GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Pertemuan Arifin dan Mia


__ADS_3

Mia dan ketiga remaja itu baru saja tiba di kediaman Arifin, di tatap nya rumah dua lantai itu dan menghembuskan nafas nya, entah kenapa terasa sesak, namum ia mencoba untuk tersenyum pada ketiga buah hatinya itu sebelum kemudian ia memaksakan diri untuk melangkah masuk.


"Assalamualaikum," Mia mengucap salam, namun tak ada jawaban dari dalam.


"Masuk aja yok mah, Mbak Asih pasti lagi sibuk" Aulia menarik tangan Mia, sehingga kini wanita itu ikut masuk ke dalam Rumah.


"Mbak...mbak Asih..?" Teriak Aulia mencari Asih ke dapur.


"Mbak Asih kok nggak ada yah, apa masih di kamar nenek sihir itu." Gumam Aulia.


tok... tok... tok... Aulia menggedor kamar Hesti engan kuat, sehingga Hesti yang sedang di pijit merasa terganggu.


"Siapa itu Sih, coba kamu cek" Titah Wanita itu pada Asih yang sedang mengurut bagian kakinya.


"I.. iya nyonya." Asih segera bangun dan membuka pintu.


"Mbak, Asih ngapain di dalam?" Ketus Aulia sambil matanya menatap tajam pada Hesti.


"Mbak, lagi pijitin kaki nyonya Hesti non" Jawab Asih sopan.


"Udah selesai kan, bikinin minum buat Mamah" Titah Aulia lagi, masih dengan nada ketus. Bukan pada Asih, tapi tepatnya agar Hesti sadar diri.


"I.. iya non" Jawab Asih bingung.


"E..eh.. Asih, tugas kamu pijitin saya belum selesai yah," Hesti hendak melarang Asih namun Aulia segera menyahut.


"Mbak Asih di sini kerjanya itu bagian dapur, bukan tukang pijit, kalau Tante mau di pijit cari tukang pijit sana, atau ke spa kek, kan duit yang di kasih papa ke tante banyak kan, gak mungkin deh gak sanggup buat bayar spa atau tukang pijit." Ucap Aulia sambil berlalu meninggalkan kamar Hesti sambil menarik tangan Asih.


"Non, gak boleh gitu, gimana nanti kalau nyonya Hesti ngadu sama bapak.?" Ucap Asih mengingatkan Aulia.


"Biarin aja, lagian Aulia lagi senang mbak, mamah jemput Aulia dan adik adik ke sekolah,mbak asih bikinin makanan kesukaan Mamah ya, Aulia pengen makan siang bareng mamah." Ucap Aulia sambil tersenyum senang.


"Iya non," Asih segera ke dapur, membuat minuman untuk Mia.


Mia memilih duduk di ruang tamu, ia bersikap seperti layaknya seorang tamu, sambil menunggu anak anak nya untuk berganti pakaian Mia menatap satu persatu Foto pernikahan Arifin dan Hesti yang di susun Rapi di dinding.


"Mereka tampak serasi" Gumam Mia sambil tersenyum getir, bagaimana pun ia merasa cemburu pada Hesti yang bisa mengisi hati Arifin dengan sangat dalam.


"Assalamualaikum, " Mia yang sedang menatap foto pernikahan Hesti dan Arifin dikagetkan dengan kedatangan Arifin yang kini sudah berdiri di samping nya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, mas..?" Mia berusaha tersenyum ramah, mencoba menetralisir perasaan yang tak karuan. entah kenapa tiba tiba ada rasa canggung saat bertemu Arifin.


"Apa kabar kamu Mia?" Tanya Arifin ramah.


"Alhamdulillah mas baik, aku tadi sengaja menjemput anak anak aku ingin bertemu mereka." Ucap wanita itu kemudian.


"O, iya." Entah kenapa Arifin tiba tiba menjadi gugup berhadapan dengan Mia, rasa canggung dan juga rasa tak enak hati pada mantan istrinya itu.


"Ah,.. maaf aku tiba tiba gugup begini, mari silahkan duduk." Ucap Arifin yang mendapat anggukan dari Mia. Keduanya kini duduk berhadapan.


"Wah kelihatan nya mbak Hesti mengurus mu dengan sangat baik yah mas, wajah mu tampak lebih bersinar bahagia, berbeda sekali dengan waktu kita bersama dulu." Ucap Mia berusaha ramah, namun kalimat nya itu justru membuat Arifin merasa tak enak hati.


"Ah, jangan membuat ku malu Mia, aku harap kau sudah melupakan kesalahan ku di masa lalu." Ucap Arifin menatap dalam wajah mantan istrinya itu.


"Tentu saja mas, antara kita hanyalah masa lalu. Dan hubungan kita saat ini tak lebih dari mantan istri atau mantan ipar, tapi bagaimana pun anak anak tetap lah anak anak ku, mereka keponakan kandung ku, jadi aku harap mas tidak keberatan jika aku bertemu mereka." Ucap Mia penuh permohonan.


