
dreett.... dreett...
Suara panggilan dari ponsel Arifin membuat pria itu mengehentikan tangannya yang sedang menyendok makanan ke mulutnya. Matanya menatap Mia dan Aulia serta Raja dan Dila yang sedang menikmati makan malam mereka dengan penuh bahagia.
Arifin segera mematikan ponsel nya dan menyimpan nya kembali di dalam kantong nya. Tentu saja hal itu tak luput dari perhatian Mia yang meliriknya diam diam.
"Apakah wanita itu yang menelponnya?" Batin Mia.
"Bagiamana makanan nya" Tanya Arifin pada anak anaknya.
"Enak pah, kapan kapan makan di sini lagi yah pa" Ucap raja yang memang hobi nya makan.
"Tentu saja?" Arifin mengalihkan pandangannya pada Mia yang terlihat cuek sambil sesekali membantu Dila menyuapi makanannya.
"Ya Allah, kenapa aku tak bisa mencintai wanita sebaik dan secantik Mia," Batin Arifin.
Setelah selesai makan, mereka pun pulang, di dalam mobil anak anak bercanda ria dengan penuh bahagia hal yang sudah lama tak terjadi di keluarga ini. Di dalam hati Mia sangat bersyukur karena suaminya mau meluangkan waktu untuk keluarga mereka. Tiba di rumah semua masuk ke kamar masing masing, tak lupa Mia berpesan pada anak anak nya agar solat isa dulu sebelum tidur.
"Terima kasih mas," Ucap Mia saat di ruang tengah tinggal mereka berdua.
"Hah....?" Arifin mendengakkan kepalanya merasa kaget dengan ucapan istri nya itu.
"Untuk apa?" Kata nya kemudian.
"Karena mas sudah meluangkan waktu untuk anak anak, aku lihat mereka sangat bahagia."Ucap Mia sambil berjalan ke dapur mengambil segelas air putih dan menyerahkan nya pada suaminya itu.
"Bagaimana dengan mu? apa kau bahagia?" Pertanyaan Arifin membuat Mia merapatkan mulutnya seketika. namun detik berikutnya wanita itu tersenyum dan mengangguk .
"Setiap senyum mereka membuat aku bahagia." Jawab wanita itu kemudian dan meninggalkan suaminya yang masih duduk terdiam di sofa.
Mia sudah siap dengan pakaian tidurnya saat Arifin memasuki kamar mereka. Pria itu duduk di pinggir ranjang sambil sesekali mengusap pelipisnya.
"Ada apa mas?" Tanya Mia ragu ragu, sejujurnya Mia begitu canggung jika sekamar dengan suaminya itu.
"Mia, ada yang ingin aku bicarakan" Ucap Arifin kemudian.
deg....
"Ya Allah, Apa yang hendak di bicarakan mas Arif, kenapa aku begitu takut dan khawatir." Batin Mia.
__ADS_1
"Ada apa mas" Mia berusaha setenang mungkin.
"Mia, a.. aku ...hummm aku " Arifin dengan ragu ragu ingin bicara.
"Katakan mas, " Mia sudah mulai bisa menebak apa yang akan di bicarakan Arifin.
"Ini.. ini tentang kita Mia," Arifin menarik nafas dalam sebelum ia memulai bicara. Sedangkan Mia sedang menyiapkan hatinya menerima kenyataan pahit yang akan di bicarakan suaminya itu.
"Bukannya aku tidak berusaha untuk membuka hatiku untuk mu Mia, tapi " Arifin terdiam saat Mia memotong kalimatnya.
"Tapi apa mas, hingga detik ini bahkan aku tak pernah melihat usahamu sedikitpun." Sinis Mia seolah faham dengan apa yang akan di sampaikan oleh Arifin.
"Kau salah Mia, bahkan kadang aku berusaha untuk tidur di samping mu, aku berusaha untuk memberikan nafkah batin pada mu, tapi aku tetap tak bisa menjadikan mu istriku seutuhnya." Ucap Arifin lemah.
"Apakah karena kehadiran wanita itu mas" Arifin kaget dan menatap Mia penuh tanda tanya.
"Apa kah, karena wanita itu lebih baik dari ku, apakah karena wanita itu lebih seksi, apakah karena wanita itu lebih cantik." Airmata yang ditahan sejak tadi akhirnya tumpah begitu saja.
