
Setelah mengobrol cukup lama membahas berbagai macam hal berhubungan dengan dengan kerja sama mereka akhirnya Darmawan dan Santi memutuskan untuk pulang.
'Baiklah pak Samsul saya cukup puas dengan hasil panen kita, dan seperti biasa nanti asisten saya yang akan mengurus yang lainnya," Ucap Darmawan kemudian.
"Jadi kami pamit dulu pak Samsul" Ucap pria itu sambil menjabat tangan rekan bisnis nya tersebut.
"Baiklah pak Darmawan, buk Santi semoga kerja sama kita ini selalu berjalan dengan baik." pak Samsul pun menyambut tangan Samsul. Akhirnya kedua suami istri itu meninggalkan lahan pertanian itu.
Dilain tempat.
"Aku harap program bayi tabung ini akan berhasil, aku sudah bosan melihat wajah kedua orang tua ku bersedih, jika ini gagal maka aku akan menikah lagi, jika kau keberatan kita bisa bercerai." Ucap Doni ketus.
Irene hanya diam tak menjawab, wanita itu hanya bisa menerima nasib nya yang di cap mandul oleh suami dan mertuanya. Irene adalah wanita penyabar dan periang, awal mula ia menikah dengan Doni adalah permintaan ayah nya yang ternyata bersahabat dengan buk Santi,Awal nya Irene sangat bahagia dengan pernikahannya, ia mempunyai mertua yang sangat menyayanginya, dan suami yang sangat baik dan tergila gila pada kecantikan Irene, Yah, Doni memang tak pernah mencintai Irene, namun ia juga tidak bisa menolak pesona gadis seksi itu. Hingga dua tahun pernikahan Irene tak juga mengandung, buk Santi mulai gusar, ia takut jika Darmawan akan memberikan semua harta warisan pada anak kandung nya yaitu Arifin,
"Jika Iren tak juga mengandung maka kau harus menikah lagi Don, mamah tak mau jika nanti semua harta warisan papa mu jatuh ke tangan Arifin." Ucap Santi waktu itu saat ia ngobrol dengan Doni di ruang kerja anak nya tersebut.
"Aku tidak masalah mah, toh aku juga tidak mencintai wanita itu, bagiku asal calon istri ku nanti cantik dan seksi aku tidak akan menolak, hanya saja apa mamah tidak takut pada Tiger, ia bisa membuat perusahaan papa hancur dalam hitungan detik, jika kita menyakiti putrinya itu" Ucap Doni membuat Santi menjadi bimbang, bagiamana pun tujuan utama hidup Santi adalah harta, ia tidak ingin hidup menderita lagi seperti ketika bersama mantan suaminya dulu.
"Kau benar nak, kita harus berhati hati, ahh andai saja si Hesti sialan itu tidak berselingkuh dari mu, tentu saja saat ini mamah sudah memiliki cucu." Kesal wanita Itu.
kembali ke Irene dan Doni.
"Mas bisakah kita mampir ke rumah papa? Aku sangat merindukan papa mas" Pinta Irene saat mereka dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
"Jika kau ingin mampir aku tidak masalah, tapi aku tidak bisa menemanimu, karena banyak pekerjaan yang menantiku."
"Tidak masalah mas,kau bisa lanjut bekerja setelah mengantar kan ku." Ucap Irene senang.
"Baiklah kalau begitu." Doni melajukan mobilnya ke rumah mertuanya, pria itu berhenti di parkiran tanpa berniat untuk turun dari mobil.
"Aku lanjut ke kantor, nanti akan ku jemput." Ucap Doni dan di balas anggukan oleh Irene. Doni pun melajukan mobilnya ke arah kantor, Namun di perjalanan Doni menerima telpon dari seseorang ia pun membelok kan Mobilnya ke suatu tempat.
"Informasi apa yang kau dapat." Tanya Doni pada seseorang yang kini duduk di depan nya.
Pria yang memakai pakaian serba hitam itu memberikan sebuah amplop coklat pada Doni,Doni membuka amplop tersebut dan memeriksa isinya, beberapa foto seorang wanita cantik yang selama ini di carinya tampak tersenyum bahagia dengan seorang pria yang tak lain adalah saudara tirinya.
