GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Aulia pingsan


__ADS_3

"Bunda...?" Arifin masih meraba pipinya yang terasa panas karena tamparan Bunda Hanum. Selama 40 tahun ini lah pertama kalinya Arifin mendapat kemarahan dari ibu kandung nya itu, bahkan saat kecil ketika dia nakal sekalipun bunda tak pernah membentak apa lagi memukulnya.


"Lepaskan Mia Arifin, Biarkan dia bahagia mempertahankan pernikahan ini sama artinya kau menyiksanya." tegas Bunda Hanum yang membuat Arifin diam sejenak.


"Apa ini yang kau mau, apa kau yang meminta Bunda untuk mengatakan semua ini." Tanya Arifin pada Mia.


"Ya ini ke inginan ku." Tegas Mia.


"Baiklah, tapi kukatakan pada mu, kau tak berhak atas anak anak, Mereka adalah anak kandung ku, dan aku tak mengizinkan kau untuk bertemu mereka setelah ini" Mia tersentak kaget tak menyangka Arifin akan berpikiran sekejam itu.


"Tapi aku yang membesarkan mereka, aku berhak bertemu mereka kapan pun aku mau" Protes Mia.


"Jangan harap, ini adalah keputusan mu, dan itu adalah konsekuensinya." Arifin tersenyum penuh kemenangan. Entah apa yang di pikirkan lelaki itu. sementara Mia memejamkan matanya manarik nafas dalam dan kemudian melepaskan perlahan kemudian dengan penuh keyakinan dia mengambil sebuah keputusan.


"bismillahirrahmanirrahim" Ucapnya dalam hati.


"Baiklah, jika itu adalah konsekuensi dari keputusan ku, aku akan menerimanya." Ucap wanita itu penuh keyakinan.


"Bunda, Mia titip anak anak" Mia memeluk ibu mertuanya lalu beralih pada Aulia yang sedari tadi diam karena syok melihat kehancuran keluarganya di depan matanya sendiri.


"Sayang, maafkan mamah" Mia memeluk Aulia sejenak dan kemudian bergegas meninggalkan Panti Asuhan Permata hati sebelum Raja dan Dila menyadari kepergian nya.


Airmata mengalir deras di pipi Mia menahan segala sakit harus meninggalkan ke tiga buah hati nya. Namun Mia berusaha untuk tegar tanpa menoleh ke belakang ia harus kuat," anak anak sudah mulai besar, mereka sudah bisa mengurus dirinya sendiri lagi pula ada asih yang menjadi kepercayaan ku." Batin Mia menguatkan dirinya sendiri.


Suara Mia menyalakan mesin mobilnya hingga membuat Aulia tersadar dan mengejar mobil sang ibu sekuat tenaga.


"Mamah.....!!!!!! " Teriak Aulia berlari mengejar mobil yang mulai berjalan meninggalkan halaman panti.


"Tidak.... !!!"

__ADS_1


"Mamah......!!!!!!" Teriakan memilukan itu terdengar hingga ke taman bermain di mana Raja sedang bermain bola.


"Kakak...!"


"Kak Aulia...!!!" Raja mengejar Aulia yang sedang berlari mengejar mobil Mia. di belakang Aulia Arifin ikut mengejar dan menenangkan putrinya itu.


"Mamah.....!!! hiks.. hiks.. tidak... mamah... jangan tinggalkan kakak mah.." Teriak Aulia histeris. Mia yang melihat Putrinya itu mengejar nya hingga terjatuh merasa kasihan dan ingin menghentikan mobilnya, namum ia berusaha untuk kuat walau sakit di dadanya.


"Maafkan mamah nak, mamah yakin suatu saat nanti kita akan kembali bersama, mamah menyayangi kalian." Mia mengusap airmata menuju rumah kediaman Arifin.


"Asih, tolong cepat bantu saya merapikan pakaian dan barang barang barang saya, ke koper sebelum anak anak kembali." Asih yang sedang mengepel lantai kaget mendengar kalimat nyonya rumah nya itu.


"Tapi kenapa buk?" Tanya asih Ragu.


