
Mia dan ketiga anak anak nya kini sedang duduk santai sambil bercengkrama di lantai atas rumah mereka tepatnya di balkon yang mengarah ke halaman belakang.
Aulia sibuk dengan handphone di tangannya sambil sesekali mengikuti candaan mama dan kedua adiknya.
"Kak, dari tadi ngapain aja sih, ada apa di handphone nya?" Tanya Mia pada si sulung.
"Nggak apa apa mah,"Aulia segera mematikan handphone nya dan bergabung dengan Raja dan Dila yang sedang mendengar dongeng dari sang mamah.
"Mah, kayaknya si adek udah tidur deh" Aulia memperbaiki bantal sang adik dan meluruskan kakinya di karpet.
"Mah, Raja juga udah ngantuk raja pindah ke kamar ya" Raja pun memilih pindah ke kamarnya. kini tinggal lah Mia dan Aulia yang masih terdiam dengan pikiran masing masing.
"Mah, papa gak pulang lagi yah." Aulia menatap ke luar balkon menatap indahnya langit malam.
"Papah tadi sudah ngasih kabar sayang, kemungkinan papa pulang nya malam soalnya ada rapat sama klien yang dari luar negri." Mia berusaha memberi pengertian pada sang putri.
"Mah, sampe kapan mamah mau diam aja ?" Mia mengerutkan kening nya tak mengerti maksud dari kalimat putri ya itu.
"Mamah pasti tau apa yang kakak maksud." Mia terdiam, sejujurnya dia juga faham hanya saja dia tak ingin putrinya merasa sedih .
"Kakak tau, papa gak ngabarin mamah kan, kakak jadi juga tau, kalau sebenarnya papa dan mama memang tak pernah seperti orang tua lainnya," Kini Mia tertegun ia merasa malu pada putrinya itu, bangkai yang selama ini ia tutup rapat akhirnya tercium oleh putrinya sendiri.
"Kak,....?" Mia tak mampu bersuara, jujur ia bingung harus berkata apa, ia tak ingin Aulia tau seburuk apa rumah tangganya, namun ia juga tak bisa menyangkal kalimat putrinya itu.
"Kakak sudah besar mah, dan kakak juga sudah faham ada yang tidak beres dengan papa, walau mamah berpura pura kuat, kakak tau mamah sebenarnya juga tidak sanggup menerima kenyataan jika papa punya orang lain selain kita kan mah," Mia menatap sendu putri nya itu airmata kini mulai membanjiri kelopak matanya.
__ADS_1
"Mamah hanya menutupi luka mamah dengan mempercayai segala alasan papa. padahal jauh di lubuk hati mamah, mama juga tidak yakin." Mia tak sanggup berkata putri yang ia pikir masih remaja, dan belum mengerti apa apa, ternyata bahkan tau segalanya, bahkan lebih kuat dari apa yang ia kira..
"Sayang...., " Mia memeluk putrinya itu dan menggeleng perlahan ia menatap dalam ke mata sang putri. "Papa kamu gak gitu nak, percayalah sama mamah , papah sangat sayang sama kalian, dan papah gak akan membagi kasih sayang nya dengan orang lain. mama percaya pada papamu." Mia mengusap lembut kepala Aulia dan meniggalkan Aulia yang masih terdiam tak tau harus bagaimana. Ia menggendong Dila memindahkan ke kamar nya.
"Maafin kakak mah, kakak gak berniat membuat mamah sedih, tapi kelakuan papa membuat kakak curiga, suami dan ayah mana yang reka tak pulang tiap malam dengan alasan pekerjaan." Lirih Aulia kemudian ia pun pindah ke kamarnya.
Di kamar Mia.
"Ya Allah, ya rob, Jika benar suami ku sudah berbuat tak adil pada ku dan anak anak kami, maka aku mohon ke pada Mu ya rob, bukakan lah pintu hatinya, agar dia kembali ke jalan yang engkau ridoi, hamba tau kami awalnya tak saling mencintai, tapi 10 tahun yang aku jalani bersama nya, membuat ku yakin dia adalah jodoh terbaik yang engkau berikan pada ku ya Allah." Mia menutup doanya dan meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Mungkin sebaiknya aku telpon mas Arifin." Mia menekan tombol angka di tekpon genggamnya mencoba menghubungi nomor suaminya.
