
"Pasti yang sedang berbicara dengan Arin itu adalah Amel," gumam Nadia.
Nadia diam sejenak, dia perlahan membuka pintunya kemudian menatap punggung menantunya yang masih tidak menyadari keberadaannya.
"Arin…," panggil Nadia.
Seketika Arin kaget bukan main, dia menoleh dengan masih memegang ponsel di dekat telinganya.
"Iya Mah," jawab Arin.
"Jadi selama ini kamu berhubungan dengan Amel, saling berkomunikasi satu sama lain? Tapi kenapa kamu gak bilang sama Mamah, padahal Fadil juga mencarinya beberapa hari ini. Kamu tega membohongi kami Arin? Apa kamu berpikir Mamah akan melukai Amel? Mamah cuma mau minta maaf Rin. Mamah kecewa sama kamu," ucap Nadia.
Nadia membalikkan badannya dan berlalu pergi, Arin yang panik dia berlari mencoba menahan mertuanya dan menjelaskan semuanya.
"Mah, tunggu dulu..!" Teriak Arin.
Nadia menuju kamarnya dan langsung mengunci pintu dengan segera, dia tidak mau berbicara apapun dengan Arin saat ini. Arin mencoba mengetuk pintu kamar berkali-kali, namun gagal karena diabaikan oleh ibu mertuanya.
"Bagaimana ini?" Gumam Arin pelan.
Tok
Tok
Tok
"Mah…, buka dulu pintunya..!" Teriak Arin.
"Dek, kamu ngapain disini? Teriak-teriak di kamar Mamah, gak sopan sayang. Mungkin Mamah sedang ingin istirahat," ucap Arya yang kini berada disamping Arin.
__ADS_1
"Tapi Mas,--" ucap Arin yang belum sempat diselesaikan tapi Arya memapah istrinya masuk ke dalam kamar mereka.
Kini Arin duduk ditepi ranjang dengan perasaan yang masih gelisah, dia tidak mau kalau ibu mertuanya sampai bercerita pada suaminya. Kini dia merasakan posisi Nadia saat rahasianya tidak mau diketahui oleh Fadil.
"Dek, kamu kenapa sih?" Tanya Arya.
"Aku gapapa Mas," jawab Arin menutupi masalah ini dari suaminya.
"Syukurlah, oh iya… Mas sudah tahu kalau tidak pernah ada pernikahan antara Mas dan Amel, dia memang wanita penipu," ucap Arya geram.
"Apa benar begitu Mas? Terlepas dia menipu atau tidak, aku bersyukur karena ternyata kamu tidak pernah nikah lagi," jawab Arin.
Arya pun terkekeh karena merasa lucu saja mengingat dia jika benar punya istri dua. Begitu pusing, menurutnya.
"Kamu kenapa ketawa Mas, memangnya aku ngelawak apa?" Tanya Arin heran.
"Mas gapapa, kamu istirahat dulu aja ya. Tidur siang dulu biar kamu sekali sehat, bayi kita juga sehat..!" Ucap Arya dan dibalas anggukan Arin.
***
"Mah, makan dulu..! Dari tadi kok baru keluar kamar," ucap Arya.
"Mamah lagi gak nafsu makan aja Ya," jawab Nadia.
Arya yang izin ke ruangan kerjanya setelah mendapatkan telepon. Kini tinggal Arin dan Nadia saja yang berada di ruangan itu. Suasananya berubah tegang, jika biasanya Arin akan senang jika memiliki waktu bersama ibu mertuanya, tapi hari ini sangatlah berbeda.
"Ehm…, Mamah kecewa ya sama kamu Rin. Kalau kamu tidak mau Arya mengetahui persengkongkolan kamu dan Amel selama ini. Maka kamu harus mengerti apa yang Mamah katakan!" Ucap Nadia.
"Maksud Mamah?" Tanya Arin tak mengerti.
__ADS_1
"Kamu blokir nomor Amel dari ponsel kamu. Jangan pernah menghubungi dia lagi, jangan memberitahu apapun tentang dia pada Arya ataupun Fadil! Bukankah kamu selama ini memang diam dan merahasiakannya?" Jawab Nadia.
"Emm, baik Mah," jawab Arin seraya mengangguk.
Aku pikir Mamah akan marah besar, dan kenapa Mamah malah tidak mencari keberadaan Amel? Katanya mau minta maaf. Aku jadi bingung deh dengan cara berpikir mamah, batin Arin.
Arin yang tak ingin mendapatkan masalah, dia memilih diam dan menuruti apa yang diinginkan Nadia. Sejak hari itu, Arin sudah tidak memikirkan Amel lagi, dia fokus pada kehamilannya yang tentunya membuat dia bahagia. Keluarga kecilnya lebih penting daripada permasalahan orang lain.
***
Empat bulan berlalu, hari ini Arin disibukkan dengan acara selamatan di rumahnya. Arin mengadakan pengajian dan pembagian makanan untuk mensyukuri kehamilan yang tumbuh dengan sehat.
"Anak Papah sudah tumbuh besar," ucap Arya sambil mengecup perut istrinya.
"Ih Mas, aku malu. Lihat deh, udah banyak tamu yang datang," keluh Arin merasa tak enak. Dia juga tidak mau memamerkan kemesraannya di depan umum.
Arya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lelaki itu pun pergi ke belakang dan membiarkan acara itu berjalan dengan lancar.
Saat acara berlangsung, ponsel Arin terus saja bergetar. Arin penasaran siapa yang meneleponnya, tapi dia sedang tidak bisa mengangkat telepon saat ini, membuatnya membiarkan benda itu terus bergetar dan terus terasa sampai ke kakinya, hingga dia mengambil benda pipih itu sebentar lalu mengaturnya ke mode silent.
Malam pun datang, Arin yang lelah merebahkan tubuhnya, sementara Arya masih mengobrol di depan dengan Pak RT dan warga lainnya. Arin teringat ponselnya, begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk yang membuatnya mengerutkan dahi.
(Arin kenapa kamu memblokir nomor ponselku? Apa kamu memberitahu keberadaan ku pada wanita tua itu? Kamu jahat Arin, karena kamu telah membuatku terpisah dari Cila.)
Deg
Apa ini dari Amel? Tapi kenapa dia malah menyalahkanku? Apa yang terjadi pada Cila?, Batin Arin.
Wanita itu mencoba menghubungi nomor yang dianggapnya nomor ponsel Amel yang baru. Tapi mendadak malah sudah dihubungi. Membuat kepanikan Arin meningkat, dia takut terjadi hal buruk pada Cila, dia takut kalau dia nanti yang disalahkan oleh semua orang.
__ADS_1
"Amel angkat dong!" Ucap Arin sambil memegang ponsel yang masih menempel di telinganya.
Bersambung…