GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
kesedihan anak anak Arifin


__ADS_3

Aulia mengerjab kan matanya perlahan, menyesuaikan dengan sinar lampu ruangan. matanya menatap langit langit kamar rumah sakit.


"Ah...." Aulia merasakan pusing di kepalanya saat ia hendak bangun.


"Dimana aku" Aulia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.


"Mengapa aku di sini."


"Ma... Mamah....!" Aulia mencoba memanggil sang Ibu.


"Mamah..." Aulia berteriak bertepatan dengan Arifin dan Hesti membuka pintu.


"Sayang..." Hesti mendekat dan memeluk Aulia namum Aulia mendorong wanita itu Hingga terduduk di ubin kamar.


"Jangan berani menyentuhku"


"Mamah... mamah di mana mah..." Aulia kembali berteriak histeris , ia mencoba mencabut selang infus di tangan nya membuat Arifin panik.


"Sayang, jangan lakukan itu nak, kau bisa terluka" Arifin nahan tangan sang putri hendak memeluk anak sulung nya itu.


"Pergi...., pergi...., jangan pernah menyentuhku." Aulia kembali histeris, Arifin memencet tombol hijau di ruangan itu hingga dokter dan seorang perawat segera datang.


"Dok, tolong putri saya histeris." Ucap pria itu panik.


"Sabar ya pak, dokter pun akhirnya menyuntikkan sesuatu ke tubuh Aulia sehingga hadis itu mulai tenang dan perlahan memejamkan matanya.


"Mamah..." isak Aulia sebelum akhirnya tertidur pulas.


"Maaf pak, apa Aulia ini putri kandung kalian." tanya dokter yang membuat Arifin menautkan alisnya.


"Saya minta maaf, tapi dari tadi Aulia hanya berteriak ingin bertemu mamah nya, kalau menurut saya sebaiknya anda mempertemukan mereka jika tak ingin putri anda depresi. Jadi sebelum kondisi nya lebih memprihatinkan sebaiknya anda mengabulkan keinginan nya." Nasihat sang dokter sebelum meninggalkan Ruangan perawatan Aulia.

__ADS_1


"Terima kasih dok." Arifin menatap Sang putri yang terbaring lemah tanpa terasa bulir bening mengalir di wajah tampan pria itu.


"Sayang, maafkan papa" Arifin mengusap kepala sang putri dan kemudian menatap istrinya yang kini tengah berdiri di samping Arifin.


"Sebaiknya mas menghubungi Mia" Ucap Hesti sambil tersenyum.


"Terima kasih sayang, aku yakin suatu saat nanti Aulia akan menyadari betapa kamu menyayanginya, sama seperti Mia." Lelaki itu mencium tangan sang istri lalu memeluk nya.


"Aku pasti akan sangat menyayanginya mas, bahkan dari awal aku sudah sangat mencintai mereka, kau tau kan, hingga saat ini kita tak di berikan kesempatan untuk mempunyai anak, allah ingin alu menjadi ibu sambung mereka, saling mengisi kekosongan di antara kami." Ucap Hesti sambil tersenyum.


"Mas akan menghubungi Mia," Pria itu melepas pelukan nya, lalu mencoba menghubungi no Mia, namun berkali kali panggilan terhubung Mia tak menjawab panggilan tersebut.


***


Mia barusaja selesai mengepak barang barang pribadinya dan menyusun pakaian ke dalam koper di bantu oleh Asih.


"Sih, saya mohon jaga anak anak yah, bagaimana pun saya sebenarnya tak sanggup meninggalkan mereka dengan wanita ular itu, tapi ini adalah keputusan terbaik yang bisa saya ambil, saya juga ingin hidup normal Sih." Ucap wanita itu saat mereka selesai memasukkan barang ke dalam Mobil.


"Saya pamit ya Sih, nanti saya akan menghubungi kamu, Tolong apa pun yang terjadi jangan meninggalkan anak anak." Mia memeluk Asih dan akhirnya wanita itu meninggalkan kediaman Arifin Darmawan. Begitu sedih hatinya Meninggalkan rumah yang memiliki banyak kenangan manis antar dirinya dan anak anak sambung nya, namun ia harus kuat.


