
Jam menunjukkan pukul dua dini hari, Arifin yang tertidur di sofa kembali terbangun saat mendengar suara rintihan dari atas ranjang.
"Mas, maafin aku, aku mohon mas... ampuni aku, " Isakan tangis di dalam tidur itu begitu menyayat hati Arifin, wanita yang dulu pernah ia cintai, wanita yang pernah menjadi dunianya, wanita istimewa yang mengisi hatinya hingga saat ini, yah..bahkan setelah pengkhianatan itu Arifin tak bisa melepas Hesti sepenuhnya. ada suatu ruang yang tak mampu di isi bahkan oleh istrinya Nia sekalipun.
Hesti adalah cinta pertamanya, sakit pertamanya, dan luka pertamanya, sehingga tak mudah menghapusnya dari hati dan ingatan Arifin.
"Kenapa Hesti... kenapa kamu harus mengkhianati ku." Lirih Arifin sambil mengusap wajah wanita 25 Tahun itu. Arifin hendak kembali ke sofa saat jemari lentik itu meraih tangan Arifin. Arifin menoleh dan menatap wajah sendu itu dengan penuh iba.
"Maafin aku kak" Ucapan itu akhirnya keluar dari bibir Hesti. Arifin tak mampu berkata, sakit.. yah sakit itu bahkan masih terasa setelah 8 tahun berlalu.
Arifin melepaskan genggaman tangan Hesti, lalu duduk di sisi ranjang. "Apa demam mu sudah turun." Hesti bangun dan duduk dalam keadaan menunduk.
"Lihatlah kak, bahkan tuhan menghukum ku dengan cara yang lebih menyakitkan setelah aku memilih mengkhianati pria baik sepertimu. pria yang sangat aku cintai kini membuang ku, setelah aku memberikan segalanya padanya, bahkan aku memberikan satu satunya kebanggan ku padanya. hiks... hiks... hiks..., " Hesti menangis sesugukan
"Apa yang di lakukan Doni padamu." Tanya Arifin sambil berusaha tenang, jujur sangat sakit mendengar tangis wanita itu.
"Bang Doni berubah saat aku kehilangan calon anak kami, dia berselingkuh lagi dengan sekretaris nya, dan dia membawa wanita itu ke rumah, aku kesal , marah dan menyiram selingkuhannya dengan sop panas, Bang doni marah dan mengancam akan membunuhku. Aku memutuskan kabur dari rumah namun orang suruhannya mengejarku hiks.. hiks.. hisk.."
"Mungkin ini adalah balasan tuhan padaku, aku mendapat kan karma atas perbuatan ku dulu pada mu." Hiks... hiks.. hiks...
"Sudah lah, tak perlu membahas masa lalu, sekarang kemana tujuan mu." Arifin menetap sejenak pada Hesti lagi lagi dada Arif berdetak kuat saat mata mereka bertemu pandang.
"Bahkan setelah rasa sakit ini Hesti dada ini masih berdegup kencang untukmu." Batin Arifin.
"kak, apa kau memberikan pintu maaf mu untukku" Hesti memberanikan diri untuk meraih tangan Arifin.
"Yang terjadi pada kita adalah masa lalu Hesti, aku sudah memaafkan mu, dan aki juga telah melupakan semuanya, sekarang fokuslah menata hidupmu kembali, mulai semua dari awal, aku akan membantumu jika kau mau."
kriuk..
suara perut Hesti membuat Arifin tersenyum.
__ADS_1
"Aku sampai lupa," Arifin meraih paper bag yang berisi makanan menyerahkan nya pada Hesti.
" Makan lah kau pasti lapar."
"Apa kakak sudah makan" Arifin mengangguk , Hesti makan dengan lahap tanpa bicara, sambil sesekali menatap Arifin yang tak mengalihkan pandangannya dari Hesti.
"Kenyang...?" Hesti mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih ya kak" ucap Hesti setelah meneguk air mineral yang di berikan Arifin.
"Istirahat lah, kau terlihat sangat lelah."Arifin mengusap kepala hesti manja.
