GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Amanah Nia


__ADS_3

Masa lalu adalah catatan kehidupan yang tak bisa kita hapus, apa lagi menghilangkannya dari cerita hidup kita, namun begitu pun kita tak bisa kembali ke masa itu walau pun hanya untuk memperbaiki rangkaian cerita itu.


Seorang pria berusia 32 tahun baru saja memasuki rumah mewah dengan tiga lantai itu, Terlihat keramaian di dalam rumah tersebut, yah semua keluarga berkumpul merayakan ulang tahun cucu pertama dalam keluarga tersebut.


"Om....." Teriakan kecil gadis berusia 1o tahun itu sambil berlari ke arah Fahmi .


Fahmi merentangkan tangannya memeluk dan mengusap kepala keponakan tercintanya tersebut.


"Selamat ulang tahun princess om, semoga makin cantik tambah pinter dan jadi putri solehah" Ucap Fahmi sambil mengecup kepala keponakannya yang manja itu.


"Terima kasih om, tapi kado nya mana" Tanya gadis bernama Zahra Almira tersebut, membuat semua menggelengkan kepala.


"Ah, itu dia... " Fahmi memasang wajah murung seolah dia terlupa membawakan kado istimewa untuk keponakannya itu.


"Mami, papi lihatlah, om Fahmi selalu melupakan kado untuk ku." Ucap gadis remaja itu mencebikkan bibirnya ke arah Fahmi sambil berpangku tangan.


"Hahahaha" Tawa Fahmi pecah saat melihat wajah kesal keponakannya tersebut. Fahmi merangkul bahu Zahra membawanya ke halaman depan dan memperlihatkan sebuah sepeda model terbaru sesuai keinginan remaja tomboi itu.


Zahra melebarkan matanya kagum melihat sepeda incarannya. Ia menatap tak percaya pada om kesayangannya itu. Fahmi mengangguk membenarkan bahwa itu adalah hadiah dari nya.


"Terima kasih om" Ucap gadis kecil itu riang.


"Kamu itu jangan terlalu memanjakan nya Mi, " Ucap Irwan sang kakak sekaligus Papi Zahra.


"Itu adalah kebahagiaan nya kak, lagian bersepeda tidak membahayakan." Zahra menatap adik sepupu papi nya itu dan mereka ber tos ria di depan Irwan membuat irwan terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayo, mamah sudah menunggu mu dari tadi" Mereka pun segera masuk menuju ruang tengah.


"Mamah, " Fahmi mencium tangan dan pipi wanita paru baya itu, senyum tulus tak lepas dari wajah sang ibu.


Fahmi kemudian menyapa satu persatu kakak sepupunya yang juga hadir di sana.


"apa kabar mbak Nita."


"Alhamdulillah mbak baik, kamu kok tambah jarang pulang yah mi" Fahmi hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan istri dari kakak sepupunya itu


"Kenapa baru datang, kau tau sang tuan putri itu hampir saja mengamuk karena kamu gak ada kabar." Zahra bergelayut manja di tangan sang Oma.


"Pekerjaan ku sangat banyak mas, maaf..?" ucap nya memelas.


"Hummm, kau ini pekerjaan saja yang kau pikirkan, sebaiknya kau mulai fokus mencari jodoh , usia mu sudah tua, abang saat se usiamu sudah punya Zahra dan Aditya." Irwan mengingat kan adik sepupu nya itu


"Betul ucapan kakak mu Mi, apa kau tidak kasian sama mamah, kau belum juga memberikan mamah menantu dan cucu" Sang ibu tampak sedih.


"Mah, mamah sudah punya menantu yaitu kak Anita, dan dua orang cucu Zahra dan Aditya.

__ADS_1


"Maksud mamah itu baik loh Mi, apa kau aka membujang terus seumur hidup mu. Buka hatimu Fahmi, sudah cukup kau menutup diri." Fahmi berjalan menaiki anak tangga tanpa memperdulikan omongan kakak dan mamah nya yang selalu memaksanya untuk menikah.


"Seperti itu lah adik kalian itu" Ratih tampak murung


"Bagaimana jika kita jodohkan saja dia mah" Ucap Anita oada mertua nya itu


"Maksudmu Sayang" Irwan bicara.


"Kita jodohkan dia tapi kita biarkan dia mengenal calon nya sendiri, jangan di perkenalkan dan untuk itu kita butuh seorang yang kuat mental dan agak sedikit agresif, " Semua tampak berpikir.


"Ha, aku punya ide." Anita tampak tersenyum ceria.


"Dian" Ucap nya kemudian membuat semua orang memutar mata malas.


"Loh.. kenapa?"


"Nita, itu sama saja kau memasukkan air es kedalam kulkas, tambah dingin." Ucap Irwan malas.


"Mas, aku yakin Dian, bisa kita andalkan dia itu wanita yang sangat tangguh."


"Tapi si Dian itu seperti robot Nita, mamah kurang setuju, Mamah ingin wanita lemah lembut dan periang, seperti.."


"Stop mah, aku gak suka kalau mamah masih berharap wanita itu buat jadi mantu mamah, aku gak mau nanti Fahmi di anggap pebinor"Ucap Anita tegas.


"Mamah tau itu Anita, dan mamah gak mungkin mengharapkan istri orang untuk anak mamah" Wanita itu pun


Flashback


"Bagiamana kabar mu Fahmi" Sapa seorang wanita yang tengah hamil sembilan bulan itu dengan tatapan bersahabat.


