
Pernikahan Arifin dan Nia terbilang sangat bahagia, Dengan gaya hidup Nia yang terbilang sederhana ia mampu mengatur keuangan dengan baik, sehingga dalam kurun waktu 2 tahun mereka pun memulai usaha sendiri yang berdiri di bidang furniture.
Keahlian Nia dalam mendesain berbagai model perabot yang sesuai Dengan keinginan pelanggan membuat usaha mereka maju pesat. Hingga saat Nia hamil putri pertamanya Nia meminta orang tuanya untuk mengirim adik semata wayang nya untuk kuliah di kota, dan membantunya di perusahaan.
Arifin dan Nia sangat memanjakan Mia, bahkan Mia di masukkan ke kampus ternama di kota J, karena Mia juga memiliki otak yang sangat cerdas. Arifin yang memang anak satu satunya dari Darmawan dan bunda Hanum sangat bahagia memiliki adik perempuan tak terlintas di benak Arifin jika suatu saat ia akan menikahi wanita yang di anggap any adik itu.
*******
Dret... dret....
Telpon genggam milik Arifin bergetar di dalam kantong celana nya. Ia meraih benda pipih itu dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
" Assalamualaikum kak?" Sapa Arifin pada Suara di seberang .
"Papa di mana?" Tanya gadis remaja itu dingin.
"Papa masih di kantor." Jawan Arifin.
"Kakak mau ketemu papa" Ucap Aulia kemudian.
"Ada apa sayang, papa lagi sibuk nanti saja kita bicara di rumah." Pria itu memijit pelipisnya untuk sedikit mengurangi pusing di kepalanya.
"Yakin...?" Kalimat itu membuat Arifin mengeryitkan dahinya.
"Kakak kenapa" Arifin berusaha untuk bersikap tenang walau ia merasa kesal dengan nada bicara putrinya itu.
"Yah, apa papa yakin masih punya waktu untuk pulang ke rumah" Sindiran tajam itu keluar dari bibir sang putri sulung.
"Kakak, kakak tau kan, papa itu lembur untuk kakak dan adik adik, dan begitu juga mamah." Ucap Arifin frustasi.
"Kakak sudah di depan ruangan papa" Ucap Gadis itu membuat Arifin kaget.
"Masuklah" Ucap pria itu kemudian.
Aulia memasuki ruang kerja Arifin dengan tatapan datar, ia mencium punggung orang tuanya itu dan duduk di sofa yang sudah tersedia di sana.
"Katakan ada apa?" Ucap Arifin menatap wajah sendu putrinya itu.
"Kenapa papa gak angkat pon kakak dari semalam?" Tanya Aulia tegas. Arifin menyerngitkan dahinya merasa tak mendapat telpon dari Aulia ataupun Mia.
__ADS_1
"Maaf, sayang hp papa mati." Ucap nya asal.
"Kalau mati kok di pon masuk." ketus Aulia.
"Masa sih...?" Arifin memeriksa ponselnya.
"Gak ada panggilan dari kakak loh." Ucap nya kemudian.
"Huf...., semalam papa nginap di mana pa?" Tanya putrinya itu kemudian.
"Ummm, di... di sini, yah papa nginep di sini seperti biasanya." Jawab pria itu terbata bata.
"Apa papa sadar, mamah nungguin papa semalaman sampe nggak tidur, " Aulia menatap sendu sang ayah.
"Ada apa pa, kakak tau , papa sudah lama gak pulang ke rumah, apa papa benar benar sudah gak peduli sama mama?" Arifin tak dapat menjawab pertanyaan putri sulung nya itu, Di dalam hati ia merasa bersalah karena telah mengabaikan istri dan anak anak nya.
"Pah, kakak memang masih terlalu kecil untuk bicara seperti inj, tapi kakak harap papa bisa kembali seperti dulu, papa selalu pulang tepat waktu, jalan jalan saat weekend, dan selalu ada saat kakak dan adik adik butuh papa."
