
Sementara itu, Arifin dan anak anak nya baru saja sampai di rumah mereka setelah genap seminggu Aulia di rawat,Awalnya Aulia meminta pulang' dari rumah sakit namun dokter yang menangani Aulia tidak menyarankan dan akhirnya baru pagi ini mereka di perbolehkan pulang, setelah kondisi psikis Aulia di nyatakan normal,sebelum pulang ke rumah mereka menjemput Raja dan Dila ke panti asuhan PERMATA HATI. walau sempat bersitegang dengan bunda Hanum karena tak ingin cucunya di rawat oleh Hesti, Namum akhirnya bunda Hanum mengalah setelah Raja mengatakan kalau dia akan ikut Hesti dan berjanji akan menjaga Dila juga, yah.. janji seorang anak anak, namun Bunda Hanum tak mampu berkata apa apa selain mengalah pada Raja.
"Selamat datang kembali anak anak" Ucap Arifin sambil tersenyum pada ketiga Putra dan putrinya.
"Aulia mau ke kamar dulu." Gadis remaja itu langsung melangkahkan kakinya ke lantai dua tempat kamarnya berada. di ikuti Raja dan Dila yang masuk ke kamar masing masing.
"Anak anak...?" Ucapan Arifin terhenti saat Hesti menarik tangan suaminya itu sebagai tanda biarkan lah.
"Tapi sayang..?" Ucap Arifin kemudian.
"Kita biarkan dulu mereka mas, jangan memaksa mereka, percayalah nanti mereka akan terbiasa tanpa Mia." Ucap wanita itu memilih duduk di sofa panjang ruang keluarga.
sesampai di kamarnya Aulia memilih mengunci pintu dan berbaring di kasurnya, gadis itu meraih ponselnya dari dalam kantong jaket nya, dan mencoba menelpon mamah nya.
tu...t... tut.... tut....
telpon tidak tersambung,
"Mamah, kakak kangen, kenapa ponsel mamah mati" hiks.. hiks.. hiks...
"Kenapa mamah tinggalin kakak dan adik adik mah" lirih Aulia dalam kesendirian nya, Lain Aulia lain pula Raja, bocah 10 tahun itu mencoba tegar dengan keadaan keluarganya saat ini, dia tidak mengeluh pada siapa pun sesuai janjinya pada nenek nya. Di tatap nya keluar jendela terbayang wajah sang mamah yang selalu tersenyum walau ternyata banyak beban luka yang ia sembunyikan.
"Abang kuat kok mah, semoga mamah bahagia di luar sana, abang akan jaga kakak dan adik dari nenek sihir itu, abang janji" Bocah itu menghapus linangan air matanya dan mencoba tersenyum walau pun getir.
Sedangkan Dila yang tak tahu apa apa, bocah itu sibuk menonton film kartun favorit nya, hingga akhirnya
"Mamah Dila ngantuk..?" Tiba tiba gadis kecil itu merindukan pelukan ibunya. hiks... hiks... hiks..., ia menangis dan memeluk guling kesayangan nya dan tertidur.
__ADS_1
"Sayang, aku titip anak anak yah, kamu yang sabar, sudah beberapa hari ini mas nggak ke kantor, pasti banyak pekerjaan yang tertunda, jika ada apa apa kamu minta bantuan Asih ya, nanti sore kita ke kontrakan ambil barang barang mu." Ucap Arifin pada Hesti.
"Iya mas, jangan khawatir kan anak anak, insyaallah dia aman bersama ku." Arifin mengecup puncak kepala Hesti kemudian pergi ke kantornya.
"Ah..., akhirnya aku memiliki semuanya, Suami tampan, rumah mewah, uang banyak dan segalanya, gak sia sia aku bertahan selama ini." Gumam wanita itu tersenyum licik.
Hesti melangkah ke kamar utama, di lihat nya di sana ada foto pernikahan Arifin dan Mia yang terpajang di dinding kamar.lalu beralih pada Lemari pakaian tampak kosong, dia tersenyum senang.
"Aku tidak perlu repot membuang pakaian wanita itu, dia cukup tau diri dengan membawa semua pakaian nya. ahhh... hidup ku saat ini sempurna sekali sekarang aku harus memastikan mas Arif semakin mencintaiku,sehingga posisiku akan amam selamanya bahkan dari anak anak sialan iti" ia pun membaringkan tubuhnya di kasur empuk ukuran jumbo itu. Tanpa dia sadari Asih mendengar semua gumaman nya.
