GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Kecurigaan Nia.


__ADS_3

Tes....


Airmata berjatuhan tiada henti di pipi Mia mendengarkan cerita panjang lebar dari sang suami yang sangat di hormati nya, yang sangat di cintai nya, sungguh ia tak pernah menduga suami yang menikahinya karena permintaan terakhir sang kakak itu ternyata memendam rasa pada wanita lain justru sebelum mereka di pertemukan, Lalu kenapa...? kenapa dia harus menikahi Mia jika di hatinya ada wanita lain.


"Lalu kenapa kau menikahi kakak ku, jika saat itu di hatimu juga ada wanita lain, bahkan kau tidak mencintai kakak ku sama sekali." Mia menatap tajam Arifin yang kini hanya tertunduk lesu.


"Tidak Mia kau salah, Aku... aku sangat mencintai kakak mu, bahkan sampai saat ini aku masih sangat mencintai nya "Arifin bangun dan berjalan ke arah jendela menatap keluar taman anggrek yang di susun indah oleh jemari almarhum sang istri pertama.


"Dasar munafik, tak kan pernah ada cinta lain saat kau mencinta pasanganmu, aku rasa 5 tahun bersama mu, kakak ku hanya kau jadikan pelampiasan nafsu mu semata, atau jangan jangan kau membayangkan wanita ****** itu saat tidur di atas tubuh kakak ku."


"Mia....!!!!? " Arifin membentak Mia tak terima dengan tuduhan kejam sang istri. Mia tak perduli ia hanya terkekeh merasa apa yang di katakan nya adalah sebuah kebenaran.


"hah... bagian mana dari kalimat ku yang salah?, apa kau marah saat ku katakan wanita itu ******,. atau kau marah saat aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya"


"Stop Mia, berhenti menuduh ku, aku tidak pernah mengkhianati Masnia, aku sangat mencintainya dan aku setia padanya hingga akhir hayatnya. Aku murni menolong Hesti waktu itu dan tak pernah terniat di hatiku untuk mengkhianati sebuah pernikahan" Arifin meraup muka nya kasar


"Lalu...????" Mia menatap sinis pada Arifin.


Arifin menarik nafas sejenak , "Hesti memang aku pekerjakan di kantor ku tapi dia aku letakkan di bagian pemasaran bersama orang kepercayaan ku, aku selalu menghindari nya, agar tak terjadi kesalahpahaman hingga akhirnya Mia tau dan dia tak bisa menerima nya, karena aku tak membicarakan ini dengan nya dulu."


flashback


"Mas, aku bawakan makan siang untuk mu" Nia datang bersama Aulia yang waktu itu masih berusia 4 tahun.


"Sayang, kenapa kau capek capek humm," Arif menggandeng sang istri yang sedang hamil tua dan menggendong putri pertama mereka untuk duduk di sofa panjang yang sudah tersedia di ruangan Arifin.


"Tidak apa apa, aku kesepian jika makan sendirian di rumah, aku ingin kita makan bersama. "Nia membuka rantang dan menyiapkan makan siang untuk suami nya itu.


"Mas suapin yah" Nia mengangguk setuju, entah kenapa kehamilan kedua nya ini ia begitu manja, ia lebih suka makan dari tangan suaminya itu dari pada makan sendiri.


Pasangan suami istri itu tampak sangat bahagia, di sela sela makan nya mereka pun ngobrol seputar pekerjaan, Nia yang memang ahli di bidang mendesain berbagai macam model furniture banyak memberi masukan pada suami nya itu. Hingga tanpa mereka sadari putri mereka pun tertidur di sofa.


"Mas pindahkan Aulia ke kamar yah, kamu juga sekalian istirahat dulu, mas mau ada rapat sebentar." Nia mengangguk dan mengikuti suaminya itu ke kamar yang di sediakan untuk beristirahat di ruangan itu.


Setelah Masnia dan Aulia tertidur Arifin mengecup puncak kepala kedua wanita kesayangan nya itu, dan meninggalkan mereka untuk meeting. Lima belas menit berlalu Nia terbangun dan memilih untuk melihat lihat kantor suaminya itu, mata Nia menemukan paper bag di atas meja sudut kamar, Nia yang merasa penasaran membuka paper bag tersebut .

__ADS_1


"Ini kan kemeja mas Arif, " Nia mencium kemeja tersebut tercium aroma pewangi yang berbeda dengan aroma pewangi di rumah nya.


"Apa mas Arif me loundri kemejanya." Nia mengerutkan keningnya lalu matanya tertuju pada berapa lembar struk dan kuitansi pembayaran yang terletak di samping paper bag tersebut.


"Kuitansi pembayaran kontrak kan untuk satu tahun" Nia yang makin penasaran membuka kertas berikutnya.


"Dress wanita 200 ribu, tanggal nya 3 bulan yang lalu. sama berbeda sehari dengan tanggal kuitansi ini."


"Struk pembayaran penginapan."


