
Mia menatap sendu wanita di depan nya itu, ada rasa rindu dan juga rasa bersalah yang tak bisa ia ungkapkan.
"Putri ku mah, namanya Dilla , dia terkena demam berdarah."Jelas Mia sambil mengalihkan pandangannya ke ubin yang tertata rapi.
"Hummm, jadi kau sudah memiliki seorang putri" Ratih tersenyum lembut lalu " Pasti dia sangat cantik sepertimu."Ucap nya kemudian.
"Iya mah, oh ya mamah belum memberitahuku sejak kapan mamah di kota ini, dan mamah ke sini apa ada saudara yang sakit atau..?" Mia tak melanjutkan kalimat nya.
"Alhamdulillah mamah sehat sayang, mamah sudah sebulan ini tinggal di kota ini, mamah ke sini hanya untuk cek kesehatan."Ratih tau betul maksud kalimat terakhir Mia, namun ia tak ingin membahas hal yang akan membuat mereka menjadi canggung nantinya.
"Oh iya mah, Mia sedang terburu buru, bisa Mia minta no telepon mamah, biar nanti kita bisa melanjutkan obrolan kita ini." Ratih segera menyebutkan nomor telepon genggamnya setelah saling bertukar no telepon Mia pun berpamitan pada Ratih.
Sementara itu.
Kring...
kring... Arifin segera mengangkat benda pipih itu dari kantong nya, ia menekan tombol hijau dan mendekatkan benda itu ke telinganya.
"Assalamualaikum Hesti."
"Mas.... kamu kemana aja sih." Teriakan manja dari seorang wanita di seberang sana.
"Jawab salam mas dulu sayang." Arifin berusaha sabar menghadapi kekasih manja nya itu.
"Waalaikum salam" Ketus Hesti .
"Ih... kok istri mas ketus gitu ." Arifin berusaha membujuk sang istri sirih sambil menjauh dari ranjang Dila.
"Mas kemana aja, kok dari semalam gak ngabarin aku, aku kan kangen mas" Suara manja yang begitu menggoda di telinga Arifin membuat pria itu lupa jika saat ini ia berada di ruang rawat putrinya.
"Mas juga sudah sangat rindu sayang, dan ahh kau tidak tau, bahkan hanya mendengar suara mu saja, di dia sudah bangun dan berdiri dari sarang nya." Ucapan mesum Arifin membuat sang istri sirih berbunga bunga.
"Kalau begitu segeralah kesini, Aku akan segera menina bobo kannya." Ucap Hesti tak ingin kalah.
"Ah... sayang aku ingin sekali ke sana tapi...?"
"Kenapa mas?" kalimat Arifin yang menggantung membuat Hesti penasaran.
__ADS_1
"Apa saat ini kau sedang bersama nya." Suara nada cemburu itu membuat Arifin kelagapan
"Ti.m tidak sayang, bukan begitu maksud mas, tapi.. saat ini masa berada di rumah sakit sayang."
"Mas sakit...? mas sakit apa , aku segera kesana ya?" Hesti panik mendengar suami nya yang tiba tiba berada di rumah sakit.
"Tidak sayang, mas baik baik saja, dan kau jangan kesini, mas tidak mau Mia melihat kau di sini nantinya, lagi pula bukan mas yang sakit, tapi Dilla"
"A.. apa... Dila?" Tanya Hesti heran.
"Iya, menurut dokter Dila terkena demam berdarah" Jelas Arifin kemudian.
"Ya Allah mas, kasian sekali anak sekecil itu harus berada di rawat di rumah sakit, tapi kok Dila bisa kena DBD mas, apa kalian di rumah ..?" Hesti menutup mulutnya segera takut jika jika ia salah bicara.
"Todak sayang.., bukan seperti yang kau pikirkan, Rumah mas cukup bersih dan tidak ada sarang nyamuk. "Ucap Arifin terkekeh.
"Maaf mas, bukan begitu maksudku." Ucap Hesti merasa tak enak .
"Sudah lah tidak apa apa, Sekarang mas matiin dulu telponnya yah, mas takut nanti Dila mendengar obrolan kita." Ucap Arifin kemudian.
