
Hari demi hari berlalu, tak ada kabar dari Mia sejak kepergian nya dari rumah Arifin saat itu, sehingga membuat Aulia menjadi semakin kehilangan kasih sayang seorang ibu, hadis 14 tahun itu pun semakin tak tau arah, demi menghindari sang ayah kadang Aulia sengaja tak pulang kerumah, ia memilih menginap di rumah teman teman nya, bahkan ia mulai sering bolos sekolah dengan alasan bosan pada pelajaran sekolah nya.
"Permisi pak Arif, dan nyonya Hesti " Ucap Asih Ragu ragu.
"Ada apa mbak Asih?" Arif melihat gelagat Asih yang tampak gelisah.
"Umm, anu pak.. Mmm non Aulia sudah dua hari tidak pulang le rumah, dan tadi saya juga dapat telpon dari wali kelas non Aulia katanya non Aulia sudah semingu tidak masuk" Ucap Asih menjelaskan dengan rasa cemas.
"Sayang....?" Arif menatap Hesti tajam seolah mempertanyakan tanggung jawab Hesti.
"Kenapa mas menatap ku seperti itu?" Balas Hesti tak mau di salah kan.
"Mas,.. Aku gak mau yah kamu menyalahkan aku tentang Aulia, kamu tau sendiri anak itu selalu membangkang jika aku menasehatinya." Tegas Hesti sebelum Arif mulai mencercanya.
"Tapi seharusnya kau tau mah, saat Aulia dua hari tak pulang ke rumah, dan kau bahkan tidak pernah memberitahu ku sama sekali tentang perkembangan anak anak " Tuntut Arifin pada sang istri.
"Loh.. Itu kan bukan salah ku, seharusnya mas yang lebih tau tentang anak anak mas, mas bahkan tak pernah bertanya apa anak anak di rumah atau tidak." Balas Hesti.
"Itu karena aku percaya pada mu Hesti, aku pikir selama ini hubungan mu dengan anak anak semakin membaik, karena aku tak pernah mendengar kan kau berkeluh kesah pada ku lagi. " Arifin mulai memijit pelipisnya yang mulai terasa pusing.
"Aku tak ingin mengadu pada mu, karena aku pikir itu akan mengganggu konsentrasi mu dalam bekerja mas, maaf kan aku?" Hesti mulai memainkan dramanya saat ia mulai terdesak.
"Bahkan selama ini Aulia sering keluar malam, dan saat aku tegur dia akan marah, bahkan dia pernah mendorong ku mas, hingga kening ku terbentur meja dan luka, bahkan aku tak ingin mengadukan nya pada mu, itu karena aku tak ingin menambah beban pikiran mu. Hiks.. Hiks.. Hiks..." Tangis wanita itu akhirnya pecah.
__ADS_1
"Sungguh akting yang memukau" Batin Asih.
"Astauhgfirullah halazim, apa benar seperti itu sayang.., mas minta maaf, mas kira selama ini Aulia sudah berubah dan menghormati mu sebagai mamah nya." Arif menggenggam jemari istri untuk sekedar menenangkan sang istri.
"Baik lah, sekarang mas akan mencari Aulia kamu beristirahat yah, gak usah nunggu mas " Arifin mengambil jaket dan ponsel nya kemudian meninggalkan Hesti yang mulai sedikit tenang.
"Asih, apa kamu mempunyai nomor telepon atau alamat rumah teman Aulia saat ia menginap." Tanya Arifin sebelum keluar dari Rumah.
"Tidak pak, biasanya non Aulia akan mengatakan ia menginap di rumah teman nya yang bernama Rahel, tapi ia tak pernah memberikan alamat atau pun nomor ponsel teman nya itu " Jelas Asih panjang lebar.
"Ahkk... Kemana anak itu, ?" Gumam Arifin kesal.
"Baiklah, kalau begitu hubungi wali kelasnya siapa tau dia punya alamat atau nomor ponsel siswanya " Titah Arifin kemudian.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Asih menerima alamat Rahel dari wali kelas nya, Arifin pun segera menuju alamat tersebut.