"Mia,..." Arifin tak pernah menduga jika selama ini ternyata Mia sudah mengetahui tentang perselingkuhannya.
"Sejak kapan mas, apa kah wanita itu sudah ada sejak dulu, sehingga kau tidak bisa memberikan kesempatan pada ku untuk menjadi istri yang berguna bagimu, Atau jangan jangan kau sudah berselingkuh dengan nya ketika kakak ku masih hidup."
"Mia....?" Arifin membentak Mia tak menyangka tuduhan itu keluar dari bibir wanita selembut Mia. Namum Mia hanya menatap Arifin dengan tatapan sinis.
"Tapi aku bukan adik mu mas, aku istrimu." Mia berkata lantang sambil menatap tajam pada Arifin.
Keduanya terdiam tanpa kata, Mia begitu terpukul menyadari suaminya kini telah mencintai wanita lain selain dirinya,Entah sejak kapan bahkan ia sendiri tak pernah menyadari itu hingga sebuah kiriman dari nomor tak di kenal itu membuka matanya.
"Seharusnya kau tak menikahiku mas, "lirih wanita itu kemudian.
"Maafkan aku Mia, aku pikir dengan pernikahan ini aku bisa membuka hatiku dan mencintaimu, kita bisa membina rumah tangga layaknya pasangan lainnya." Lirih arifin.
"Kau pikir......!!!!!???? " Mia menggelengkan kepalanya mendengar kalimat Arifin.
"Jadi kau menjadikan pernikahan ini sebagai permainan uji coba mu mas, Apa kau pernah memikirkan aku, aku sudah memberikan hidupku untuk mu dan anak anak, aku bahkan lupa bagaimana rasanya bahagia saat di cintai, sementara kau menjadikan alasan sampah mu itu untuk mencari cinta lain di luar rumah."
"Kau pernah berfikir itu mas...!!!!"
"Apa kau pernah berfikir, bagiamana perasaan ku yang menjadi istrimu tanpa tersentuh selama 10 tahun mas.?"
__ADS_1
"Apa kau pernah berpikir bagaimana rasanya tiap hari melihat wajah dingin mu, tanpa pernah kau tersenyum, tanpa pernah melirikku, bahkan aku seperti patung di depan mu mas."
"Tapi aku rela mas, aku ihklas karena aku pikir mungkin cinta mu sudah menjadi milik kakak ku, aku hanya berharap bisa menua dengan lelaki setia seperti mu, tanpa berharap balasan cinta dari mu."
Lagi lagi Arifin kaget dengan kalimat Mia.
"Apakah selama ini Mia mencintaiku.?" Batinnya.
"Mia maafkan aku, tapi aku sudah terlanjur mencintainya." Kalimat itu begitu mudahnya keluar dari bibir Arifin tanpa memikirkan perasaan Mia yang hancur mendengar suami nya mencintai wanita lain.
"Kau jahat mas, kau lelaki terkejam yang pernah aku kenal"
"Mia, aku tau aku salah, aku mohon maafkan aku" lirihnya sambil menunduk tak berdaya.
"Sejak kapan mas,?" Kalimat tenang dan datar yang membuat Arifin mengangkat kepalanya.
"Sejak..." Arifin tak mampu untuk jujur pada Mia.
"Berati benar dugaan ku, ini terjadi sejak kak Nia masih ada, pantas....., " Mia terduduk lemas di sudut ranjang
"Pantas kak Nia menitipkan anak anak padaku, jadi dia sudah mengetahui semuanya sebelum ajal menjemput nya." Mia tak kuasa menahan bulir airmata yang kini membanjiri pipinya.
"Ternyata ekspetasi ku terhadap mu terlalu tinggi mas, ternyata kau pria menjijikkan, kenapa .. kenapa kau menyetujui perjodohan itu padahal kau mencintai wanita lain!?" Teriak Mia histeris.
"Tidak seperti itu Mia, tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Arifin memohon namun Mia membisu untuk beberapa saat dan akhirnya .
"Talak aku mas."
tegas Ucapan Mia.
*****
hai.... hai.... hai.....
belepotan yah, tapi yah begitulah, aku buka seorang penulis hanya saja, kadang aku suka menulis walau tak sempurna, karena aku kekurangan kosakata baik
aku harapkan dukungan dari sahabat semuanya.
like
__ADS_1
komentar yan... biar aku tambah semangat lagi .
semoga ada ide ide lain yang bisa aku curahkan di cerita ini.