"struk pembayaran pakaian dalam wanita. hah.... untuk siapa semuanya ini." Nia menahan sesak di dadanya tak kuat untuk menerima kenyataan pahit yang akan di hadapinya.


"Ya Allah, aku harap ini tak seperti yang aku bayangkan, ah.. tidak aku tak bisa menduga duga seperti ini, aku harus menanyakan langsung pada mas Arif." Gumam Nia. Nia menopang sisi kanan dan kiri ranjang dengan guling untuk menjaga putrinya agar tidak terjatuh, ia pun keluar dari kamar hendak mengambil air minum untuk menetralkan rasa takut nya. dan tepat di saat itu seorang wanita memasuki ruangan Arifin .


"Mas Arif aku membawakan makanan untuk mu" Suara manja wanita itu terhenti saat menyadari keberadaan Nia yang baru saja keluar dari ruang pribadi Arifin.


"Kau....?" Nia menatap lekat wajah Hesti yang mematung di depan pintu.


"Ka... kak Nia" Hesti mengerjab kan matanya tak percaya pada pandangan matanya sendiri.


"Masuk lah, mas Arif sedang ada meeting." Nia berjalan ke arah dispenser dan mengisi gelasnya dengan air dingin.


"Kau Hesti kan" Tanya Nia dengan ramah .


"Iya kak" Sahut Hesti sambil tertunduk.


"Sejak kapan kau bekerja dengan Mas arif." Lagi lagi Nia sangat tenang.


"Sejak tiga bulan yang lalu kak" Jawab Hesti jujur.


"Tiga bulan , namun mas Arif tak memberi tahukan nya pada ku" Nia membatin.


"ou.., baiklah lalu ada apa kau mencari mas Arif" Tanya Nia kemudian.


"Ummm, ini ka eh buk.. sa saya mau " Nia menatap paper bag di tangan Hesti.

__ADS_1


"Apa itu..?" Nia melirik paper bag tersebut yang tak bisa di sembunyikan lagi oleh Hesti.


"eummm i.. ini... , umm anu buk .. eh maaf kak, saya cuma mau mengantar kan makan siang untuk pak Arif." Jawab Hesti terbata.


"Baiklah tinggalkan saja di situ, kau boleh pergi sekarang." Ucap Nia kemudian.


"Ta.. tapi buk," Hesti ragu ragu.


"Kenapa, aku pasti akan memberikan nya pada mas Arif, apa kau tidak percaya pada ku," Hesti segera menggeleng


" Bukan seperti itu buk" Hesti kemudian meletakkan paper bag itu di atas meja dan segera meninggalkan ruangan bos nya itu.


" Huf.... berhari hari aku memikirkan cara agar bisa dekat lagi dengan mas semua jadi berantakan gara gara wanita sialan itu." gumam Hesti saat keluar dari ruangan Arifin.


sementara itu Nia membuka menu makan siang yang di bawa Hesti.


"Wah, kelihatannya dia sangat ingin makan bersama suamiku, ini di tata memang untuk porsi dua orang, ayam kecap, humm sambal terasi, tempe bacem, humm ada kerupuk nya, ini semua makanan favorit mas Arif. " Nia menatap hidangan itu dengan wajah tak dapat di artikan, hingga Arif Kembali ke ruangan nya.


"Sayang kau pesan makanan lagi." Ucap Arifin yang langsung menyerbu makanan tersebut dengan lahap nya.


"Hummm ini sangat lezat sayang, padahal tadi aku sudah makan, jadi laper lagi melihat menu lezat ini." Arif makan tanpa merasa curiga dengan tatapan sang istri yang tak lepas dari wajah nya.


"Ah.. aku kenyang sayang." Arifin bangkit mencuci tangannya kemudian kembali duduk di samping sang istri.


"Sayang, kok kamu dari tadi diam. aja, mana Aulia." Tanya Arifin menatap sekeliling.


"apa makanan nya enak mas," Tanya Nia datar.


"Ini benar benar enak sayang, sudah lama kamu nggak masakin ini untuk mas, terima kasih sayang, " Arifin hendak mengecup pipi sang istri namun Nia menahan tubuh Arifin.


"Ini bukan masakan kau mas, dan aku rasa kau tau itu, karena gak mungkin aku pulang memasak dan kembali lagi kesini dalan waktu sesinggkat itu." Arifin mengerut kan kening nya lalu melotot menyadari hal tersebut.


"Ah.. iya yah, maaf sayang mas gak kepikiran ke situ, lalu siapa yang masak , apa kamu membelinya, atau di antar mbak Asih." Nia menatap tajam sang suami yang terlihat polos.


"Sayang, kau kenapa, kenapa menatap ku seperti itu." Tanya Arifin heran. Nia memangku kedua tanganya di dada dan berkata dengan tegas dan datar.

__ADS_1


"Bisa kau jelaskan pada ku mas" Arifin terpaku tak mengerti maksud sang istri.


**************


__ADS_2