
Seorang wanita cantik, tengah duduk di bangku taman sambil membaca sebuah novel di aplikasi online nya. Sesekali ia tersenyum saat membaca adegan romantis di dalan novel tersebut.
"hummm andai nanti aku punya suami yang baik dan romantis seperti pria di novel ini, pasti akan sangat membahagiakan." Gumamnya yang terdengar jelas oleh seorang pemuda tampan yang kini tengah berdiri di belakangnya.
"jika ada pria romantis yang melamar mu, namun ia belum mapan gimana?" Perkataan pria itu membuat wanita berusia 21 tahun itu memutar kepalanya.
" Kau..., kapan kau kembali?" Tanya nya pada si pria.
"aku baru kembali dan langsung menemui mu, kau tau aku sangat merindukan mu Nia," Pria itu berjongkok dan mencium jemari tangan wanita yang selama 5 tahun terakhir menjadi sahabatnya . Ya lelaki itu adalah Arifin, perkenalan tak di sengaja dengan adik kelasnya itu membuat mereka dekat hingga saat ini.
"Mana oleh oleh untukku," Ucap nya sambil menadahkan tangannya, dan memasang wajah manja.
"Hummmm, yang di tanya malah oleh oleh, apa kau tidak merindukanku." Ucap Arifin sambil mengabaikan Nia dan duduk di samping hadis itu dengan tatapan sendu.
"Hei, aku hanya bercanda, tentu saja aku lebih mengkhawatirkan mu dari pada berharap oleh oleh, kau tau keselamatan mu hingga sampai kembali itu adalah oleh oleh terindah yang aku nantikan." Ucap Nia sambil meraih jemari Arifin.
"Terimakasih," Arifin menatap wajah cantik itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Nia, ummmm, " Arifin tanpak ragu ragu.
"kenapa?" Nia menatap Arifin sambil mengerutkan keningnya merasa heran dengan tingkah sahabat serta pria yang di cintai nya secara diam diam ini.
"Eummm, atasan ku memintaku untuk pindah ke kota J," Ucap Arifin lirih.
Nia hanya diam tak menanggapi.
"Di sana aku di angkat menjadi kepala bagian ke uangan, dan tentunya gajiku pun naik 3ali lipat dari sekarang " Nia menatap sejenak pria tampan di samping nya itu dan tersenyum, entah senyum seperti apa yang Nia berikan namun yang pasti hatinya merasa tak rela jika berjauhan dengan cinta dalam diam nya itu.
__ADS_1
"Itu bagus dong, kapan rencana nya kau berangkat " Ucap Nia berpura pura tegar. Bagaimana pun ia tak ingin menjadi penghalang kesuksesan pria itu.
"Aku ...., huf.... aku merasa berat untuk itu" Kalimat itu sontak membuat Nia heran.
"Kenapa...??? bukan kah ini yang kau ingin kan, berhasil dengan kaki mu sendiri, agar papa mu bangga pada mu, dan kau bisa membantu anak anak di panti asuhan yang di kelola bunda mu." Nia berusaha mengingatkan Arifin.
"Apa yang membuat mu berat, katakan?"
"Eummmm, eummmm, a.. a.. aku tidak bisa meninggalkan kau." Ucap pria itu terbata.
"A.. aku... hei.... apa maksudmu." Nia berusaha untuk menahan debaran jantung yang semakin kuat saat ia tak sengaja bertatapan dengan wajah Arifin.
"Nia, maaf kan aku.. maafkan aku yang tak tau diri ini, tapi... sejak dari SMA kita bersama, kita menjadi dekat , berteman dan kita saling berbagi kisah, kau selalu ada di saat aku membutuhkan kan mu, dan tanpa aku sadari seminggu aku di kota aku menjadi sadar kalau aku tak bisa jauh dari mu Nia. aku rasa aku mencintaimu lebih dari seorang sahabat."
Arifin menunduk takut jika kalimat kalimatnya itu akan menyakiti perasaan Nia, di takut jika perasaan yang ia rasakan itu akan berdampak pada persahabatan mereka. Sedangkan Nia, ia masih berusaha mencerna setiap kalimat yang terlontar dari bibir Arifin.
