GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Bertemu kembali.


__ADS_3

"Hesti...?"


"Dengan siapa dia bicara, apa dia punya kekasih."


Krek....


Anita membuka kamar yang ternyata tidak terkunci, entah penghuninya lupa atau sengaja.


"Hesti....?" Anita terpaku pada pemandangan yang membuat dirinya hancur seketika. luluh lantak hati wanita cantik itu, ketika menyaksikan kekasih dan sahabat nya berpelukan di atas satu ranjang tanpa pakaian hanya di tutupi selimut di daerah bagian bawah mereka.


"Air mata mengalir di pipi Anita saat mengenang persahabatan nya yang hancur bersama pengkhiatan Hesti.


"Andai waktu itu kau jujur pada ku Hesti, Andai kau katakan kalau kau menyukai nya, aku pasti akan mengalah demi persahabatan kita, kenapa lau harus menikam ku dari belakang." Gumam nya menyesali apa yang pernah terjadi.


****


PANTI ASUHAN PERMATA HATI.


"Bunda sebaiknya Mia pamit yah, kasian anak anak nanti gak ada yang jemput." Pamit Mia pada buk Hanum.


"Mia, anak ku, jika kamu punya masalah kamu bisa berbagi dengan bunda nak, apa Arifin menyakitimu.?" Ucap sang mertua sambil mengusap bahu menantunya itu.


"Tidak bun, semua baik baik saja, " Mia mencium tangan wanita tua dan segera meninggalkan panti asuhan.


Mia baru saja sampai di rumah saat Arifin dan Anak anak juga nya juga memasuki rumah.


"Mamah....," Dila dan Raja segera berlari ke pangkuan sang mamah.


"Anak anak mamah sudah pulang." Mia mencium kening Raja dan Dila bergantian


"Segeralah naik dan berganti pakaian." Raja dan Dila menurut sedangkan Mia menyusul Arifin ke kamar nya. di tatapnya pria yang 10 tahun menjadi suami nya itu, suami yang tak pernah bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Pria itu duduk di sisi ranjang dengan kedua tangan bertopang pada lututnya sedangkan kedua jemarinya saling bertautan di bawah dagu ,seperti memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Mi... Mia.." Arifin tampak kaget saat melihat sang istri menatap nya tajam.


"Sekarang ceritakan padaku." Ucap Mia datar.


"Eh.... heh...?" Arifin tersentak.


"Ceritakan sejak kapan kau berselingkuh mas." Ucap Mia datar sambil duduk di sisi lain ranjang sambil berpunggungan dengan Arifin.


"Mia, tolong maafin mas, mas berjanji akan memperbaiki semuanya, kau dan Hesti sangat berati bagi mas, kalian bisa saling mendukung, anak anak sangat dekat dengan mu Mia,"


"Aku ingin mendengar kisah cinta romantis mu, ceritakan." Arifin tersentak, tak menyangka wanita selembut Mia bisa berkata sedingin itu.


"Aku... aku dan Hesti adalah mantan kekasih waktu di SMA dulu." Arifin diam berusaha menata kalimat agar tak terdengar menyakitkan bagi Mia, walau kenyataan nya sebagus apa pun kalimat yang keluar dari bibir Arifin, cerita perselingkuhannya tetap lah hal yang sangat meyakinkan..


****


Arifin melajukan kendaraan nya dengan hati hati karena hujan deras dan banjir menggenangi jalan raya. Kilat dan petir yang bersahutan pun membuatnya semakin memperlambat laju kendaraan nya seharusnya Arifin sudah sampai di rumah dan tidur nyenyak dalam dekapan sang istri namun ada beberapa pekerjaan yang membuatnya harus menunda kepulangannya sehingga ia harus terjebak dalam hujan badai ini.


"Ah, sebaiknya aku parkir dulu di sini." Batin Arifin.


Arifin tak berniat untuk turun dari mobilnya, karena keadaan yang sedang hujan lebat, namun dalam keremangan malam Arifin melihat seorang wanita berlari sambil membawa sebuah tas di tangannya. wanita itu tampak kelelahan berlari di tengah hujan namun wanita itu tak berniat untuk berhenti sampai wanita itu kini berada tepat di depan mobil Arifin.


"Hesti....?" Arifin reflek membuka pintu mobilnya dan meraih tangan wanita yang sedang berlari itu.


"Lepasin aku,... " Wanita itu menghentakkan tangan Arifin, namun pegangan Arifin sangat kuat hingga wanita itu menoleh .