"Kau tak pernah berubah kak Arif, selalu perhatian dan pengertian, andai aku tak terpengaruh oleh Doni, ahhh cinta sudah membutakan mata hatiku sehingga menyakiti pria sebaik dirimu." Batin Hesti. Kemudian Hesti kembali tidur sedangkan Arifin kembali ke sofa .
Pagi harinya Arifin terbangun saat jam menunjukkan pukul 10 pagi, di liriknya Hesti yang masih memakai handuk i kepala dengan tubuh tertutup selimut .
"Kau sudah mandi?" Hesti mengangguk canggung
"Oh iya aku lupa, ini " Arifin memberikan paper bag berisikan pakaian pada Hesti.
"Tapi... aku lupa membeli itu.... hummm... " Arifin tak melanjutkan kalimatnya namun tangannya menunjuk pada dada Hesti membuat wanita itu memerah karena malu.
"Terima kasih kak, ini sudah cukup. mungkin di tas ku masih ada yang kering." Hesti membuka tas kain yang dia bawa hanya beberapa lembar pakai an dam ternyata dalaman nya basah semua.
"Hah.. apes banget hidupku." lirih Hesti yang tentu saja terdengar oleh Arifin.
"Kau bisa membelinya nanti di perjalanan " Ucap Arifi. Hesti hanya tersenyum canggung
"Bagaimana mungkin aku tidak memakai bra dan ****** ***** ku, apa bentuk nya nanti." batin Hesti. Namun mau tak mau ia harus memakai dress selutut dengan warna navi itu dari pada enggak sama sekali.
"Sekarang apa rencana mu." Tanya Arif saat keluar dari kamar mandi." Hesti hanya menggeleng.
__ADS_1
"Bagaimana jika kau ikut aku ke kota J, aku punya usaha mebel dan furniture di sana. kau bisa bekerja di sana dan aku akan membantumu mencari kontrakan untuk sementara waktu."
"Apa tidak merepotkan kakak" Tanya Hesti ragu ragu.
"lalu istri mu?" Arifin menoleh sejenak, "Ia wanita yang baik, dia tak akan marah jika aku menolong sesama." Ucap Arifin yang membuat Hesti sedikit tercubit hatinya, yah ia tak menyangka jika Arifin benar bener sudah tak ada perasaan lagi padanya.
Arifin pun kembali tersadar dan teringat ia belum mengabari istrinya pagi ini. Di raih ya ponsel yang ternyata mati daya, segera ia carger sebelum keluar dari kamar penginapan itu.
ting
ting.
Beberapa notiv pesan terdengar saat ponsel Arifin telah aktif kembali. Segera satu persatu pesan dari sang istri ia buka. kemudian Arifin mengabari istrinya bahwa ia baik baik saja dan sekarang berada di penginapan.
Arifin dan Hesti kemudian meninggalkan penginapan menuju kota J, sesuai rencana awal Arifin pun mencarikan kontrakan untuk Hesti dan memberikan sedikit uang untuk pegangan wanita itu takut takut akan membutuhkan sesuatu. setelah semua urusan Hesti selesai Arifin pulang ke rumah istrinya
Senyum bahagia terbit di wajah cantik Nia saat suaminya pulang dalam keadaan selamat dan sehat.
"Mas aku kangen...?" Wanita itu langsung memeluk suaminya manja.
"Mas juga kangen sayang, "Arifin segera menyambar bibjr sang istri dan mengecup nya sejenak.
"Bagaimana keadaan mamah , Aulia dan calon baby kita"Ucap Arifin sambil mencium pipi sang istri dan beralih ke perut yang mulai tampak membuncit itu.
"Anak papah tidak nakal kak di dalam sana?" Nia tersenyum melihat tingkah lucu suaminya itu.
"Oh iya Aulia mana mah, papah kangen sekali sama putri gembul papa itu." Arifin duduk di sofa sambil membuka sepatunya.
"Aulia lagi ke taman sama Mia mas." Nia datang dengan segelas air putih hangat untuk suaminya itu.
"Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu yah ma" Mia mengangguk dan menyiapkan pakaian santai untuk sang suami.
__ADS_1