"Untuk itu aku minta maaf Mia, aku tidak mungkin memberikan kebebasan itu pada mu, saat ini Hesti adalah istri ku, dan dia yang berhak memberi izin anak anak harus bertemu siapa" Ucap Arifin membuat Mia kaget tak menyangka mendapat penolakan itu dari Arifin.


"Tapi kau bisa menemui mereka sesekali dan tentu saja atas izin Hesti" Lanjut Arifin, Mia tersenyum kaku berusaha memaklumi Arifin, bagaimana pun dia saat ini bukan lah siapa siapa bagi Arifin lagi.


"Baiklah, kalau begitu"


"Sepertinya aku harus pamit dulu, tolong sampaikan salam ku pada mbak hesti dan anak anak" Mia hendak pergi namun langkah nya terhenti saat mendengar suara Hesti.


"Apa kabar mbak Hesti, senang bertemu mbak"


"Alhamdulillah, aku sehat dan tentu juga sangat bahagia" Ucap Hesti tersenyum angkuh.


"Iya, itu sangat terlihat jelas dari wajah mbak Hesti, maaf saya harus kembali, masih banyak pekerjaan." Mia pun meninggalkan kediaman Arifin tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Sayang...?, kenapa mantan istri mas kesini?" Tanya Hesti pada Arifin sambil merengut manja.


"Dia mengantarkan anak anak, emang nya Asih kemana sih , kok bisa anak anak di jemput Mia." Tanya Arifin sambil mencium pipi istrinya itu manja.


"Maaf sayang, tadi aku kurang enak badan jadi aku minta Asih buat pijitin aku, makanya mas sediain sopir dong buat antar jemput anak anak, jadi asih gak perlu repot antar jemput anak anak pake taksi." Manja Hesti.


"Ah, kamu benar juga sebaiknya aku cari sopir buat antar jemput anak anak" Arifin dan Hesti hendak masuk ke kamar namun tiba tiba Aulia turun dengan wajah cerianya.


"Mamah...,?" Aulia mencari ke setiap sudut Ruang tamu namum ia tak menjumpai Mia.

__ADS_1


"Pah, mamah mana?" Tanya Aulia mulai panik.


"Apa kalian mengusir mamah ?" Tanya Aulia penuh selidik.


"Sayang, tentu saja kami tidak mengusirnya, Dia pulang karena ada urusan lain, lagi pula sudah seharusnya dia pulang, itu tandanya dia sadar diri, karena Dia bukan siapa siapa lagi di rumah ini." Jawab Hesti lembut namum tajam.


"Apa maksud tante, mamah Mia adalah mamah ku, dan dia berhak datang ke rumah ini kapan pun Dia mau, dan ingat tante tidak berhak melarang Mamah untuk datang ke sini " Ucap Aulia berapi api


"Aulia...!!?" Arifin menatap tajam putri sulung nya itu.


"Kenapa..? papah mau marah sama kakak, sampai kapan pun mamah Mia tetap mamah kakak dan adik adik, dan tidak ada seorang pun yang akan menggantikan nya " Tantang Aulia sambil menatap sinis pada Hesti.


"Kamu...?" Arifin mengangkat tangan nya namun di tahan oleh Hesti tatapan tajam Aulia yang seolah menantang membuat Arifin kehilangan kendali.


"Gak usah sok baik tante, biarin jika papa mau pukul aku, biarin sepuasnya, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menganggap tante mamah ku, dasar pelakor."


Plak....


Satu tamparan mendarat di wajah Aulia. Namun bukannya takut dan menangis gadis remaja itu malah tersenyum sinis.


cih...


"Hanya segitu, nih.. tampar lagi pa, tampar..., " Arifin tertegun dalam hati ia merasa heran kenapa putrinya jadi semakin keras kepala.


"Aulia, sudah nak jangan lagi memancing emosi papamu, sebaiknya kamu ke kamar ya," Hesti berusaha menenangkan Aulia.


"Jangan sok baik" Aulia menepis tangan Hesti membuat Arifin kembali terpancing emosi.


"Dasar anak tidak tau diri, keras kepala " Arifin hendak memukul Aulia namun tiba tiba Raja sudah berdiri di depan sang kakak.


"Jangan pernah memukul kakak ku pah, pukul saja aku" Ucap Raja yang membuat Arifin makin frustasi.


"Naik ke kamar mu Raja." Titah Arifin, Namun remaja 10 tahun itu tak bergerak sedikit pun.


"Raja naik...!" Arifin menaikkan suaranya.


"Tidak ..!!!,"Raja memeluk sang kakak yang kemudian juga memeluk nya.


"Ada apa dengan kalian, siapa yang mengajarkan kalian jadi pembangkang seperti ini." Ucap Arifin mulai melemah.

__ADS_1


"Mas....?"


"Aulia, sebaiknya ajak Raja ke atas." Hesti berusaha membujuk anak sambung nga itu.


__ADS_2