"Gak ada waktu untuk saya menjelaskan semua asih, cepat bantu saya." Asih pun segera membantu Mia membereskan barang barang beharga dan pakaian nya.


*****


"Mas, cepat kita bawa Aulia ke rumah sakit" Ucap Hesti menyadarkan Arifin kalau mereka kini berada di pinggir jalan.


"Ambil mobil Hesti" Teriak Arifin panik." Hesti pun segera menuju halaman panti untuk mengambil mobil.


"Ayo masuk mas," Arifin dan Hesti membawa Aulia ke rumah sakit terdekat.


"Dokter.... dokter... tolong putri saya dok." Arifin meletakkan tubuh mungil itu di ranjang dengan segera dokter datang menangani Aulia.


"Mas, aku urus administrasi dulu yah." Hesti meninggalkan Arifin di depan UGD rumah sakit.


"Huf,ff gadis sialan merepotkan ku saja." Gumam Hesti saat ia selesai mengurus administrasi Aulia. Wanita itu pun menuju kantin untuk sekedar mengisi perutnya yang terasa kosong. setelah di rasa kenyang Hesti pun membeli beberapa cemilan dan roti untuk Arifin tak lupa juga segelas kopi panas.

__ADS_1


"Mas bagaimana keadaan nya, apa kata dokter" Ucap Hesti memasang wajah panik nya, saat bertemu Arifin.


"Aulia belum sadar Hesti kata dokter Aulia syok." Arifin memeluk Istri ke duanya itu menumpahkan tangisnya di bahu wanita itu.


"Aku salah Hesti, tak seharusnya aku mengabulkan keinginan Mia, aku tau Anak anak tak akan sanggup berpisah dengan mamah mereka." Arifin benar benar menyesal dengan keputusan nya.


"Hesti aku harus menyusul Mia" Hastie memutar mata malas , menanggapi suami nya itu.


"Mas, dengarkan aku, Ini adalah keputusan Mia, jika kau menjemput nya sekarang dia akan besar kepala, dan masalah Aulia, percayakan dia pada dokter mas, aku yakin Aulia kuat, dia hanya kaget dan .. aku yakin nanti setelah dia sadar dia pasti akan mengerti." Arifin menatap sang istri rapuh.


"Percayalah pada ku mas, aku akan menjaga mereka sama seperti Mamah kandung mereka, kau tau kan aku juga sangat menginginkan kehadiran anak di antara kita selama ini, dan ini lah saat nya mas, Allah memberikan ku kesempatan menjadi ibu dari tiga buah hatimu, aku janji mereka tak akan kehilangan kasih sayang seorang ibu. " Hesti menggenggam kedua tangan suaminya itu dan mencium nya penuh cinta.


"Terima kasih sayang, aku percaya padamu, aku yakin kau akan menjaga mereka, aku mencintaimu." mereka pun berpelukan.


"Keluarga Aulia." Seorang perawat memanggil Arifin dan Hesti.


"Kami orang tuanya sus." Hesti yang menjawab.


"Dokter ingin bicara dengan anda" Arifin dan Hesti pun mengikuti perawat tersebut.


"Silahkan duduk pak, buk?" Sapa dokter wanita itu ramah.


"Bagiamana keadaan putri saya dok." Tanya Hesti panik. dokter itu pun tersenyum lembut memaklumi ke khawatiran orang tua dari pasien nya itu.


"putri bapak dan ibu mengalami syok berat yang mengakibatkan tekanan darahnya menurun, jadi Aulia harus di rawat satu atau dua hari untuk memulihkan kondisi.


"Lakukan apa pun yang terbaik untuk putri saya dok." Ucap Arifin memohon.


"Itu adalah tugas kami mengutamakan keselamatan pasien kami pak, tapi sekarang kalian harus membantu kami agar tidak membuat Aulia stres atau banyak pikiran agar tekanan darahnya kembali normal.

__ADS_1


pasangan suami istri itu saling pandang, bagaimana pun mereka menyadari keadaan Aulia saat ini adalah karena masalah mereka para orang tua.


"Terima kasih dok," Akhirnya Arifin dan Hesti pun meninggalkan ruangan dokter tersebut dan menuju ruang perawatan Aulia.


__ADS_2