"Nia Putri Pratiwi, " Arifin menatap penuh ke bola mata hitam milik Nia, dan meraih kedua tangan gadis itu.
Bola mata Nia membulat sempurna, ia tak mampu berkata apa apa ia terpaku berusaha untuk sadar dari keterkejutan nya ini.
"Ah.. tidak aku pasti bermimpi." Katanya sambil memukul mukul pipinya dengan kedua tangannya.
"Au... sakit." Teriak Nia kemudian.
"Ah.... aku tidak bermimpi, atau jangan jangan kamu mau ngeprank aku yah." Nia menatap mata teduh itu mencari kebenaran.
"Kau..... kau tidak sedang bercanda kan.?" Tanya Nia meyakinkan.
__ADS_1
"Nia aku serius, " Kalimat Arifin penuh dengan kesungguhan. Nia diam sejenak.
"Maaf kan aku, jika pernyataan aku ini membuat mu kecewa Nia, aku memang bukan cowok mapan dan romantis sesuai yang kau inginkan, tapi aku bisa pastikan kalau cinta yang aku miliki akan membuat kau bahagia sepanjang hidup mu , Aku tidak akan menyia nyiakan mu, aku akan selalu mencintaimu, dan aku berjanji akan bekerja keras, untuk membahagiakan mu, dan aku tak akan membiarkan mu kekurangan apa pun dalam hidup mu, baik itu cinta, kasih sayang, ataupun materi." Arifin duduk berlutut di hadapan gadis itu dengan harapan Gadis cantik itu menerima lamaran Arifin.
Nia meletakkan jari telunjuknya di bibir Arifin lalu ia tersenyum dan mengangguk.
"Apa... apa itu artinya kau menerima lamaran ku." Arifin meyakinkan.
Sekali lagi Nia mengangguk. "Iya " Ucapnya sambil mengusap airmata haru yang berjatuhan di pipi chubby nya.
"Yes...., aku mencintaimu Masnia putri Pratiwi." Teriak Arifin sambil menggendong Nia dan berputar putra di Tengah taman sehingga membuat para penghuni taman ikut tertawa lucu.
"Dasar bucin." Kata salah satu pengunjung taman.
"Arifin stop" Nia yang menyadari mereka menjadi tontonan orang orang di taman langsung menepuk lengan Arifin.
"Tidak, .... biar akan aku menikmati sore yang sangat membahagiakan ini. " Arifin mengecup singkat pipi Nia membuat wanita itu malu dan menyembunyikan wajah nya di dada pria itu.
"Malam minggu ini aku akan mengajak mama papa dan bunda untuk melamar mu, dan kau bisa mengatakan nya pada orang tua mu." Ucap Arifin kemudian.
"Ma.. malam minggu, apa gak terlalu cepat." Tanya Nia kaget.
"Tidak sayang, aku tak ingin menunda lagi, usia ku sudah 23 tahun, dan sudah siap untuk menikah, aku tak ingin berjauhan dari mu, aku ingin kita memulai kehidupan baru kita di kota." Arifin menatap Nia penuh keyakinan.
"Baiklah, jika itu keinginan mu." Nia menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Arifin sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
Seminggu kemudian Arifin dan Nia menikah dengan acara sederhana, bukan karena Arifin tidak mampu untuk membuat pesta yang mewah, tapi ini adalah permintaan Masnia, ia merasa sayang menghamburkan uang hanya untuk sebuah pesta, lebih baik ia menyimpan uang itu sebagai modal untuk mereka memulai sebuah usaha.
__ADS_1
Ayah Arifin sebenarnya sangat menyayangkan pilihan putranya itu untuk menikah muda, karena ia ingin putra nya itu melanjutkan pendidikan S2 nya, agar bisa menggantikan nya untuk memimpin perusahaan, namun karena ia dan Arifin tidak terlalu dekat jadi ia pun tak bisa memaksakan kehendak nya pada putra satu satunya itu.
Apa lagi Arifin lebih memilih bekerja di sebuah Bank swasta dari pada bekerja di perusahaan milik nya, Beruntung sang anak Tiri mau membantunya di perusahaan. Sehingga pria itu tak begitu merasa sedih.