GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Melepas Rindu


__ADS_3

Hampir seminggu Dilla di rawat di rumah sakit pelita. Sekarang kondisinya sudah membaik dan dokter pun sudah mengizinkan Dilla untuk di bawa pulang.


"Mia, maaf aku tidak bisa menjemput Dila, karena ada rapat mendadak dan rapat ini sangat penting" Ucap Arifin dari seberang telpon.


Walau pun Mi sangat kecewa terapi ia tetap tersenyum dan memaklumi kesibukan sang suami


"Tidak apa apa mas, aku di sini bersama Aulia." Jawab Mia Kemudian.


"Baiklah kalau begitu, tolong kau beri pengertian pada Dila, aku tau dia kecewa tapi rapat ini sangat penting dan tidak bisa di wakilkan"


"Iya, aku mengerti dan Dila pasti juga akan mengerti." Mia barusaja akan menutup panggilan telpon nya, saat ia mendengar suara manja di seberang sana.


"Mas, apa sudah selesai.?"


deg....


"Mas, suara siapa itu, ?" Tanya Mia curiga.


"Oh, itu suara orang di sebelah ku, " Ucap Arifin tenang. Ia memang tidak berbohong karena memang ada seorang di sebelah nya saat inj.


" Maksudmu kau sedang bersama seorang wanita ?" Mia berusaha menahan perasaan yang kini mulai membuncah di dadanya.


"Tentu saja tidak, kau ini kenapa selalu berpikir negatif pada ku, aku sedang di kafe menunggu klien ku dan di meja sebelah ku ada pasangan suami istri, dan suara wanita nya lah yang kau dengar tadi." Arifin bicara dengan sangat tenang seolah yang dikatakan nya adalah sebuah kebenaran.


"O, maaf kan aku, aku kira kau..?"


"Sudah lah, kau selalu menuduhku dan membuat mood ku memburuk." Kemudian pria itu mematikan sambungan telepon sepihak tanpa menunggu kalimat lain dari Mia.


"Ada apa dengan ku, kenapa akhir akhir ini aku selalu membuat mas Arifin kesal." Mia menyalahkan dirinya sendiri yang telah membuat suaminya marah .


"Mah, kita sudah siap" Aulia menghampiri Mia yang sedang terpaku di depan pintu kamar Dila.


"Oh... iya sayang, ayo kita pulang." Mia memasuki ruang rawat dan memeriksa kembali barang barang yang akan mereka bawa pulang.

__ADS_1


"Kakak bawa tas adek yah, mama akan gendong adek." Aulia menenteng ransel yang berisikan pakaian kotor.


"Mah, pakai kursi roda saja. Adek kan sudah berat nanti pinggang mamah encok lagi" Ucap Aulia sambil mendorong kursi roda ke arah ranjang Dilla.


"Ya udah ayok sayang , kamu sudah kuat buat berdiri kan?" Tanya Mia pada Dila.


"Sudah dong mah, adek kan sudah sembuh, malah adek kuat kok jalan dan lari sampe ke parkiran." Ucap Dila ceria.


"Wah... benarkah..., putri mamah memang gadis yang kuat,tapi untuk sekarang mamah tidak akan mengizinkan adek untuk berjalan ke parkiran jadi adek mesti naik kursi roda yah, biar mamah dorong." Dila mengangguk dan segera duduk di kursi roda yang sudah di siapkan mamanya.


Sesampainya di parkiran


"Mah, papa mana?" Tanya Dila mencari cari sosok papanya.


"Maaf yah sayang , papa saat ini sedang sibuk " Jadi kita pulang bertiga yah, mamah sudah pesan taksi online kok." Dila menatap sendu pada halaman rumah sakit, padahal iya sangat berharap jika ia di jemput oleh sang ayah .


"Hei, jangan sedih kan ada kakak dan mamah" Aulia berusaha menghibur adik bungsunya itu.


