
Hari berganti hari, dan Minggu berganti minggu. Sore itu Arya merasa malas untuk pulang, dia lebih suka di kantor dan bertukar pesan dengan mantan kekasihnya di sosial media. Arya berpikir buat apa dia pulang jika istrinya tidak mau berdekatan dengannya. Arya merasa istrinya itu sudah tidak seperti dulu, badan Arin sekarang lebih gemuk.
Semenjak hamil, Arin sudah tidak melakukan olahraga rutinnya. Dia paling hanya berjalan-jalan pagi di sekitar rumah, mencari tukang sayur kemudian pulang. Berat badan Arin sekarang sudah naik 15 kilo di kehamilannya yang menginjak 7 bulan. Wajah Arin terlihat bulat dimata suaminya.
Arya masuk dengan mengucapkan salam, hanya ada Bu Ijah yang menyambutnya.
"Arin dimana Bi?" Tanya Arya.
"Non Arin ada, tadi habis bibi pijat. Kaki non Arin pegal-pegal, bengkak Den. Mungkin karena kehamilan yang mulai membesar," jawab Bu Ijah.
"Emmh, yaudah bibi tolong siapkan makanan buat saya ya..!" Ucap Arya.
Bu Ijah mengangguk dan berlalu pergi ke dapur. Sementara Arya menuju kamarnya untuk melihat istrinya.
Ceklek
"Kamu kenapa Dek?" Tanya Arya sambil berjalan mendekat.
"Biasa Mas, kakinya membengkak. Sepertinya aku kurang gerak, harus banyak jalan kaki. Akhir-akhir ini aku jadi malas olahraga Mas," keluh Arin.
"Dipaksain aja Dek, emm maksudnya olahraga ringan tapi dibiasain tiap hari..! Gak baik juga kalau seharian diam di rumah tanpa melakukan kegiatan apapun," ucap Arya kemudian duduk ditepi ranjang. Dia mencoba memijat kaki istrinya.
__ADS_1
"Eh Mas, kamu belum mandi. Bau keringat tahu, mandi dulu Mas..! Aku sudah dipijat kok," protes Arin.
Arya menghembuskan nafasnya secara kasar, Arin selalu menolak perhatiannya dengan alasan bau.
"Meski mas udah mandi pun tetap aja kamu bilang bau. Terserahlah kalau kamu maunya gitu, Mas mau tidur dikamar sebelah saja. Sekamar juga kamu malah nyimpen guling dan bantal banyak di tengah ranjang. Percuma saja kan?" Ucap Arya kesal.
"Bu-bukan begitu Mas, ini mungkin bawaan bayi. Seharusnya kamu mengerti Mas..!" Jawab Arin.
"Sudahlah, sudah 6 bulan kamu begitu. Kamu pikir Mas tidak butuh nafkah batin? Didekati aja gak mau," ucap Arya berlalu pergi dan menutup pintu dengan keras.
Arin yang sensitif, dia menangis. Dia juga tidak mengerti kenapa dia begitu membenci suaminya, selalu mencium aroma tidak sedap di tubuh suaminya saat berdekatan. Arin akan mual jika mencium keringat Arya, dia merasa bersalah pada suaminya tapi dia juga merasa kesal karena Arya tidak bisa memaklumi kondisinya.
***
Fadil tidak bisa kembali pada Amel karena dia juga kini sudah beristri. Dia tidak mau berpoligami, Fadil juga memberi kebebasan pada Amel untuk mencari lelaki yang lebih baik darinya.
Bu Nadia yang masih tidak bisa menerima Cila dan Amel, dia terpaksa menyetujui apa yang diinginkan Fadil. Kini Nadia, Amel dan Cila hidup dalam satu rumah. Meski sampai sekarang Amel dan Nadia masih perang dingin.
Amel masih mencintai Fadil, apalagi saat tahu kalau Fadil benar-benar tidak tahu kalau dia dulu hamil. Wanita itu bertahan di rumah Nadia karena ingin Cila mendapatkan kasih sayang papanya. Fadil akan menemui mereka sebulan sekali, tentu lelaki itu beralasan untuk menemui ibunya pada Siska istrinya.
Bu Nadia yang mulai luluh dengan sikap manis Cila, dia lebih sering bermain dengan anak itu untuk membuat hari-harinya berwarna. Hari ini Nadia mengunjungi Arin dengan mengajak Cila.
__ADS_1
"Arin, bagaimana kandunganmu? Sudah diperiksa lagi belum?" Tanya Nadia.
"Alhamdulillah baik Bu. Besok jadwal periksanya Bu, apa ibu bisa menemaniku ke klinik?" Jawab Arin.
"Tentu bisa. Memangnya Arya masih saja sibuk ya? Benar-benar anak itu, dulu saja ingin kamu hamil, sudah hamil malah dicuekin," ucap Nadia kesal.
"Tuntutan pekerjaan Mah, gapapa kok selama Arin bisa sendiri. Lagian ada supir juga Mah, dan ada Mamah yang nemenin Arin, hehe…," jawab Arin dengan tersenyum seperti tidak ada beban dan tidak mempermasalahkan itu semua.
Padahal dia sakit hati disaat hamil besar suaminya malah sibuk. Tidak bisa mengerti kondisinya, meski dia tidak mau berdekatan dengan suaminya, tapi dia tetap ingin diantar ke klinik oleh Arya.
Nadia dan Arin begitu senang karena tingkah Cila membuat mereka terhibur. Tingkah anak itu memang lucu, membuat Arin merasa tidak sabar untuk segera menyambut kelahiran anaknya.
"Rin, coba telepon Arya, masa jam segini belum pulang, bilang sama dia kalau ibu nungguin di rumah..!" ucap Nadia.
"Iya Mah," jawab Arin.
Tak berselang lama telepon itu tersambung, kemudian terdengar suara wanita yang mengangkat telpon suaminya.
"Hallo…".
"Kamu siapa? Kenapa menjawab telepon di ponsel suamiku?" Tanya Arin dengan rasa gelisah dan cemburu.
__ADS_1
Bersambung…