GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Dila sakit.


__ADS_3

"Asih..., saya mau langsung berangkat ke kantor, nanti kalau ibuk pulang kamu bilangin yah, jangan nunggu saya, saya mau keluar kota beberapa hari." Pesan Arifin saat ia hendak meninggalkan meja makan


"I.. iya pak.?" Jawab Asih tergagap, Dia ingin mengatakan kalau majikan kecilnya saat ini sedang di rawat di rumah sakit, tapi dua juga takut karena majikan nya itu tidak bertanya.


"Oh ya sih, biasanya ibuk setelah mengantar anak anak pulang jam berapa.?" Tanya Arifin kemudian.


"Biasanya pulang ngantar sekolah ibuk langsung ke ruko pak, nanti setelah jemput Non Dila sama den Raja, ibuk baru pulang sekalian istirahat dan makan siang pak." Ucap Asih menjelaskan.


"Oo, baiklah kalau gitu saya akan langsung berangkat saja." Ucap Arifin kemudian.


"Tapi pak..., ummm anu...?" Ucap Asih ragu ragu. Arifin menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan Asih .


"Langsung aja Asih saya sedang buru buru." Ucap Arifin pada Asih.


"Umm itu pak, non Dilla , hummm non Dila di rawat di rumah sakit pak, semalam badannya panas tinggi." Arifin membulatkan matanya kaget mendengar penjelasan Asih.


"Asih... kenapa kamu gak bilang dari tadi.?" Arifin yang panik langsung berlari menuju rumah sakit .


"Ah..... sial... ke rumah sakit mana Mia membawa Dila.?" Arifin segera meraih ponsel nya dan menghubungi sang istri.


"Assalamualaikum mas.?" Terdengar suara lembut di seberang sana.


"Kamu di rumah sakit mana" Tanya Arifin panik


"Di rumah sakit Pelita mas, di ruang anggrek lantai 3. " Jelas Mia dengan sabar.


"Aku segera ke sana." Ucap Arifin dan langsung mematikan sambungan telpon nya.


Terngiang di telinganya ucapan ucapan kasarnya pada sang istri saat ingin memberitahu kan bahwa putri bungsunya itu sedang sakit.


"Ya Allah apa yang aku lakukan, aku tidak berniat sedikit pun untuk menyakiti hati Mia, ata pun menyia nyiakan anak anak ku, tapi kenapa tindakan yang aku lakukan malah semakin membuat istri dan anak anak ku semakin jauh dari ku." Arifin memukul mukul stir mobil yang dengan frustasi.


"Jika kamu tidak bisa mencintaiku dan menganggap aku sebagai istrimu mas aku bisa terima, tapi setidaknya kamu bisa menjadi ayah yang baik buat ketiga anak kita." Ucap Mia kala itu saat Arifin tidak pulang untuk merayakan ulang tahun aulia yang ke 14 tahun.


"Maafin aku mia, aku sunguh tidak bermaksud menyakiti hatimu dan anak anak." Arif segera berlari keruang perawatan putri bungsunya itu dengan langkah seribu.


"Sayang... anak papa?" Arif mencium setiap inci wajah pucat Dila.


"Dila kangen papa " Ucap gadis kecil itu lemah.

__ADS_1


"Sayang.. maafin papa yah, papa terlalu sibuk bekerja sehingga papa tidak punya waktu buat Dila." Pria itu mengusap lembut kepala putri bungsunya itu dengan penuh kasih. Mia yamg berada di ruangan itu ikut terharu melihat ayah dan anak itu.


"Mia, ..?" Arifin menatap wanita yang sudah menjaga anak anak nya itu dengan perasan tak menentu, ada rasa bersalah dan malu pada wanita yang sudah mendampinginya selama 10 tahun itu.


"Mas minta maaf, mas tidak menghiraukan telepon mu semalam , mas malah menuduh kau berbohong. mas benar benar menyesal Mia, maafin mas." Arifin menatap sayu penuh penyesalan.


"Sudah lah mas, mungkin semalam kamu juga sedang kesal padaku, sehingga mengira aku berbohong, lagi pula aku juga yang membuat mu marah, aku secara tidak langsung menuduh mu yang nggak nggak. aku juga minta maaf mas."


deg....