Jam menunjukkan pukul 12 siang sudah waktunya makan siang, Asih yang sudah menyiapkan menu sesuai kesukaan anak majikan nya itu kini tersenyum puas, Non Dila sama den Raja pasti suka. Wanita 35 tahun itu pun menaiki anak tangga untuk memanggil ke tiga majikan ciliknya itu. Ketiga pintu kamar di gedor perlahan namun tidak ada di antara mereka yang membukakan pintu. akhirnya Asih memberanikan diri membuka pintu kamar Dila, ternyata tidak di kunci Asih melihat majikan bungsunya itu terlelap sambil memeluk guling, Asih terharu tanpa terasa airmata mengalir di pelupuk matanya.
"Non... non Dila bangun, sudah siang non Dila makan dulu yah, mbak sudah masak kesukaan non Dila, gulai kuning kepala ikan mas." Ucap Asih pada gadis kec itu.
"Mbak Asih Dila kangen mamah" Gadis kecil itu memeluk Asih, Asih tak kuasa menahan airmatanya hiks... hiks.. hiks...,
"Mbak, jangan berikan harapan palsu pada anak anak, Mia tidak akan kembali ke rumah ini, dan anak anak harus terbiasa dengan itu" Ucap Hesti yang tiba tiba telah berada di depan pintu kamar Dila.
"Ta.. tapi buk..., " Ucapan Asih terhenti saat mendapat bentakan dari Hesti.
"Diam dan ikuti apa yang saya perintahkan, di sini kamu itu hanya pembantu, jangan sekali kali kamu mempengaruhi anak anak, dan satu lagi, panggil saya Nyonya... ingat itu, kamu kira saya pernah kawin sama bapak mu, sekenaknya memanggil ku ibuk." Ketus Hesti sebelum meninggalkan kamar Dila.
"Astagfirullah halazim, nyonya Hesti berbeda sekali dengan buk Nia atau pun buk Mia" Ucap wanita itu sambil mengusap dadanya.
"Mbak Asih, Dila takut sama mamah Hesti." Ucap gadis itu kemudian.
"Gak usah takut, nyonya Hesti tidak akan berani memarahi non Dila, jika itu terjadi kita akan adukan sama papa non Dila." Ucap Asih menghibur anak malang itu.
__ADS_1
Sementara itu Raja yang tadi mendengar ketukan pintu dari asih kini pun bersiap untuk turun makan siang, sebelum turun Raja melihat ke kamar Aulia.
"Apa kakak sudah turun" Gumam nya, kemudian mencoba menggedor kamar Aulia.
"Kak... kak.. ayok makan siang, kakak harus makan biar cepat sembuh" Ucap Raja dari balik pintu.
"Aku gak lapar Ja, kamu duluan aja." Jawab Aulia dari kamar.
"Raja bawakan makan nya ke kamar ya" Tanya raja memberi penawaran.
"terserah kamu aja" Jawab Aulia kemudian. Raja pun menuju meninggalkan kamar Aulia bertepatan dengan mbak Asih dan Dila yang juga hendak turun ke bawah.
"Den Raja sudah bangun?" Tanya Asih yang di sambut anggukan oleh Raja.
"Non Aulia kenapa gak turun " Tanya mbak Asih, raja hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu. sesampainya di Ruang makan Mereka melihat Hesti yang makan dengan lahapnya.Membuat Raja berdecih tak suka.
Dila duduk di meja makan tanpa menyapa Hesti begitu pula Raja.
"Mbak Asih tolong Ambilkan nasi dan lauk untuk kak Aulia yah," Pinta Raja pada Asih.
"Jangan memanjakan anak itu Asih, jika dia mau makan suruh dia turun." Ucap Hesti melarang Asih.
"Mbak Asih , tidak ada yang berhak mengatur aku atau pun kedua saudara ku mau makan di mana,cepat ambilkan nasi untuk kakak ku" Tegas Raja sambil menatap tajam Hesti.
"Bocah sialan, kelihatannya aku tidak bisa meremehkan anak anak sialan ini." Batin Hesti.
Tanpa pikir panjang Asih segera mengambil nasi dan lauk untuk Aulia kemudian wanita itu mengantar ke kamar Aulia. sedangkan Hesti menatap Asih dengan tatapan mengancam.
__ADS_1