
Sementara itu Arifin mulai mencari petunjuk tentang keberadaan anak sulung nya itu, berkali Arifin mencoba menghubungi Aulia namum tak satupun panggilan itu di respon.
"Ah, anak ini benar benar sudah kelewatan" Kesal Arif di dalam mobil nya. Ia pun berusaha menghubungi no ponsel Rahel yang di dapat oleh dari wali kelas putrinya tersebut, namum kembali tak ada respon dari anak itu.
****
"Maafkan aku Rahel, aku memang menyukai Kevin, tapi dak terlintas si benak ku untuk merebut kevin dari mu." Ucap remaja 14 tahun tersebut.
"Sudah lah, tak usah di pikirkan, kita keluar yok" Ajak rahel sambil memakai jaket nya.
"Kemana ?" tanya Aulia penasaran.
"Kerumah teman ku, ada perta di sana " Rahel menarik tangan Aulia yang belum sempat berganti pakaian.
"Hel, sebentar aku ganti baju dulu" Ucap gadis itu melepas tangan Rahel.
"Ya sudah aku tunggu di bawah." Aulia merapikan sedikit dandanan nya seperti remaja pada umum mya, celana panjang dan kaos oblong jadi pilihan Aulia tak lupa tas selempang bermotif bunga milik nya, di periksa ponsel ada 50 panggilan tak terjawab dari sang ayah, namun tak di hiraukan nya, ia pun segera turun menemui Rahel di lantai bawah .
"Wah.. Lo cantik banget ...." Goda Rahel pada sahabat nya itu.
"Berangkat yok, "
Mereka pun pergi menggunakan mobil milik Rahel, iya di usia nya yang baru menginjak 15 tahun bahkan belum genap, Rahel sudah mandiri semua hal yang ingin di lakukan nya ia lalukan tanpa ada sosok orang tua yang mengatur langkah nya, status sang ayah yang seorang miliader menyediakan semua hal yang di inginkan Rahel, termasuk mengizinkan Rahel mengemudi sendiri tanpa sopir.
Aulia dan Rahel sampai di sebuah rumah mewah yang tampak ramai, beberapa remaja seusia mereka terlihat tampak tengah bergoyang mengikuti irama musik yang terdengar sangat kuat.
"Hel ini dimana?" Tanya Aulia penasaran.
"Ini rumah teman ku, dia sedang merayakan ulang tahun nya yang ke 15 tahun, rencananya acara ini akan di adakan di sebuah klub, tapi karena kita di bawah umur pihak klub tidak mengizinkan nya, jadi di berinisiatif mendekor rumah mya seperti sebuah klub." Ucap Rahel menjelaskan.
"Tapi apa orang tua nya tidak marah" Tanya Aulia yang masih penasaran.
"Kedua orang tuanya di luar negri, ayok kita masuk." Rahel menarik tangan Aulia yang masih berdiri di ambang pintu. Aulia terlihat ragu menyaksikan pemandangan di depan nya, remaja seusianya tampak berpakaian kurang bahan persis seperti yang sering di lihat nya di televisi.
"Hel, tapi kok ada pria dewasa juga, " Protes Aulia lagi saat menyaksikan beberapa pria dewasa yang tampak duduk di sudut ruangan, sedangkan di samping mereka tampak beberapa remaja yang tengah bergelayut manja.
"Itu... Ah paling tamu undangan Silvia" Ucap Rahel menarik tangan Aulia menemui Silvia yang sedang berulang tahun.
Sementara itu di satu sudut ruangan seorang pria tampak memperhatikan gerak gerik Aulia sambil mengetik sesuatu di ponsel nya.
Tak lama kemudian ponsel pria itu pun berdering
__ADS_1
'perhatikan gerak gerik anak itu, jangan sampai lolos dari pantauan mu.'
'siap bos' ucap pria itu kemudian memasukkan ponsel ke jaketnya.
Aulia yang tak terbiasa dengan suasana party merasa canggung berada di antara teman teman Rahel, ia celingak celinguk tanpa arah.
"Isss pesta seperti apa ini, kayak pesta orang dewasa, kelihatan nya aku harus pulang, musik nya bikin kepala ku sakit." batin Aulia. Saat hendak berbalik seorang pria mendekati Aulia sambil menawarkan segelas minuman.
"Hai, manis... Teman nya Silvia ya " Tegur pria tersebut sambil menyodorkan segelas just.
"Ha... Hai.. Juga kak, i.. Iya, aku teman nya Silvia" Ucap Aulia berbohong karena sebenarnya dia tidak mengenal Silvia sama sekali.
"Tapi kakak gak pernah lihat kamu sebelum nya, nih ambil minuman mya." Ucap pria itu lagi sambil kembali menyodorkan jus lemon.
"I.. Iya, aku jarang kesini." Jawab nya canggung, ia pun menerima minuman dari tangan pria itu tanpa curiga
"O, kenalkan aku Rico sepupunya Silvia" Ucap pria tersebut mengulurkan tangan nya.
" Aulia" gadis remaja itu menyebutkan namanya.
"dance yok." Ajak Rico.
