GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Mia.


__ADS_3

Mia,


Aku terbangun saat jam di tangan ku menunjukkan pukul 07:09 pagi, aku lihat di sekeliling ku sudah mulai ramai orang lalu lalang melakukan aktivitas di pagi hari ini.


Aku menatap nanar ke depan menyaksikan hamparan batu nisan yang berbaris di tempat pemakaman umum dimana kakak ku satu satunya di makam kan, Sebenarnya aku sendiri bingung, mengapa aku bisa sampai di sini , apa lagi saat itu tengah malam tanpa pencahayaan. Tanpa rasa takut aku membaringkan tubuh ku di samping batu nisan yang bertuliskan nama kakak ku Masnia.


Entahlah, Aku begitu marah padanya, mengapa dia memintaku untuk menjadi ibu dari anak anak nya, jika dia tau suaminya mencintai wanita lain, aku merasa seperti orang bodoh kenapa aku harus terjebak dengan pria jahat seperti itu, pria yang awalnya aku kagumi, sehingga aku mulai jatuh cinta padanya. dengan setia menunggunya, menerima setiap sikap cueknya, dan berharap menua bersamanya, mengurus anak anak dari kakak ku, dan ahhh... aku tak sanggup lagi untuk berkhayal semua nya sirna bersamaan dengan pengakuan kejam nya, bahwa dia mencintai wanita lain.


Aku berusaha untuk tegar namun aku tak sanggup bahkan aku tak ingin untuk melihat wajah nya saat ini, hingga aku arakan mobil ku pada sebuah rumah panti asuhan yang di kelola oleh mertua ku yaitu bu Hanum.


"Assalamualaikum bunda" Sapa ku saat ku lihat bunda sedang duduk di bangku taman di depan panti asuhan.


"Mia kau datang nak, mana cucu bunda kenapa gak di ajak" Tanya wanita yang sudah 60 tahunan itu.


"Mia sendiri bunda, kebetulan Mia habis berziarah ke makan kak Nia, "ucap ku sambil ikut duduk di samping nya.


"Kamu sudah sarapan, bunda bikinin teh ya" Ucap bunda ramah.


"Boleh bun, kebetulan Mia belum sarapan." Yah aku rasa segelas teh hangat bisa menjernihkan pikiran ku untuk saat ini. Bunda memanggil salah seorang anak panti dan meminta nya untuk membuat teh, dan tak perlu menunggu lama dua gelas teh dan beberapa potong kue serabi sudah ada di meja.


"Kamu baik baik saja nak" Ucap bunda sambil mengelus bahuku. Sumpah saat ini ingin rasanya aku menjerit dan memeluk bunda sambil mengatakan anak mu berkhianat bunda, Namun aku berusaha menahan semua itu demi untuk menjaga perasaan ibu mertua ku itu. Seorang ibu yang sangat berjasa untuk ratusan anak yang menumpang hidup di panti asuhan ini.


Aku tersenyum dan mengangguk, aku ambil gelas berisikan teh hangat itu aku pun meneguk isinya kemudian mengalihkan pandangan ke hamparan taman yang luas sekedar untuk mengalihkan pandangan ku dari mata bunda.


"Katakan nak" Ucap bunda seolah mengerti segala isi hatiku. Aku terdiam, mataku terpaku pada rombongan anak anak yang sedang bermain, yah anak anak yang belum memasuki usia sekolah bermain di taman di temani beberapa anak panti yang sudah dewasa yang rela mengabdikan diri mereka pada anak anak panti ini.


"Huf...." Kutarik nafas ku kasar ku tatap wajah teduh bunda lalu aku berpikir apakah wajar aku memberitahu kan urusan rumah tanggaku pada wanita tua ini, " Tidak... aku tidak tega menambah beban pikirannya.


"Aku baik baik saja bunda" Akhirnya kalimat itulah yang keluar dari bibirku. Sejenak kami saling diam pada pikiran masing masing hingga tanpa ku sadari sebuah mobil Lamborghini Aventador memasuki kawasan panti.

__ADS_1


"Mia, ayo kelihatannya ada tamu" Bunda menepuk punggung ku dan aku mendongak melihat ke arah halaman panti, tampak seorang wanita parubaya keluar dari mobil mewah itu, aku menautkan keningku memastikan kalau pandangan ku tak salah.


"Mamah" Gumam ku yang kurasa juga terdengar di telinga mertua ku itu.


"Apa kamu mengenal nya nak." Tanya bunda pada ku, aku mengangguk dan bunda pun menemui tamu spesial pagi tu.