"Maafkan mamah nak, mamah tau ini akan membuat kalian membenci mamah, tapi mamah tak sanggup jika harus lagi." Ucap nya sambil mengusap bulir airmata yang terus mengalir tanpa henti.


Mobil yang di kendarai Mia kini berhenti di sebuah rumah tua di sebuah desa, rumah yang tampak tak terawat itu sudah banyak rerumputan mengelilingi rumah tersebut.


"Huf..., akhirnya aku bisa kembali lagi ke rumah ini." Mia membuka kunci rumah itu perlahan, tercium aroma debu yang sangat menyengat.


"Ah.., aku sudah membiarkan rumah ini tanpa penghuni sejak Ayah dan ibu pergi." Mia membuka jendela dan semua pintu Rumah mulai membersihkan bagian dalam rumah tersebut hingga tak terasa hari mulai gelap.


"Huf... sudah beres, Sebaiknya aku istirahat dulu besok baru aku lanjutkan lagi beberesnya." Mia akhirnya mandi dan membuat makan malam seadanya, beruntung ia selalu membayar tagihan listrik dan gas alam dan ledeng tiap bulan, jadi semua masih bisa di pakai.


Semangkok mi instan telah tersaji di meja makan tanpa sayuran hanya dengan telur karena hanya itu yang ia temukan di warung yang berada di pinggir jalan seberang rumah orang tuanya. Mia makan dengan lahap karena terlalu lapar, namun baru beberapa sendok tangannya terhenti teringat pada ketiga buah hati yang ia tinggalkan.

__ADS_1


"Aulia, Raja , Dila, mamah harap kalian baik baik saja." Gumam wanita itu.


***


"Mamah...." Dila terbangun dari tidurnya nyenyak nya dengan nafas naik turun seperti orang habis berlari kencang.


"Sayang, cucu nenek ada apa?" Bunda Hanum memeluk cucu bungsunya itu dan memberikan segelas air putih.


"Dila kangen mamah nek, tadi Dila kejar mamah, tapi mamah gak mau berhenti, mamah gak sayang Dila, mamah jahat, mamah tinggalin Dila." Tangis gadis 10 tahun itu akhirnya pecah.


"cup.... cup.. cup..., sayang, mamah sangat menyayangi kalian, tapi mamah ada keperluan yang harus di selesaikan terlebih dahulu, nanti jika pekerjaan mamah selesai mamah pasti akan kembali." Bujuk Bunda Hanum tak tega.


"Kenapa nenek berbohong, itu tak akan terjadi, tak usah berbohong Dila harus tau kalau mamah sudah meninggalkan kami dan mamah tak akan kembali." Ucapan Raja dengan sorot mata tajam dan dingin. Pria itu pun kini duduk di sisi saudara kembarnya itu.


"Kau harus belajar mandiri tanpa mamah, gak usah cengeng, kau lihat banyak anak anak di sini yang hidup tanpa orang tua mereka, tapi mereka baik baik saja, jangan biarkan airmata mu jatuh terbuang sia sia. Mama tak akan kembali karena dia bukan mamah kandung kita, mamah kandung kita sudah meninggal. Dan kau tau tak ada ibu yang menyayangi seorang anak melebihi ibu kandung mereka."


"Raja, ..?" Buk Hanum menggeleng.


"Sayang, mamah kalian sangat sayang pada kalian nak, jangan salah faham." Buk Hanum berusaha memberikan pengertian pada Raja dan Dila.


"Tak perluenghibur ku nek." Raja keluar dari kamar dan memilih duduk di sebuah bangku di taman bermain.


"Hiks... hiks.. hiks..., aku benci mamah kenapa dia meninggalkan kami"


"Aku juga benci sama papa, dia membuat mamah pergi, " Raja menumpahkan tangisnya dalam gelap.


Sementara Arifin begitu prustasi karena gagal menemukan Mia di setiap tempat yang ia cari.


"Huf... kemana lagi aku haru mencari Mia, jika aku tau semua ini akan terjadi aku lebih baik kehilangan cinta ku, dari pada melihat putriku menderita, Mia aku mohon kembali aku berjanji akan menceraikan Hesti dan memperbaiki rumah tangga kita." Gumam pria itu sambil meletakkan kepalnya di stir mobil.


*****

__ADS_1


bersambung ya...🥰


__ADS_2