GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Aku tak akan menceraikan mu


__ADS_3

"Semenjak hari itu Nia bersikap dingin padaku, entah apa yang mereka bicarakan waktu itu, tapi aku bener benar tidak tau itu makanan dari Hesti." Arifin menghembuskan nafas beratnya.


"Aku mencintainya Mia, aku tak pernah berkhianat, hingga hari itu tiba, dimana tiba tiba Nia memintaku untuk menikahimu, jujur aku kaget, aku bahkan tidak tau apa maksudnya, Bahkan berkali kali aku mencoba untuk mencintaimu, tapi aku tak bisa." Arifin tertunduk lemah.


"Sekarang aku tau jawabannya kenapa kau tidak pernah menganggap ku ada mas, kenapa kau tak pernah jujur pada ku, bahkan kau selalu menghindari ku, dengan alasan pekerjaan. semua itu sampah...!!!" Mia bangun dari posisinya ia membuka pintu kamar hendak pindah ke kamar tamu, namun sejenak dia berdiri.


"Aku sudah tidak perduli dengan kisah cinta romantis mu itu, besok aku akan mengurus perceraian kita, "


Deg...


Arifin tercenung , ia tak menyangka Mia akan memutuskan secepat itu. Yah walaupun hubungan mereka kaku, tapi Arifin sangat yakin Mia sangat mencintainya, dan Arifin sudah berniat untuk mengatakan tentang pernikahan Sirinya pada Mia.


"Sial.. bagaimana ini, anak anak tak akan bisa jika berpisah dengan Mia, tapi.. aku juga tak mungkin meninggalkan Hesti, aku sangat mencintianya. Tidak... aku tak ingin bercerai." Arifin segera mengejar Mia.


"Mia..., Mia... buka pintunya" Arifin menggedor kamar tamu tempat Mia beristirahat. Mia yang baru saja hendak membaringkan tubuhnya sontak bangun dengan kesal.


"Mia.. kita harus bicara Mia, ... Mia....! aku gak mau kita bercerai." Teriakan Arifin membuat Mia jengah Sehingga ia memutuskan untuk membuka pintu.


"Mia....?!" Arifin langsung masuk menutup pintu.


"Apa yang ingin di bicarakan?" Ucap nya menatap dingin


"Mia, tolong pikirkan lagi, bagaimana dengan anak anak, mereka telah kehilangan ibu nya di waktu mereka kecil, bahkan Raja dan Dila tak tau tentang rupa ibu kandung nya. apa kau tega Mia, apa kau tak memikirkan nasib mereka." Ucap Arifin yang membuat Mia menaikkan sudut bibirnya.


"Heh...., Seharusnya kau tanyakan hal itu pada dirimu sendiri Mas, apa Kau tak kasian dengan mereka, Sepuluh tahun mas,... sepuluh tahun aku mengabdikan diriku pada mu, dan anak anak, bahkan aku tak pernah tau bagaimana rasanya jadi seorang istri sebenarnya, bahkan aku tak tau indahnya mendapatkan malam pertama mas dan kau... ....?" Mia tak mampu lagi bicara ia mengepalkan tangan nya menahan emosi yang kini bergejolak ia memejamkan matanya dan menghirup udara menghilangkan rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


"Anak anak, yah... selama ini aku sudah bertahan dengan peran ku sebagai ibu mereka, dan peran itu tak akan pernah berakhir walau kita bercerai, sama seperti sebelum nya aku akan tetap menjadi ibu bagi mereka."Tegas Mia.


"Tolong berikan aku kesempatan Mia, kita bisa memulai semua dari awal lagi, yah.. dan aku berjanji akan memperlakukan mu sebagai seorang istri, aku berjanji Mia. Aku akan memperbaiki semuanya, aku .. aku akan berusaha memenuhi kebutuhan Batin mu, yah.. bahkan malam ini pun kita bisa memulainya Mia,.. Ya.. ayok aku akan memberikan malam pertama terindah untukmu." Arifin menarik tangan Mia mengecup jemari lentik itu dan berjongkok di depan Mia menatap sendu wanita yang telah di abaikan nya selama sepuluh tahun lamanya.


Mia terdiam tak mengerti jalan pikiran Arifin ia menatap tajam lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Aku bahkan tak menyangka jika kau sangat menjijikkan Arifin Darmawan." Satu kalimat itu mampu membuat Arifin terpaku di tempatnya.