*****


Wanita parubaya itu di sambut hangat oleh buk Hanum terlihat mereka mengobrol sebentar lalu kemudian buk Hanum mengajak wanita itu ke dalam panti asuhan. Sementara itu Mia masih di taman mengajak anak anak untuk masuk sesuai perintah buk Hanum. Tak lama berselang anak anak berkumpul di aula seperti biasa mereka melanjutkan bermain di dalam ruangan karena di luar sudah mulai panas. Aulia membantu anak anak yang sudah dewasa untuk membuat teh untuk tamu yang datang.


"Nina, biar kakak saja yang antar teh nya." Ucap Mia saat seorang gadis bernama Nina itu hendak mengangkat nampan berisi kue kecil dan teh hangat yang tadi di buat oleh Mia.


"Emang gak papa kak?" Tanya Nina gak enak pada Mia.


"Biar kakak saja, kebetulan kakak mengenal tamu bunda." Nina pun menyerahkan nampan nya pada Mia, dan Dan Mia pun segera mengantar nampan itu ke ruang tamu. Tanpa Mia sadari Nina menggeleng kepala melihat penampilan Mia yang berantakan.


"Mia....?" Sapa wanita yang tak lain adalah mama Ratih, wanita baik hati yang sudah menganggap Mia seperti putrinya sendiri.


"Mia ini menantu saya dek Ratih." Ucap Hanum sambil tersenyum lembut.


"Ya Allah, ternyata dunia ini sempit sekali yah mbak Hanum, Mia ini dulunya adalah." Ratih yang menyadari omongannya seolah ada yang salah segera menutup bibirnya rapat.


"Yah,...???" Buk Hanum sedikit penasaran tentang kalimat Ratih.


"Iya, jadi Mia ini dulunya teman anak saya, tapi karena sesuatu hal anak saya harus pindah kerja ke luar kota, jadi kami jarang bertemu lagi mbak." Ucap Ratih, yah walau itu tidak jujur tapi dia juga tidak berbohong.


Mia tampak tak nyaman saat Ratih membahas masa lalu, itu sangat terlihat di wajahnya yang hanya menunduk dan tersenyum canggung.


"Bagaimana kabar putrimu Mia, apa dia sudah sehat.?" Tanya Ratih mencairkan suasana kembali

__ADS_1


"Alhamdulillah Dila sudah sehat kok mah." Mereka pun ngobrol ringan sambil sesekali bertanya kabar dan juga membahas anak anak panti. Hingga Mia mengetahui bahwa Ratih dan anak anak nya adalah donatur yang selalu mengirimkan sembako ke panti sejak 5 tahun belakang.


kring... kring...


"Assalamualaikum Irwan." Buk Ratih mengangkat ponsel nya dan kemudian bicara serius dengan seseorang di seberang sana.


deg...


Jantung Mia seolah berhenti berdetak saat Ratih menyebutkan nama itu. wajahnya tiba tiba pucat dan jemarinya menggenggam erat ke sandaran sofa.


"Iya nak, yah.. kamu langsung masuk aja, nanti ada anak anak yang akan bantu kamu kok." Kata Ratih pada seseorang di sana . sambil sesekali melirik ke arah Mia.


"I.. iya nak, kamu langsung ke gudang aja yah." Terang Ratih lagi pada seseorang itu.


"Mbak Hanum kelihatan nya putra saya sudah datang, dan mereka sedang mengangkat sembako ke gudang" Ucap Ratih pada Hanum.


"Loh biarkan nanti mang Parjo dan anak anak yang mengangkat dek Ratih, lagian nak Irwan sama nak Fahmi pasti sangat lelah, biarkan mereka beristirahat dan minum teh dulu."


"Tidak usah repot mbak, lagian anak anak kelihatannya sedang buru buru." Ucap Hanum sedikit terbata.


" Saya langsung pamit yah mbak,"


"Mia mamah langsung pamit yah" Mia hanya diam tak merespon.


"Mia..?" Buk Hanum menepuk pundak Mia.


"I.. iya bunda?" Mia gelagapan seperti pencuri yang sedang tertangkap basah.


"Itu loh, dek Ratih mau pamit." Mia menatap Ratih sendu lalu memeluk wanita paru baya itu.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian tidak bertemu, mamah pamit yah." Bisik Ratih di telinga Mia. Ratih mengusap lembut kepala Mia. Wanita itu pun mengangguk , Buk Hanum mengantar Ratih ke parkiran mobilnya, ingin berterima kasih kepada kedua anak Ratih.


__ADS_2