"Baik lah sayang..., Emmuuuachh" Balas Arifin dari balik telepon. Kemudian dia mematikan panggilan dan segera menoleh ke ranjang Dila.
"Papah sedang ngobrol dengan siapa?" Tanya Dila yang ternyata dari tadi mendengar obrolan nya dengan Hesti.
"Sayang papa sudah bangun, Adek mau apa hummm?" Arifin mendekat dan mengusap kepala putrinya itu tanpa memperdulikan pertanyaan yang keluar dari bibir gadis kecil itu.
"Adek mau pipis pa" Rengek Dila kemudian.
"Humm anak papa mau pipis, baik lah papa akan meminta perawat untuk membantu adek yah,"Arifin pun segera meminta tolong pada seorang perawat untuk membantu Dila ke kamar mandi.
*****
"Mah, bagaimana keadaan adek" Tanya Aulia saat ia melihat sang mamah memasuki rumah bersama dengan Raja.
"Adek terkena DBD sayang, untung lah segera di bawa ke rumah sakit," Jawab Mia sambil menghempaskan tubuhnya di sofa panjang yang berada di ruangan tengah. Sedangkan Raja langsung ke kamarnya untuk berganti pakaian.
"Abang solat zuhur dulu bang, habis itu makan siang." Teriak Mia mengingatkan putra nya itu.
__ADS_1
"Iya mah, "
"Pantas saja panas nya turun naik yah ma." Aulia duduk di sofa yang sama dan meletakkan kaki Mia di pahanya kemudian gadis remaja itu memijit perlahan kaki sang mamah.
"Kakak pulang sekolah sama siapa?" Tanya Mia penuh selidik.
"Sama ojek online kok mah." Jawan Aulia jujur.
"Mamah pasti capek yah" Ucap Aulia kemudian. Mia menatap sang putri sambil tersenyum lalu menggeleng.
"Capek mamah tak berati saat mamah melihat kalian tumbuh besar dan sehat, bahkan capek mamah akan langsung hilang saat mamah melihat senyum di wajah kalian." Aulia terharu dengan kata kata mamah nya.
"Mah, terima kasih karena sudah menyayangi kakak dan adik adik." Ucap Aulia kemudian.
"Hei...., sayang itu adalah tanggung jawan mamah dan papah cara kalian berterima kasih cukup dengan menjadi anak yang baik dan tidak mengecewakan kami dengan hal hal yang merusak masa depan kalian.." Mia segera bangun dan memeluk putri sulung nya itu .
"Mamah adalah mamah terhebat yang aku punya," Kini gadis remaja itu membenamkan kepalanya di pangkuan Mia. Mia menatap jam di dinding sudah menunjukkan pukul 15:30.
"Ya sudah mamah mau mandi dan solat ashar dulu, setelah itu mamah mesti ke rumah sakit jagain adek, kasian papa dari tadi belum istirahat papa pasti capek dan nungguin mamah buat gantian" Aulia melepas pelukannya agar Mia bisa segera mandi.
"Oh ya mah, kakak boleh ikut kerumah sakit gak jagain adek." Tanya Aulia kemudian.
"Gak boleh sayang , kakak jagain Adek raja aja yah " Aulia mengangguk dan segera ke kamarnya untuk melaksanakan solat ashr.
"Ya ampun, pantasan dari tadi nggak turun turun ternya ketiduran." Aulia geleng geleng kepala saat mengintip adiknya yanh ketiduran di kamar dalam keadaan masih memaki seragam sekolah nya.
"Gembul... bangun, hei... ini sudah sore." Aulia menggoyang kan bahu Raja agar Bocah berpipi gembul itu terbangun.
"Raja masih ngantuk kaka' Ucap raja dengan malas.
"Bangun dulu kamu belum makan siang lebih h, nanti sakit perut. lagian ini sudah sore, sudah jam nya solat ashar, gak baik tidur nanti kamu di tindih setan loh." Kalimat terlahir Aulia sukses membuat raja bangun dan berlari ke luar kamarnya.
"Kakak apa an sih serem tau." Ucap Raja yang membuat tawa Aulia menggelar.
"Ayo sekarang mandi dan solat ashar, nanti kakak temani makan." Raja segera meraih handuk nya dan segera mandi.
*****
__ADS_1