Hati Arifin benar benar pedih mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita cantik di depannya itu. Ia yang bersalah tapi wanita itu yang meminta maaf, "Begitu besarkah hatimu Mia, sehingga kau rela mengambil kesalahan yang tidak kau lakukan, maafin aku Mia, maafin aku." Batin Arifin.


Arifin menatap Mia wanita itu tersenyum, senyum yang sangat indah sehingga membuat lawan jenis nya betah untuk menikmati senyuman itu. Sejenak Arifin menjadi canggung selama ini ia tak pernah menatap Mia walau hanya dalan hitungan detik.


Ekhem... Arifin mendehem untuk mengurangi ke gugupannya.


"Bagiamana dengan Dila apa kata dokter?"


"Dokter bilang Dila terkena deman berdarah mas" Arif kaget mendengar ucapan istrinya itu


"Astaghfirullah halazim" Arifin meraup wajah nya kasar.


"Maafkan papa sayang."lirihnya.


"Mas tidak perlu khawatir , Dila sudah di tangani oleh dokter terbaik dan kondisi nya pun sudah mulai membaik."


"Yah, Terimakasih Mia." Ucapnya yang hanya di tanggapi senyuman oleh Mia.


"Aku lihat kau sangat lelah , sebaiknya kau pulang saja, beristirahat lah, aku akan menjaga Dila di sini." Ucap Arifin kemudian.


"Baiklah , tapi Kalau terjadi sesuatu tolong mas segera hubungi aku." Mia mencium puncak kepala putrinya lembut.


"Sayang... sama papa dulu yah, mamah akan menjemput abang Raja." Dila mengangguk kemudian kembali memejamkan matanya dan tertidur.


" Miw tunggu!" Panggil Arifin saat Mia hendak keluar dari ruangan rawat Dila.


"Ada apa mas, "


"Ka.. kamu pakai apa?" Tanya Arifin gugup.

__ADS_1


"Aku naik taksi online." Mia menjawab sambil menatap heran pada suaminya itu.


"Tumben dia bertanya, biasanya juga tidak peduli." Batin Mia.


"Sebaiknya kau pakai mobil mas saja." Arifin menyerahkan kunci mobil pada istrinya itu. Namum Mia tak mengambil nya, ia tersenyum lalu berkata.


"Gak usah mas, ini baru jam 11 , aku masih sempat mengambil mobilku di toko, " Tolak Mia lembut.


"Eummm, pakailah lagi pula kau akan repot bolak balik ke toko, nanti aku suruh orang untuk menjemput mobilmu." Ucap Arifin memaksa.


"Tapi mas...?" Mia segera meraih kunci mobil milik Arifin sebelum bola mata pria datar itu keluar karena melotot.


"Tumben sekali dia berbaik hati" Gumam Mia saat ia sudah berada di luar ruangan rawat Dila.


"Mia....,?"


"Mia....?!"


Mia menoleh ke arah datang nya suara yang memanggil namanya. Kaget...? yah Mia kaget serta bahagia saat ia melihat sosok wanita parubaya yang sedang menatap nya dari jarak lebih kurang 5 meter.


"Mama Ratih...?" Mia Segera berlari dan memeluk wanita parubaya itu untuk melepas rindu nya, setelah sekian tahun ia tak berjumpa dengan wanita yang sudah di anggap nya seperti ibunya sendiri itu.


"Kamu apa kabar sayang." Ratih mencubit pipi Mia gemas.


"Alhamdulillah mah, Mia sehat, dan mamah sendiri apa kabar, dan kenapa mama bisa ada di sini." Tanya Mia heran.


"Seperti yang kau lihat, mamah juga sehat sayang gak kurang satu apa pun." Ratih menarik tangan Mia dan mengajak nya duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di lorong ruangan rumah sakit tersebut.


"Katakan pada mamah siapa yang sakit, humm?" Mia Terdiam sejenak, tiba tiba rasa canggung menghampirinya.


*****


terimakasih sahabat yang udah mampir,


semoga terhibur yah,


ini hanya karangan receh dari ku dengan harapan dapat di terima dengan baik oleh pembaca setia, jika ada kritikan atau saran jangan kupa tinggalkan di kolam komentar yah...


terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2