
Arifin melangkahkan kakinya memasuki rumah dua lantai yang tergolong mewah itu. Ia langsung menuju kamarnya yang berada di lantai atas tepat berdampingan dengan kamar Doni kakak nya. Saat hendak hendak memasuki kamar secara tak sengaja Arifin mendengar suara suara aneh dari kamar sang kakak, awalnya Arifin tak peduli namun suara suara itu makin jelas dan kuat.
"Ah.... ah...., ohhh sayang... lanjutkan ..?" Suara ******* manja seorang wanita jelas terdengar di telinga Arifin.
"Dasar bajingan" Arifin mengepalkan tangannya.
dor...
dor...
dor..
Arifin menggedor pintu kamar Doni dengan sangat kuat.
"Dhoni buka pintunya bangsat...!" Teriak Arifin yang membuat telinga Doni meradang
ceklek...
"Ada apa hah..?" Suara Doni kesal.
"Siapa yang kau sembunyikan di dalam."
"Hei... apa peduli mu, siapa pun yang aku ajak ke kamarku itu urusan ku, tak ada hubungannya dengan mu, ini kamarku." ketus Doni merasa tak senang aktifitas nya terganggu.
"Dasar bajingan kau Doni, setelah kau jebak Hesti dengan rayuan palsu mu sekarang kau membawa wanita murahan ke kamar mu, kau menjijikkan, aku akan memberitahu kan Hesti kelakuan bejat mu ini." Geram Arifin.
Pria itu hanya terkekeh kecil meremehkan ancaman Arifin. Tiba tiba ia membuka lebar pintu kamarnya seolah ingin memamerkan segala isi kamarnya pada Arifin.
Mata Arifin melebar saat melihat seorang hadis yang sangat di kenal nya sedang bermain handphone di balik selimut terlihat jelas wanita itu tidak memakai pakaian atasnya.
"He.. Hesti...?!!!" Arifin menatap tajam pada wanita yang sangat di cintainya itu.
"Arif..." Hesti pun menunduk malu karena tertangkap basah oleh Arifin.
"Dasar wanita murahan!" Arifin pun meninggalkan kedua pasangan mesum itu. Dengan perasaan hancur Arifin menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi hingga ia tiba di sebuah rumah sederhana tempat ia biasa berkeluh kesah Yaitu rumah Panti Asuhan Permata hati.
Saat Arifin memasuki pekarangan tampak suasana berbeda di panti , ia yang sedang dalam suasana hati tidak baik memilih untuk duduk di sebuah bale bale yang terletak di bawah pohon mangga di samping panti.
"Hai, kenapa tidak masuk?" Suara seorang gadis menyapa nya dengan ramah , Arifin mengalihkan pandangan nya pada wajah cantik yang kini duduk di samping nya, dan bertepatan dengan itu wanita cantik itu juga menoleh ke arah Arifin.
"Kamu...?"
"Arifin ?"
Ucap keduanya serempak.
__ADS_1
"Ternyata dunia ini sempit yah, dimana mana aku selalu bertemu dengan kamu?" Ucap Nia kemudian.
"Aku Nia, " Nia mengulurkan tangannya.
"Arif, Arifin Darmawan" Ucap Arif menjabat tangan Nia, Nia kemudian hendak melepaskan tangannya Namun Arifin menarik tangan Nia membuat Nia mengerutkan keningnya heran.
"Nama lengkap mu?" Katanya kemudian.
Nia tersenyum. "Masnia putri pratiwi." keduanya kini saling tersenyum dan melepaskan jabatan tangan mereka.
"Kau sedang apa di sini?" Tanya Nia pada Arifin.
"Ingin bertemu ibu ku?" Nia kembali mengerutkan keningnya.
"Bunda Hanum adalah ibuku." Jawab Arifin seolah mengerti maksud Nia.
"O,.. "
"Kau sendiri?" Arif balik bertanya.
"Kebetulan hari ini adalah ulang tahun ku, jadi kami mengadakan syukuran kecil kecilan di sini."
"o.." Mereka pun berbincang bincang hingga orang tua Nia memanggil nya dan mengajak nya pulang.
****
"Sayang.. maafin aku, aku gak berniat untuk menyakiti Mia , Kau pasti sangat membenciku kan.,? maafkan aku sayang, tapi saat ini Hatiku kembali berlabuh pada Cinta pertama ku, Hesti."
Arifin menutup kembali album lama yang berisikan foto fotonya dan Masnia, kemudian ia membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di ruangan kantornya.
