisa intropeksi diri sendiri, Arin sudah sadar… temuilah dia sekarang juga..!"


Arya menoleh dan berbalik, dia melihat Amel sekarang. Lelaki itu hanya mengangguk dan bergegas pergi ke ruangan istrinya. Dia berlari, dia begitu ingin mengatakan permintaan maaf.


Sesampainya di depan pintu ruangan itu, Arya mendengar suara Arin yang sedang berbicara dengan kakaknya. "Aku merasa kalau aku bukan ibu yang baik A, hiks…"


"Jangan begitu Arin, kamu itu udah berjuang. Anak kamu pasti baik-baik saja. AA yakin kok, kamu yang sabar dan banyak-banyaklah berdoa..!" Ujang hanya bisa menyemangati adiknya itu.


Diani sang kakak ipar, dia membelai kepala Arin yang tertutup jilbab. Wanita itu ingin memberikan kekuatan dan dukungannya. Sebagai sesama wanita, pasti tahu sakitnya melahirkan, obatnya adalah melihat bayi kita lahir dengan sehat dan bisa kita peluk saat itu juga. Tapi untuk Arin? Dia bahkan belum boleh dipertemukan dengan sang bayi.


"Aku ingin memeluk anakku Kak, aku ingin memberi ASI secara langsung, hiks…" Arin memeluk kakak iparnya itu dengan sangat erat, dia menangis sejadi-jadinya.


Arya hanya mampu melihat dari sela pintu yang terbuka. Dia merasa menjadi laki-laki yang menyebabkan kemalangan ini semua terjadi, menjadi suami yang jahat dan juga ayah yang jahat.

__ADS_1


Arya merasa tubuhnya lemas, dia tak mampu menghadapi istrinya. Dia memilih pergi menuju mushola yang ada di Rumah Sakit, dia ingin bertaubat, meminta kesembuhan untuk anak dan juga istrinya, dan tak lupa dia mendoakan keluarga kecilnya agar tetap utuh. Berharap Arin bisa memaafkannya dan tetap menjadikan mereka sepasang suami istri.


***


"Suamimu mana Rin?" Tanya Diani.


"Entahlah, biarkan saja," jawab Arin.


"Kok gitu sih, memangnya tadi kamu kesini sama siapa?" Tanya Diani.


"Sama Amel dan juga Mas Arya, tapi aku gak tahu dimana mereka sekarang. Tadi Amel pamit buat nyari suamiku, dia bilang juga ada mamah Nadia, kak Fadil dan kak Siska tadi," jawab Arin.


Setelah menunggu beberapa saat, Arya datang dengan wajah yang lesu. Dia duduk disamping Arin, dan menatapnya lekat-lekat, tapi wanita itu memalingkan wajahnya. Arin masih kecewa pada sosok lelaki yang ada di sampingnya itu.


Ujang dan Diani melihat kejadian itu, mereka saling menatap satu sama lain. Ujang pun pamit untuk pergi ke mushola bersama Diani, mereka ingin Arin bisa berbicara empat mata bersama Arya.

__ADS_1


Ceklek


Terdengar pintu kini sudah tertutup, hanya ada mereka berdua sekarang. Arin masih saja tidak mau menatap Arya saat lelaki itu mencolek punggung istrinya.


"Dek, Mas tahu kesalahan kali ini begitu fatal hingga membuat kami dan bayi kita dalam bahaya. Maafkan Mas ya… tolong berikanlah kesempatan kedua, Mas benar-benar menyesal," ucap Arya.


"Ini kedua kalinya Mas berkhianat, jadi kesempatan kedua sudah tidak ada," jawab Arin.


"Kalau begitu kesempatan ketiga, apakah bisa? Tapi kapan Mas mengkhianatimu sampai dua kali, bukannya hanya kemarin saja?" Tanya Arya bingung.


"Pertama kali kan sama Amel," jawab Arin.


"Itu bukan kesalahanku Dek, seharusnya ini kesempatan kedua. Tolonglah… Mas gak sanggup jika harus kehilangan kalian..!" Ucap Arya.


Lelaki itu berjalan memutari ranjang pasien. Kini dia berlutut menghadap ke arah istrinya, sementara Arin masih tak bergeming dia malah menatap Arya dengan tatapan tajam. Masih ada amarah di mata Arin, masih ada rasa kecewa yang teramat besar, mungkin jika hanya dia yang terluka… maka dia akan memaafkan Arya dengan begitu mudahnya.

__ADS_1


Tapi Arya bahkan sudah membuat anaknya kini dalam bahaya, Arin juga takut kehilangan anaknya yang susah payah dia kandung dengan proses program hamil yang cukup lama. Penantian yang dia tunggu-tunggu, tapi malah berakhir seperti ini.


Bersambung …


__ADS_2