"Alhamdulillah aku baik kak, tumben kakak meminta ku untuk bertemu?" Ucap Fahmi sopan.


"Kakak ingin bicara serius dengan mu." Wanita itu menatap lekat wajah pria 22 tahun tersebut.


"Apa ada hubungan nya dengan Mia kak" Dada Fahri tiba tiba berdetak dengan kencang rasa khawatir menghampirinya itu tampak dengan wajahnya yang mulai gelisah.


"Katakan kak?" Ucap Fahmi akhirnya.


"Bisa kah kau menjaga Mia dan anak anak ku nanti Fahmi?" Ucap wanita itu tiba tiba.


"Kak Nia....???" Fahmi kaget dan menatap Nia penuh tanya.


"Aku juga nggak tau, kenapa tiba tiba terlintas di kepala ku untuk menemui mu, sudah seminggu ini aku tak bisa tidur, entah kenapa aku merasa takut Fahmi." Wajah Mia tampak murung .


"Bisa kakak jelaskan padaku" Ucap Fahmi akhirnya.

__ADS_1


"Ini tentang Masa lalu suami ku Mas Arifin." Fahmi terdiam memberi waktu pada Nia untuk bercerita.


"Beberapa waktu yang lalu aku menemukan beberapa kejanggalan di kantor mas Arif." Mia pun bercerita panjang lebar tentang pertemuan nya dengan Hesti dan beberapa bukti pembayaran yang ia temui di kamar istirahat Arifin.


"Apa mbak sudah bertanya langsung pada mas Arif." Nia mengangguk, Mas Arif sudah menceritakan semua nya. dan aku percaya sama Mas Arif. Jawab Nia jujur.


"Lalu...?" Fahmi makin tak mengerti arah pembicaraan Masnia.


"Tapi aku tak percaya dengan wanita itu." Jawaban itu membuat Fahmi menatap Nia butuh penjelasan.


"Setelah dari kantor mas Arif, aku menyuruh orang untuk mencari tau tentang Hesti, dan menurut orang orang yang aku percaya Hesti di cerai oleh suaminya karena ketahuan berselingkuh dan ingin mengaborsi calon anak dari selingkuhan nya, Sedangkan menurut ceritanya pada Mas Arif suami nya yang berselingkuh dan ingin membunuh nya." Nia diam sejenak meraup udara yang terasa sesak tiba tiba.


"Entah ini firasat ku atau hanya ketakutan ku saja, aku merasa ada hak buruk yang akan menimpa ku," Nia diam sejenak.


"Jika terjadi sesuatu pada ku nanti, berjanjilah pada ku, kau akan menjaga Mia dan anak anak ku, aku tidak percaya pada siapa pun saat ini, kedua orang tua kami meninggal setahun yang lalu, aku hanya mempunyai Mia dan Aulia serta calon bayi ku ini. bisakah kau membantuku Fahmi"


Belum sempat Fahmi menjawab kalimat nya tiba tiba Nia merasakan sakit di perutnya, wanita itu segera meminta Fahmi untuk mengantar nya ke rumah sakit.


"Bertahan lah mbak, "Fahmi akhirnya menghentikan mobilnya di sebuah rumah sakit swasta Ibu dan anak, setelah di tangani oleh dokter Fahmi menelpon Mia dan Arifin.


"Bagaimana keadaan kak Nia Fahmi?" Tanya Mia yang barusaja sampai di rumah sakit,


"Dokter tengah menanganinya" Wanita itu tampak cemas karena tak dapat mendampingi sang kakak.


"Apa kau sudah menghubungi mas Arif?" Tanya Fahmi kemudian." Mia mengangguk sekitar 30 menit berlalu terdengar suara tangisan bayi dari arah kamar bersalin, bersamaan dengan kedatangan Arifin yang tampak panik dan terburu buru.


"Dek, bagaimana dengan kakak mu?" Tanya Arfin panik.


"Kak Nia masih di dalam mas," Ucap Mia kemudian.


"Keluarga Ibuk Masnia" Ucap dokter yang baru keluar dari ruang persalinan.


"Saya dok, saya suaminya " Arifin segera menemui dokter.


"Selamat yah pak, istri bapak melahirkan sepasang bayi kembar, kondisi bayo bapak sehat, namun istri bapak masih lemah karena banyak kehilangan tenaga saat melahirkan. silahkan jika bapak ingin menemaninya." Arifin pun segera menemui sang istri yang masih di berikan penanganan oleh sang ahli.


"Sayang, kau harus sehat yah, bayi kita sangat membutuh kan mu" Ucap Arifin sambil mengecup pipi sang jstri.


"Mas aku ingin bicara dengan Mia" Arifin segera mengangguk dan memanggil adik iparnya itu.


"Kak... hiks.. hiks.. hisk... kak si kembar sangat cantik dan tampan, kakak harus cepat sembuh " Ucap Mia menangis Haru.


"Mi... Mia..., a.. aku .. aku sudah tidak kuat Mia, berjanjilah pada ku kau akan mengantikan ku, dan menjadi ibu dari anak anak ku" Ucap Nia terbata bata.


"Kak... hiks... hiks.. kak kau pasti sehat." Mia tak kuasa menahan airmata nya.

__ADS_1


Nia menggeleng dan tersenyum sambil menggenggam erat tangan Mia, bersamaan dengan itu dia menghembuskan nafas terakhirnya.


__ADS_2