"Kakak memang bukan hanya butuh materi pa, tapi kakak juga butuh papa , tolong luangkan waktu papa buat keluarga juga." Arifin segera berjalan ke arah sang buah hati dan memeluk putri kesayangannya itu.
"Maafkan papa sayang... maafkan papa" Tangis Aulia pun pecah ketiga mendengar permintaan maag yang tulus dari sang papa.
"Mulai saat ini papa berjanji akan meluangkan waktu untuk kakak, dan adik adik," Arifin mengusap airmata di pipi putrinya itu.
"Eva keruangan ku sekarang." Ucap Arifin setelah ia menenangkan Aulia.
"Iya Pak" Jawab eva yang segera berada di ruangan Arifin.
"Tolong batalkan semua janjiku hari ini, aku ingin pulang bersama putri ku." Eva yang kebingungan dengan keputusan tiba tiba sang atasan hanya bisa mengangguk dengan wajah tertekan.
"Baik pak" Ucap nya kemudian.
"Tante Eva gak marah kan?" Tanya Aulia memastikan.
"Tentu saja tidak nona kecil." Jawan Eva sambil tersenyum ramah pada Aulia.
"Huf... nasib nasib jadi bawahan." Batin Eva.
"Kami permisi dulu yah tan" Senyum ceria kini terbit di wajah remaja itu membuat Eva ikut tersenyum juga.
__ADS_1
"Semoga kamu bisa menerima kenyataan pahit itu nantinya Aulia." Batin Eva.
*****
"Assalamualaikum" Aulia memasuki rumah dengan wajah Ceria di belakangnya Arifin berjalan mengikuti gadis kecil itu.
"Mamah..., kakak pulang?" Pekik gadis itu pada sang ibu yang tengah menyiapkan makan siang.
Aulia mencium tangan Mia, dan Mia mengusap kepala gadis remaja itu dan mencium pipinya kiri dan kanan.
"Kakak ke atas, ganti baju dan solat zuhur, dan setelah itu kita makan siang sama sama" Ucap Mia yang belum menyadari kehadiran suaminya.
Mia kembali menata makanan di meja setelah Aulia naik ke lantai atas.
"Kamu masak apa hari ini" Suara itu mengagetkan Mia yang sedang menyusun piring di meja makan.
"Mas,Arif..." Mia kaget melihat kedatangan pria berwajah tampan itu.
"Mas sejak kapan di situ?" Tanya Mia ramah.
"Baru saja, mas mau mandi dulu ya" Pria itu segera menuju kamar untuk mandi dan solat zhuhur.
"Ada apa dengannya, tumben sekali dia bicara se ramah itu, " Batin Mia.
15 menit kemudian Arifin dan anak anak telah berkumpul di meja makan, mereka makan dengan lahap. Sop iga sapi dan tempe goreng serta sambal terasi yabg tak boleh ketinggalan menjadi menu mereka siang ini.
"Hummmm, sambal nya enak banget mah" Jujur Arifin.
sumpah Mia seperti bermimpi mendapat pujian dan kalimat lembut itu dari suaminya, setelah 10 tahun ia mencoba untuk membuka hati pria batu itu.
"Ada apa dengannya, apa... apa kah ini caranya untuk menutupi perselingkuhan nya." Batin Mia mulai gelisah.
"Seharusnya aku senang, Hari ini untuk pertama kalinya mas Arif memuji masakan ku, dan ini juga pertama kalinya dia bicara dengan ramah " Batin Mia.
Perubahan sikap Arifin tak sampai di situ, bahkan malam ini mereka sekeluarga mengadakan makan malam di luar, yah.. momen ini dulu sering mereka lakukan untuk menyenangkan ketiga anak anak mereka, walau Arifin tetap bersikap dingin pada Mia.
Namun kali ini tampak berbeda, Arifin mulai membiasakan diri bicara lembut, walau tampak di paksakan. Hal ini tentu membuat Mia bahagia, namun juga Khawatir karena tanpa sepengetahuan Arifin Mia sudah mengetahui tentang perselingkuhan nya.
******
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar nya sayang....