"Ka.. kau....?" Hesti yang tengah panik seperti di kejar kejar orang berusaha melepaskan diri dari Arifin.


"Hesti masuk lah," Arifin yang merasa Hesti dalam bahaya langsung saja menawarkan bantuannya. Hesti tampak ragu ragu, namun saat melihat beberapa orang pria mendekat Hesti pun langsung memasuki mobil Hesti.


"Jalan..., Ayo jalan...?" Perintah Hesti dalam ketakutan nya ia tak memikirkan hal lain selain segera pergi dari tempat itu. Arifin yang memahami keadaan Hesti langsung menjalan kan mobilnya. Tak ada pembicaraan keduanya selama di dalam mobil hingga Arifin menyadari Keadaan Hesti yang tengah basah kuyup akhirnya Arifin berhenti di sebuah penginapan.

__ADS_1


"Ayo, masuklah?" Arifin membuka pintu kamar penginapan yang kebetulan hanya tersisa satu kamar saja.


"Sebaiknya kau ganti dulu bajumu di kamar mandi," Arifin tak ada pilihan lain selain memberikan kemeja ganti nya yang kebetulan ada di mobil karena pakaian milik Hesti yang dalam tas Basah semua. Setelah beberapa menit Hesti keluar dari kamar mandi, dengan memakai kemeja yang dalan nya hanya sebatas paha atas Hesti, sehingga membuat Arifin tidak nyaman ,Sedangkan Hesti bingung harus bersikap seperti apa pada pria di depannya itu.


"Eumm sebaiknya kau tutup Tubuhmu dengan selimut itu." Ujar Arifin kemudian. Tanpa ba bi bu, Hesti pun langsung melompat ke atas ranjang dan menutup tubuh bagian bawahnya dengan selimut.


"Aku akan keluar sebentar apa kau butuh sesuatu." Arifin menatap sejenak wajah yang tampak kedinginan itu.


"Ti.. tidak usah." Hesti menunduk kan wajahnya saat matanya berpapasan dengan mata Arifin. Arifin pun segera keluar dari kamar menetralkan perasaan canggung pada dirinya.


"Huf... kenapa aku begitu gugup saat bertemu Arifin." Gumam Hesti pada dirinya sendiri.


" Dari sekian banyak manusia di kota ini kenapa Allah mengutus Arifin untuk membantuku, ah... mungkin ini saatnya aku meminta maaf atas kesalahan ku di masa lalu."Hesti menutup tubuh nya dengan selimut guna menghangatkan tubuhnya yang kini menggigil.


Tiga puluh menit berlalu Arifin kembali dengan membawa dua buah paper bag berisi pakaian untuk Hesti dan juga makanan untuk mereka makan malam ini.


"Apa dia ketiduran?" Arifin mendekat ingin membangunkan Hesti namun saat pria itu mendekat ia mendengar wanita itu merintih kedinginan Arifin menempel kan tangannya di dahi Hesti.


"Ah, ternyata dia demam." Arifin segera meminta bertanya pada pihak penginapan tentang klinik terdekat, namun ternyata sudah tutup karena hujan badai yang sangat deras, akhirnya pihak penginapan memberikan obat demam dan Arifin pun segera membangunkan Hesti dan memberikan obat demam itu padanya.


"Terima kasih," Lirih Hesti kemudian ia membaringkan tubuhnya kembali. Arifin hanya mengangguk dan kemudian duduk di sofa yabg tersedia di kamar tersebut.


Arifin segera menghubungi istrinya namun tak dapat tersambung, dan akhirnya ia mengatakan jika lewat sms bahwa ia terjebak hujan dan menginap di penginapan.


Arifin ingin memejamkan matanya saat ia mendengar suara igauan Hesti.


"Mas, maaf.... maafin aku , aku mohon jangan tinggalkan aku" Arifin mendongak dan memeriksa keadaan wanita itu, matanya terpana melihat wajah cantik tanpa polesan itu. Yah kecantikan Hesti yang di atas rata rata sehingga membuatnya menjadi primadona di jaman SMA dulu.


"Cantik" Arifin tanpa sadar bergumam dan memandangi wajah itu hingga wanita itu menggeliat dan menelentang sehingga membuat selimutnya nya melorot dan menampakkan paha mulus dan sesuatu yang ternyata terbuka tanpa kain segitiga penutupnya.


"Astagfirullah halazim" Arifin segera memalingkan wajahnya dan menutup kembali pemandangan indah yang menggoyahkan iman itu dengan selimut.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak memakai penutupnya, apa basah semua." Arifin begumam dan kemudian kembali ke sofa nya.


__ADS_2