"Heh..., jadi selama ini dia bersembunyi di balik ketek si culun itu,dasar culun bego," Doni menyimpan foto foto tersebut di balik jas nya.
Sementara di sebuah Rumah sakit Aulia mulai sadar setelah Dua hari mengalami syok dan menjerit histeris. Kini adis Remaja itu tampak mulai tenang dan tak memanggil mamanya lagi, namum tatapan nya kosong seolah tak bergairah untuk melanjutkan hidupnya.
"Bagaimana ini mas, aku gak kuat melihat Aulia seperti ini, aku sudah menghubungi teman teman ku untuk menyebarkan foto mia, dan juga di media sosial ku, tapi belum ada yang bertemu dengan Mia" hiks.. hiks.. hiks.., tangis pilu terdengar di ruang inap rumah sakit itu.
"Aku juga tidak tau Hesti, aku menyesal telah membiarkan Mia pergi karena ke egoisan ku.jika aku tau akan seperti ini, tentu aku lebih memilih untuk merahasiakan hubungan kita selamanya." Ucap Arifin tanpa memperdulikan perasaan Hesti.
"Maaf sayang, bukan maksudku untuk..." Kalimat Arifin di potong oleh Hesti.
"Tidak sayang, aku sangat mengerti aku juga akan melalukan hal yang sama andai aku tau hal ini akan merusak mental anak anak kita." hiks.. hiks.. hiks.. Hesti menumpahkan tangis nya di dada Arifin.
__ADS_1
"Pria sialan, kau pikir aku akan membiarkan semua itu, tidak akan pernah, aku akan menghabisi wanita itu, sebelum orang suruhan mu menemukan Dia " Geram Hesti di hatinya.
"Sebaiknya aku melupakan Mia, aku tak ingin menyakiti Hesti lagi, dia sangat tulus mencintaiku dan anak anak, aku harus membiasakan anak anak dengan nya, sudah cukup selama ini aku menyembunyikan nya, anak anak harus bisa menerima kenyataan ini." Batin Arifin.
"Sekarang sebaiknya kau pulang, tolong jemput Raja dan Dila mungkin mereka akan sedikit Rewel tapi aku tidak bisa merepotkan bunda terlalu lama." Ucap Arifin kemudian menggenggam jemari istrinya.
"Tetap lah bersama ku sayang, kau adalah kekuatan ku saat ini, kita sudah sejauh ini, dan aku rasa kita harus terbiasa dengan rengekan mereka sampai mereka terbiasa tanpa Mia, aku yakin kau kuat, dan aku percaya pada mu,apa kau bisa?" Pinta Arifin pada Hesti.
"Tentu sayang, cobaan apa pun akan aku lalui dengan sabar selama itu bersama mu, aku yakin anak anak akan bisa menerima ku, dan hubungan kita, aku akan berusaha, kau fokuslah pada kesehatan Aulia, dan aku akan menjaga Raja dan Dila." Ucap Hesti sambil tersenyum Haru.
"Yes, akhirnya mas Arifin tidak akan mencari Mia lagi, dengan begitu posisiku sebagai Nyonya Arifin Darmawan akan aman." Senyum licik terbit di wajah cantik Hesti.
"Pah,.." terdengar suara lembut Aulia mengagetkan mereka yang sedang berpelukan.
"Yah sayang papa di sini" Ucap Arifin segera mendekat pada putri nya itu.
"Aku ingin pulang, aku ingin bertemu mamah" Ucap gadis itu lemah.
"I...iya sayang, kita akan pulang. Tapi nanti yah setelah kondisi mu membaik." Ucap Arifin mengusap kepala putrinya itu.
"Aku tidak apa apa pah, aku kuat, dan aku tidak sakit." Ucap gadis itu menatap penuh permohonan.
"kau yakin..?" Aulia menatap yakin pada Arifin.
__ADS_1
"baiklah Papa akan menemui Dokter." Aulia akhirnya lega, ia tak sabar ingin mencari keberadaan sang mamah