"tut... tut... tut...
"Ah....," Mia menahan sesak di dadanya saat membuka pesan dari no tak di kenal itu.
"Ya Allah, tak mungkin..." Mia menutup mulutnya dengan tangannya, dan tanpa sadar handphone nya terjatuh saat melihat gambar yang di kirim oleh nomor tak di kenal itu.
"Tidak... mas Arifin tak mungkin melalukan itu." ?Mia menjerit tertahan .
"Ya Allah, kenapa begitu cepatnya kau jawab doa ku ya Allah, kenapa engkau perlihatkan kenyataan menyakitkan ini ya Allah di saat hati ku berusaha menolak setiap ke anehan sikap suami ku." Mia tak berusaha menahan sesak di dadanya namun semakin ia berusaha untuk menahan rasa sakitnya semakin kuat.
"Ahhhkkkkk...." Mia bersujud dan memohon ampunan pada Allah yang maha kuasa.
"Astaghfirullah halazim, hamba mohon ampunan mu ya Allah, seketika hamba menjadi orang yang sombong, seolah hamba kuat akan cobaan mu, namun kenyataan nya di saat kenyataan ini di depan mata, hampa benar benar merasa tak berdaya, rasa sakit ini begitu dalam ya Allah. " Lagi lagi ia menumpahkan segala kepedihannya pada sang pemilik kehidupan Allah SWT.
__ADS_1
****
Senyum licik terbit di wajah cantik milik Hesti si istri Siri Arifin yang berhasil mengambil nomor handphone milik Mia dari hp suaminya itu. Ide jahat langsung timbul di otaknya yang licik. Ia mengambil gambar dirinya sedang tertidur di pangkuan Arifin dengan posisi tidak memakai busana kecuali selimut yang menutupi tubuh bagian bawah mereka.
"Aku harap wanita itu sudah melihat foto itu dan segera meminta cerai dengan mas Arif, aku sudah lelah hanya di jadikan istri siri, aku ingin status yang jelas, aku ingin menjadi satu satunya istri mas Arif" gumam wanita itu sambil menghapus panggilan masuk di hp suaminya.
"Mas, bangun lah sayang, ini sudah saat nya solat subuh" Hesti berusaha untuk tampil sebaik mungkin di depan suami nya.
"Ah.. sayang, masih mengantuk" Arifin kembali meraih tubuh istrinya itu membawa ke dalam pelukannya.
"Tapi sudah azan subuh mas, kau harus segera mandi dan pulang aku yakin Mia pasti sudah menunggumu." Wanita itu memasang seringai jahatnya di balik tubuh Arifin.
"Biarkan saja sayang, aku bosan di rumah, ini kan akhir pekan, kita bisa jalan jalan bukan kah kau ingin membeli tas terbaru." Arifin bicara sambil bangun dan menyenderkan tubuhnya ke bantal.
"Iya mas, tapi...?" Hesti terlihat sedih.
"Kenapa sayang hummm?" Arifin yabg membaca raut wajah sedih sang istri pun segera meraih wanita itu ke pelukannya.
"Tapi kau harus pulang sayang, sudah dari kemaren mas di sini bagaimana jika Mia curiga dan mencarimu." Ucap hesti lembut
"Aku sudah memikirkan ini semalaman, dan aku sudah mengambil keputusan aku akan bicara pada Mia, aku ingin Mia dan anak anak menerima mu, aku punya alasan untuk melakukan ini, karena sepuluh tahun pernikahanku dan Mia, aku tak pernah bisa menyentuhnya, dan sebagai lelaki dewasa aku berhak punya istri lain kan." Senyum kemenangan terbit di wajah cantik Hesti
"Tapi bagiamana dengan anak anak mas," Hesti tampak ragu.
"Aku yakin anak anak bisa menerima mu, karena kau wanita yang baik dan lembut serta ke ibuan mereka hanya perlu di berikan kesempatan untuk mengenal mu." Arifin menggenggam erat jemari istrinya dan mencium nya lembut.
__ADS_1