"Rileks aja, gak perlu gaya tersendiri kok, pokoknya goyang kan aja badan nya sesuai musik yang ada. Yok..," Rico menarik tangan Aulia.
"Ta.. Tapi kak" Rico tak menerima bantahan Aulia pria itu mengajak Aulia ke lantai dance. Mau tak mau Aulia mengikuti langkah kaki pria tersebut.
"Kak, aku le sana yah" Ucap Aulia di tengah kebisingan musik danse yang sangat kuat.
" Hah...., ayo lah Aulia temani kakak di sini semua berpasangan kau tega sama kakak" Ucap Rico merayu.
"Tapi kak..." Kalimat Aulia tertahan saat Rico memaksa Aulia minum jus di tangan nya.
" Minum dulu biar rileks." Ucap pria itu yang mau tak mau di setujui Aulia. Segelas minuman berbentuk jus itu tandas seketika. Sementara tanpa dia sadari Senyum licik terbit di bibir Rico.
"kak, Aku pusing, aku ke sana yah, " Ucap Aulia kemudian.
"Hah.. Kau kenapa, apa perlu kakak antar?" Ucap Rico
"Tidak kak, aku masih bisa sendiri" Aulia melangkah kan kakinya hendak menuju sofa panjang tempat duduk yang di susun rapi di sudut ruangan, namun sebelum tubuhnya sampai di sana Aulia pun ambruk tak sadarkan diri, beruntung ada tangan kekar yang menyambut tubuh gadis remaja itu.
'Akhirnya, kena kau' Sambil tersenyum penuh kemenangan Rico menggendong tubuh kecil itu ke salah satu kamar yang memang sudah dia siapkan sebelumnya. Rico membaringkan tubuh Aulia di atas ranjang, menatap tubuh remaja itu dengan tatapan sulit di artikan.
__ADS_1
"Aku kasian pada mu gadis kecil, tapi mau bagaimana lagi, menikmati tubuh mu aku mendapatkan bayaran yang sangat mahal, itu berati aku dapat dua ke untungan, jadi maaf, tapi aku jamin, aku tak akan membuat mu hamil, kau masih bisa melanjutkan sekolah mu setelah ini." Gumam pria itu lalu mulau membuka sepatu yang di pakai Aulia.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan di pintu menghentikan gerakan tangan Rico, yang hendak melepas kaos yang di kenakan Aulia.
"Ah, siapa yang menganggu kesenangan ku." Ucap pria itu berjalan ke arah pintu.
"Kau,.. Ada apa ?" Tanya Rico pada gadis tomboi yang sudah berdiri di depan pintu.
"Jangan membuat dia hamil, pakai pengaman dan jangan lupa aku butuh videonya " Ucap gadis itu menyerahkan satu gepok uang ratusan tibu dalan sebuah amplop coklat.
"Masih kecil tapi otak kriminal mu sudah sangat mengerikan." Ucap Rico sinis.
"Lakukan saja tugas mu, jangan sampai dia sadar sebelum kau selesai, bisa gagal semuanya." Ucap wanita itu.
"Bisa kau berikan alasan kenapa kau melakukan ini, aku perhatikan gadis itu sebaya dengan mu, dam kelihatan nya dia anak baik baik." Rico menatap Aulia sejenak, di sala. Jati ada sedikit rasa kasihan pada gadis itu.
"Kau nikmati saja hadiah yang aku berikan, lagian lau dapat keuntungan dari itu, " Wanita itu melangkah meninggalkan kamar tersebut dengan wajah sinis nya. Sedangkan Rico menutup pintu berniat melanjutkan pekerjaan nya yang belum selesai.
"maaf kan aku Aulia," Bisik pria itu.
Tok... Tok.. Tok... Belum sempat Rico melanjutkan aksinya, Pintu kamar kembali di gedor,
"Ahhh sial ada apa lagi sih.... Ra." Ucapan Rico terhenti saat membuka pintu, seorang pria bertubuh kekar mendorong nya masuk dan menghajar Rico tanpa ampun.
"Stop... Stop... Siapa kau, aku tak punya masalah dengan mu." Ucap pria itu panik.
"Bangsat.....,!!!"
Bugh .. Bugh .. Bugh.... Pukulan demi pukulan di layang kan ke perut Rico tak lupa wajah tampan nya pun menjadi sasaran pria tak di kenal itu.
"Hentikan....!" Perintah seorang pria paru baya yang langsung membuat aksi brutal pria itu berhenti.
"Rico Ricardo, ... Hah... Kau rupanya berani bermain main dengan anak kecil yah..." Ucap pria itu menekan bagian dada Rico dengan kakinya.
"Siapa yang menyuruhmu." Ucap pria itu kemudian.
"Rico tampak ragu"Namun sesaat ia menyebutkan nama seseorang yang membuat pria itu tersenyum licik.
"Bawa Aulia ke rumah ku, jangan sampai berita ini menyebar, dan kau.... Kau pasti akan mendapat hukuman dari ku." pria itu pun meninggalkan Rico dalam keadaan tak berdaya.
__ADS_1