"Nah, gitu dong kita anak anak mamah Mia adalah anak yang kuat, gak manja dan gak cengeng, kita harus mandiri." Aulia yang sudah remaja sedikit banyak faham dengan keadaan rumah tangga orang tuanya yang tak sama dengan rumah teman temanya.


"Tuh taksi online pesanan mamah sudah datang " Mereka memasuki taksi online menuju rumah .


Di kantor Arifin.


suara ******* dan lenguhan terdengar bersahutan dari bibir pasangan suami istri siri yang sedang menumpahkan kerinduan mereka .


Arifin tersenyum penuh kepuasan saat dirinya tumbang di samping tubuh Hesti istri keduanya.


"Dasar nakal" Ucap Arifin melirik sang istri yang kini terkulai lemas di atas sofa.


"Tapi kau suka kan,"


"Aku sangat suka sayang, tapi lain kali kau jangan datang ke kantor ya, bagiamana jika ada yang melihat kita dan melaporkan ini pada Mia."

__ADS_1


"Aku tidak peduli mas, Aku sangat merindukan mu, lagi pula aku sudah bosan selalu menjadi simpanan mu, aku ingin kau mengakui ku di depan Mia dan anak anak." Hesti kembali mencium rakus bibir suaminya sedangkan jemari Arifin kini tengah menyusuri setiap inci tubuh sang istri.


"Ah... mas...., " suara suara manja yang tak seharusnya terdengar oleh orang lain kini sampai ke ruang sekretaris Arifin yang sedang fokus pada pekerjaannya.


"Ah.. dasar bos laknat, kurang apa istrinya di rumah, sudah cantik baik, Solehah, huf.. laki laki memang gak ada puasnya." Eva memilih meninggalkan mejanya menuju pantry membuat segelas kopi sekedar mengalihkan telinganya dari suara suara yang membuatnya merasa geli dan jijik.


"Mbak Eva tumben, lagi ngapain" Tanya seorang OG .


"Lagi pengen ngopi Nin" Ucap eva pada gadis hitam manis itu.


"Mbak, yang tadi ke kantor pak Arif itu siapa ya" Kepo Nina .


"Hus..., gak usah kepo? kita sebagai bawahan sebaiknya cukup fokus pada pekerjaan kita saja, tidak usah kepo pada urusan pribadi bos." Eva mengingatkan.


Nina segera menutup mulutnya, bukan tanpa alasan dia bertanya pada Eva karena Dari resepsionis tadi Nina mendapatkan gosip bahwa wanita itu mengaku istri sah nya Arifin, sedangkan yang Nina tau Arifin Sudah menikah dan memiliki 3 orang anak, dan Nina juga pernah bertemu Istri Arifin saat ia di minta menjemput berkas yang ketinggalan di rumah Arifin. Dan menurut Nina istri Sangat cantik dan ramah, jadi apa mungkin Arifin menikah lagi dan menceraikan istrinya itu.


"Huf....." Nina menggelengkan kepalanya mengusir pikiran pikiran yang membuat ya menjadi kepo.


Sementara itu Eva yang telah kembali kemejanya kini mulai fokus pada pekerjaan kembali saat suara suara yang menganggu nya tadi sudah tak terdengar lagi.


"Eva, keruangan saya segera"


"Iya pak, " Eva memasuki ruangan bos nya itu setelah mendapat kan izin. Tampak seorang wanita duduk dengan angkuh di sofa panjang sambil memainkan ponsel nya.


"Eva, tolong belikan makan siang untuk saya dan istri saya," Ucap Arifin pada Eva


"I.. istri...?" Tanpa Eva sadari mulutnya terbuka saat mendengar kalimat istri itu dari bibir Arifin.


"Ia, Dia istri saya Eva, apa ada masalah?" Ucap Arif sambil menatap tajam pada Eva.


"Oh.. eh.. iya.. pak, saya. pesan kan sekarang." Ucap Eva sambil keluar dengan berbagai pertanyaan di otaknya.


****

__ADS_1


__ADS_2