GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Harapan pak Darmawan.


__ADS_3

Pagi itu Mia terbangun dengan wajah yang lebih segar setelah menunaikan ibadah solat subuh ia memilih untuk berjalan jalan pagi sekedar menghirup udara segar di pagi hari.


"Ah, sejuk sekali, andai Aulia di sini dia pasti sangat senang joging di tempat yang sangat indah dan alami ini." Mia seketika murung saat teringat ketiga putrinya itu.


"Anak Anak, mamah rindu kalian." Mia bergumam lalu menatap indahnya hamparan kebun sayur yang sangat subur.


"ah, ini kan ladang ibuk dan bapak, siapa yah yang mengelolah ladang ini, sejak ibuk pergi aku tidak pernah tau tentang ladang ini kak Nia tak pernah bercerita pada ku." Mia menatap hamparan kebun yang berisi sayuran tersebut terbayang masa kecilnya bersama Nia yang sedang membantu ayah dan ibu mereka membersihkan ladang tersebut.


"Humm, ekhem...." Seorang pria tua berdiri di belakang Mia.


"Assalamualaikum, " Sapa pria itu.


"Waalaikumsalam,... Uwak...? " Mia tersenyum senang melihat Pria kira kira 55 tahun tersebut.


"Yah,..." Pria itu terlihat kaget dan mengerutkan kening nya heran.


"Wak, ini Mia.. anak nya Almarhum pak Zul." Mia memperkenalkan diri pada Pria itu.


"Mia..., ooo Mia anak nya Zulfikar." Pria tua itu tersenyum melihat keberadaan Mia anak sahabat baik nya itu.


"Wah, sudah dewasa, tambah cantik kamu yah." Mia tersenyum mendapat Pujian dari Wak Samsul tetangga sekaligus sahabat Mendiang ayah nya.


"Ah, uwak bisa aja, Gimana kabar Uwak dan wak Limah." Tanya Mia lagi.


"Alhamdulillah nak, Uwak mu ini sehat , tapi wak Limah Mu sudah pergi duluan menghadap sang Pencipta enam bulan yang lalu." jelas pria bernama Syamsul itu.


"Innalilahi wa innailaihi rajiun." Mia menutup mulutnya kaget mendengar berita itu.


"Oh iya kau kapan datang, dan bersama siapa? mana suami mu?" Wak Samsul mencerca Mia dengan pertanyaan.


"Mia, baru sampai kemaren siang wak, Mia datang sendiri kangen sama tanah kelahiran." Ucap Mia.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kau harus ke rumah, intan pasti senang berjumpa dengan mu, apa kau masih ingat padanya." Tanya Samsul pada Mia, Mia mengangguk sambil tersenyum senang.


"Tentu saja aku ingat wak, dia sahabat terbaik ku, dari kecil hingga SMA." Ucap Mia kemudian.


"baiklah kalau begitu wak jalan dulu, mau melihat kebun rencananya pagi ini mau panen, wak tunggu kamu di rumah kita makan siang bersama, nanti wak minta Intan masak sayur kesukaan mu." Ucap pria itu berlalu meninggalkan Mia.


"Insyaallah wak " Mia pun kembali ke rumah setelah puas menghirup udara segar di pagi hari.


***


Sementara itu di sebuah Rumah mewah tiga lantai seorang Pria baya berusia kira kira 40 tahun tengah menikmati hidangan sarapan nya bersama kedua orang tua dan istri tercintanya.


"Doni, pagi ini ada pertemuan dengan kelompok tani, Papa harap kamu bisa mengantikan papa, karena pagi ini papa ada janji cek up bersama dokter." Titah Darmawan pada sang putra.


"Apa harus pagi ini yah pa, aku juga ada janji dengan dokter kandungan, yah seperti permintaan kalian aku dan Iren berencana melakukan program bayi tabung." Ucap doni yang membuat kedua orang tua nya merasa bahagia.


"Alhamdulillah, papa sangat senang mendengar keputusan kalian ini, baiklah itu jauh lebih penting dari pada sekedar cek up, kita bisa melakukan nya lain kali mah, kami akan pergi ke perkebunan, dan kalian bisa lanjutkan rencana kalian."