Yah, saat ini Arifin berada di kantornya setelah ia meninggalkan Mia dalam keadaan emosi. Ia berusaha memejamkan matanya yang sudah sangat lelah, namun bayang bayang wajah Mia yang sedang tersenyum lembut menghantui pikirannya.
"Ahhhkkkkkk...!
Prank....
Arifin mukul meja kaca yang yang ada di hadapannya hingga pecahan kaca itu bertaburan. Kemudian ia bangun dan mengambil telepon genggamnya yang sedari tadi tak berhenti berdering.
"Ya, katakan !" Jawab Arifin dingin saat membaca nama yang ada di layar ponselnya.
"Mas, kamu dimana aku minta maaf jika aku membuat kesalahan, tapi sebaiknya kau pulang sekarang Dila sangat merindukan mu mas, badannya panas" Suara lembut istrinya di sertai isak tangis terdengar di seberang sana.
"Jangan pernah menjadikan anak mu untuk mendapatkan perhatian dari ku, Ingat Mia, pernikahan kita hanya pernikahan di atas kertas, walau bagai mana pun aku tidak akan pernah bisa mencintai mu.!" Arifin langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak, hatinya saat ini benar benar kacau, di satu sisi ia ingin pulang dan menemani putri bungsunya itu, di sisi lain ia merasa Mia berbohong hanya untuk memaksanya pulang.
"Tega sekali kamu mas...?" Hiks.. hiks.... hiks.. Airmata yang sudah dia tahan sejak tadi akhirnya turun juga di pipi Mia.
__ADS_1
"Mah, apa papa gak mau pulang?" Aulia menatap Mia penuh tanya.
"Sayang, sebaik nya kita bawa adik mu ke rumah sakit yah, panasnya sangat tinggi." Ucap Mia setelah ia bisa mengendalikan Dirinya.
"Aku akan menelpon papa" Aulia hendak menghubungi Arifin namun segera di cegah oleh Mia.
"Sayang, stop kamu segera pesan taksi mama akan menyiapkan Dila.
"Mbak Asih tolong jaga raja yah, saya akan membawa Dila ke rumah sakit" Asih mengangguk dan segera membantu Mia untuk menggendong Dila ke bawah.
"Mah, taksinya sudah datang" Mia dan Dila pun segera masuki taksi online yang sudah menunggu mereka di halaman rumah.
"Mah kakak ikut yah, " Aulia hendak masuk namun segera di cegah oleh Mia.
"Sebaiknya kakak jaga rumah dan adik Raja." Aulia yang ingin protes tidak jadi melihat wajah memohon ibunya itu.
"Jalan pak" Taksi online pun menuju rumah sakit pelita. Sesampai di rumah sakit Dilla segera mendapat penanganan oleh dokter spesialis anak.
****
Pagi hari nya Arifin memutuskan untuk pulang ke rumah setelah ia menyuruh petugas kebersihan untuk membersihkan ruangan nya.
"Mudah mudahan Mia sudah berangkat ke toko nya, aku sangat malas jika harus berdebat dengan wanita itu... hah... entah apa yang terjadi padanya hingga ia kini berani membantah ku," Arif memijit pelipisnya untuk sedikit mengurangi sakit di kepalnya.
Sesampainya di rumah Arifin segera memasuki kamar dan mandi. Kemudian ia menuju ruang makan memeriksa meja makan perutnya terasa sangat lapar karena semalaman ia tidak makan.
"Asih..." Panggil Arif pada pelayan rumahnya.
"I.. iya pak" Asih yang sedang mencuci pun segera berlari ke arah suara majikanya itu.
"Buatkan saya nasi goreng ya, saya sangat lapar."
"Baik pak, " Asih pun segera membuatkan nasi goreng sesuai keinginan majikannya itu tak lupa ia siapkan kerupuk dan acar sebagai pelengkap.
"Hummm, nasi goreng buatan kamu sangat enak asih, " Yah begitulah Arifin ia bisa sangat ramah dengan siapa saja namun tidak dengan istrinya.
****
segini dulu aja yah reader buat bab ini,
semoga sahabat reader ku semua tak bosan membaca , dan merasa terhibur,upss... tapi jangan sampe emosi yah, karena cerita ini baru awalan saja...
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar biar author nya lebih bersemangat lagi,
mari saling mendukung 😊😊😊🙏🙏🙏
__ADS_1