"Keluar....!???" Airmata yang tadi sudah mengering kini mulai membasahi lagi pipi Mia, yah.. perasaan nya kacau.


"Tidak,.. aku tak mau kita berpisah" Pria itu makin mendekat dengan wajah frustasi nya.


"Menyingkir dari ku Arifin." Teriak Mia, Namun Arifin tak menghiraukan bentakan Mia, pria itu sudah gelap mata ia bangun mensejajarkan diri dengan Mia lalu menyentuh bibir lembut wanita itu dengan ibu jarinya.


"Bukan kah ini yang kau ingin kan Mia, kau sangat ingin aku menyentuh mu bukan, akan aku penuhi keinginan mu, tapi aku mohon jangan meminta cerai dari ku, Aku berjanji Mia, aku akan berlaku adil pada mu dan Hesti, kau akan tetap menjadi istri pertama ku, dan ibu dari anak anak ku, dan Hesti akan tetap di posisinya menjadi istri ke duaku."


"Keluarlah Arifin kau sangat menjijikkan kan, bahkan aku tak sudi di sentuh oleh mu lagi." Tangis Histeris Mia pun pecah seketika, hatinya hancur, Pria yang sangat di cintai dan di kagumi nya itu dengan terang terangan menghina nya, dan mengakui perselingkuhannya nya dengan wanita lain.


"Mia...?" Arifin yang hendak menyentuh bahu wanita itu segera di tepis oleh Mia.


"Keluar kata ku, keluar....!!!!" Mia melemparkan bantal dan guling ke arah Arifin secara bergantian. Sementara Arifin tetap berdiri di tempatnya, sehingga akhirnya Mia mendorong tubuh pria itu keluar dari kamarnya dan mengunci pintu rapat.


Mia menyandarkan tubuhnya di balik pintu dan menangis histeris.


"Apa salah ku kak, kenapa aku terjebak dengan pernikahan seperti ini." tubuhnya merosot dan tertunduk lemah di bawah pintu.

__ADS_1


Sementara Arifin merasa dirinya telah melakukan hal yang benar, yah dengan memberikan malam pertama yang tertunda pada istrinya adalah solusi terbaik menurut nya, asal Mia tak meninggalkan anak anak nya.


"Dasar wanita , bukan kah dia sangat ingin aku menyentuhnya, tapi kenapa malah dia jadi histeris begitu, seharusnya kau bersyukur karena aku akan memberikan hak mu sebagai istri." Gumam nya di balik pintu.


"Aku tidak akan pernah menceraikan mu Mia, dengan menceraikan Mia, Anak anak akan membenciku apa lagi Aulia." Arifin memijit kepalanya yang mulai berdenyut karena pusing.


"Oh tuhan... apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa mencintai wanita itu, tapi aku juga tak bisa melepaskannya, aku hanya mencintai Hesti." Arif mencengkam kepalanya sendiri merasa frustasi dengan yang terjadi .


Arifin meraih kunci mobil nya dam segera menuju rumah istri keduanya itu.


Jam menunjukkan pukul 6 sore, sebentar lagi mahgrib, itu artinya anak anak akan turun untuk solat mahgrib berjemaah, Mia segera keluar dari kamar setelah berusaha menenangkan diri ia langsung ke dapur memeriksa persiapan Mbak asih untuk menu makan malam mereka malam ini.


"Mamah..." Dika dan Raja segera turun dan menghampiri sang mamah dengan pakaian rapi untuk solat mahgrib bersama.


"Loh, kakak mana" Mia bertanya pada Raja dan Dila saat tak melihat Aulia di antara mereka.


"Kakak ada di kamar nya mah, katanya sakit perut." Ucap Dila membuat Mia kaget dan segera berlari ke lantai atas ke kamar putrinya itu.


tok.. tok.. tok...


"Masuk mah, " Ucap Aulia dari dalam kamar.


"Kakak kenapa? lagi sakit perut? apa kakak salah makan sesuatu ?" Tanya Mia panik.


"Enggak mah, kakak... hummm kakak..." Aulia bicara sambil menunduk ragu bicara pada sang mamah.

__ADS_1


"Katakan kak, ada apa?" Ucap Mia lembut tapi penuh ketegasan.


__ADS_2