"Makasih pa," Ucap Irene senang.


"Ini gara gara wanita mandul ini, sehingga aku harus melihat orang tuaku bersedih setiap hari." Batin Dhoni


Setelah sarapan Darmawan dan Santi pun segera pergi ke perkebunan sayur tempat biasa mereka membeli langsung hasil kebun dari petani untuk di pasarkan ke mall dan mini market milik Darmawan.


" Selamat pagi pak Samsul " Sapa Darmawan pada ketua kelompok petani sekaligus RT setempat.


"Waalaikumsalam, dan selamat pagi juga Pak Darmawan." Samsul menjabat tangan Darmawan erat.


"Bagiamana hasil panen kita kali ini pak Samsul" Tanya Darmawan pada Samsul.


"Alhamdulillah sangat sangat memuaskan pak Darmawan." Ucap pak Samsul yang tersenyum penuh kepuasan.

__ADS_1


"Silahkan duduk pak, buk" Pak Samsul mempersiapkan tamu nya itu untuk Duduk di kursi yang sudah ia sediakan.


"Kakek... " seorang anak pria berusia kira kira 10 tahun datang dan memeluk Samsul dari belakang.


"Kakek aku akan berangkat ke sekolah" Bocah itu mencium punggung tangan Samsul dengan hikmad, kemudian Samsul mencium puncak kepala cucu kesayangan nya itu. pandangan itu tak luput dari mata Darmawan yang menatap penuh haru.


Setelah itu bocah itu mencium punggung tangan Darmawan dan Santi, bergantian membuat kedua orang itu kagum pada anak sepuluh tahun itu.


"Sangat sopan" Gumam Darmawan .


"Dah kakek.." Anak kecil itu pun berlalu meninggalkan ketiga kakek nenek itu sambil tersenyum bahagia dan tangan melambai pada ketiga orang tua itu.


"Cucu pak Samsul sudah besar dan sangat tampan ya." Puji pak Darmawan yang di tanggapi senyum di wajah Samsul.


"Alhamdulillah pak, sayang nya ibunya meninggal saat ia masih berumur 3 tahun." Ucap Samsul sedih.


"Kasian sekali yah pa, " Santi menanggapi.


"Terus apa ayah nya sudah menikah lagi." Pak Samsul menggeleng.


"Katanya takut jika istrinya nanti tidak bisa mencintai putranya " Jawab pak Samsul sendu.


"Nasib nya sama persis dengan ketiga cucu saya dari putra ke dua saya pak Samsul." Darmawan tiba tiba teringat pada ketiga Cucu nya yang lama tidak berjumpa.


"Hanya saja nasib baik masih berpihak pada mereka karena mereka akhirnya mendapat kasih sayang seorang ibu sambung yang sangat baik sehingga mereka tak merasakan kehilangan sosok ibunya." Sambung Santi dengan senyum lembutnya


"Alhamdulillah, jarang ada wanita yang mau mengurus anak anak yang bukan darah daging nya pak, buk," Ucap Samsul ikut bersyukur.


"Yah, kebetulan ibu sambung nya itu bibi mereka sendiri pak Samsul bahkan menantu saya itu memutuskan untuk tidak hamil dan memiliki anak, demi menjaga ketiga keponakannya itu." Ucap Santi memuji sang Menantu kesayangan suaminya tersebut.


"Alhamdulillah pak Darmawan dan Ibuk sangat beruntung mendapatkan menantu yang sangat baik dan mulia Hatinya " Ucap pak Samsul kembali.

__ADS_1


"Tapi... kebahagiaan kami tak sesempurna itu pak Syamsul, Putra kami itu tak pernah mau mengajak cucu dan menantu kami untuk berkunjung, bahkan Jika kami datang pun dia tak mau bertemu, mungkin baginya kami sudah mati pak Samsul." Hiks.. hiks.. hiks.... Santi menangis pilu membuat Pak Samsul ikut prihatin. Darmawan yang juga merasa kan kepedihan itu hanya bisa menggenggam erat jemari sang istri.


"Ah, maaf kan kami pak Samsul." Pria itu mengusap bulir air mata yang mengalir di wajah tuanya.


__ADS_2