Sementara di sebuah rumah mewah dengan tiga lantai dua gadis remaja tampak sibuk berjingkrak jingkrak di atas kasur sambil mendengar kan suara musik dan sesekali berteriak mengikuti lirik lagu yang sedang di putar. Suara musik yang memekakkan telinga itu seolah menjadi hiburan bagi dua gadis remaja tersebut.
"Ah... Gue capek " Ucap gadis manis dengan potongan rambut seperti pria tersebut sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Aulia, lo gak pengen balik pa?" Tanya Rahel pada sahabat nya itu.
"Ogah, malas gue di rumah ketemu sama nenek sihir, Gue mau nyari nyokap gue, kata mbak indah nyokap gue sekarang ada di kampung halaman nya " Ucap Aulia yang kini ikut berbaring di samping Rahel.
__ADS_1
"Gue sih senang aja kalau lo di sini, tapi bokap lo pasti nyariin" Rahel menatap Aulia sejenak kemudian bangun dan mematikan suara musik dari speaker aktif yang ada di kamarnya.
"Gak mungkin dia nyariin gue Hel, secara udah sering gue nginap di rumah lo, tapi gak pernah dia nyariin gue, bahkan gue udah nggak masuk sekolah semingu, tapi gak pernah dia pon gue, atau jangan jangan dia malah gak punya lagi nomor ponsel gue." Ucap Aulia sambil terkekeh.
"Sabar ya, Aulia. Gue yakin kok sebenarnya bokap lo sayang banget sama lo, cuma mungkin saat ini mata hatinya lagi di tutup sama tipu muslihat nyokap tiri lo, Makanya gue dari dulu gak ngizinin bokap gue bawa mak tiri gue ke rumah ini, gue gak mau dia ngatur hidup gue, san trus menghasut bokep gue, lebih baik gue tinggal sendiri sama bibik, hidup gue bebas gak ada drama ibu tiri sama anak tiri." Ucap Rahel sambil menghisap sebatang rokok di tangan nya.
"Hel, lo gak bosa berhenti merokok ya, secara kita masih 14 tahun Hel, bahaya tau " Ucap Aulia sambil mengibas ngibaskan asap rokok yang di tiup kan Rahel pada nya.
"Sorry Aulia buat yang satu ini, gue gak bisa gue sangat menikmati aroma nikotin ini dan satu hal lagi, otak gue yang buntu jadi jalan lagi kalau dah ngerokok." Ucap Rahel sambil menghirup dalam asap rokok nya.
"Serah lo deh, gimana Kevin mau tertarik sama lo kalau lo gak bisa sedikit lebih kalem." Gumam Aulia yang mendapat kekehan dari Rahel.
"Gue emang suka sama kevin Aul, tapi asal lo tau Kevin lebih milih lo dari pada gue, jadi walau gue berubah jadi apa pun, gak bakal merubah kenyataan." Ucap Rahel yang membuat mata Aulia melotot.
"Ma... Maksud lo..?" Aulia menatap Rahel yang kini mengalihkan pandangan nya pada tembok sambil meniupkan asap rokok dari bibir mungil nya.
"Ya, Aulia, Kevin suka sama lo." Ucap Rahel parau.
"Asal loh..., lo tau dari mana lagi, lagian gue gak suka sama Kevin, " Ucap Aulia sambil meninggalkan Rahel yang masih menatap tembok sambil menahan bulir mata yang hendak keluar.
Sejujurnya sejak mengenal Kevin, Aulia sudah mulai menyukai pria sekelasnya itu, namun karena Rahel yang juga menyukai Kevin Aulia memilih untuk berpura pura tidak menyukai pria itu.
Namun karena pengakuan yang di dengar dari Rahel tak urung perasaan Aulia jadi melambung lagi, ia tak ingin Rahel tau perasaan nya, makanya Aulia memilih keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
"Aku tau kau juga menyukai Kevin Aulia" lirih Rahel yang kini berada di belakang Aulia.
"Ra... Rahel.., ah.. Kau ini" Tatapan tajam Rahel membuat Aulia terdiam dan mengalihkan pandangan nya sembarang arah.